Angkringan Manggar: Sosok Paradoksal Dunia Virtual

Abdul Aziz Rasjid
http://cetak.kompas.com/7 April 2009

Manggar, bukanlah tokoh epik sekaligus tragik. Dipandang dari berbagai segi manapun, ia tak memenuhi syarat untuk itu: lelaki rupawan, cerdas, bangsawan namun bersifat pemberontak, penuh cita-cita kebebasan dan di sisi yang lain romantis, pemberani, juga diliputi pertanyaan dan kekecewaan pada kehidupan.

Manggar —bapak dari gadis kecil yang belum lagi bersekolah— hanyalah pedagang angkringan asal kota Klaten, Jawa Tengah. Dari pukul lima sore sampai dua pagi, ia memperjuangkan keberlangsungan hidup keluarganya dengan menjual makanan dan minuman tradisional di pinggiran kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) —Karesidenan Banyumas. Continue reading “Angkringan Manggar: Sosok Paradoksal Dunia Virtual”

Tanggap Sasmita, Cilacap Peduli Sastra

Abdul Aziz Rasjid
Kedaulatan Rakyat, 8 Agustus 2010

Tanggal 28 Juli 2010 lalu, telah diterbitkan sebuah antologi puisi bertajuk Rasa Rumangsa Tanggap Sasmita oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cilacap. Antologi puisi ini memuat 29 puisi dari 6 penyair muda Cilacap, yaitu Abdulloh Amir (Sampang), Eko Triono (Adipala), Hizi Firmansyah (Majenang), IH. Antassalam (Wanareja), Rudiana Ade Ginanjar (Cipari) dan Wachyu Pras (Kroya), dan diluncurkan sebagai bagian dari agenda Pesta Pro Sastra dalam rangka “Gelar Seni Budaya Kabupaten Cilacap Tahun 2010? di ruang Masigit Sela Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cilacap. Continue reading “Tanggap Sasmita, Cilacap Peduli Sastra”

Mengkaji Gerakan Sastra ?Horison?

Abdul Aziz Rasjid
http://www.lampungpost.com/

Taufiq Ismail pernah merasa bahwa dirinya bersama puluhan anak SMA lain seangkatannya di seluruh Tanah Air telah menjadi generasi nol buku yang rabun membaca dan pincang mengarang. Istilah nol buku menerangkan pada kala itu mereka tidak mendapat tugas membaca melalui perpustakaan sekolah sehingga mereka menjadi rabun membaca. Sedangkan istilah pincang mengarang diakibatkan tidak adanya latihan mengarang dalam pelajaran di sekolah. Continue reading “Mengkaji Gerakan Sastra ?Horison?”

Sastra untuk Orientasi Bangsa

Abdul Aziz Rasjid*
http://www.lampungpost.com/

Orang Barat di dalam diriku telah membusuk
–Joseph Conrad, Under Western Eyes

KETIKA pihak kolonial sibuk menentukan peta geografis, geopolitis, geoekonomi, juga geokultural dengan cara membagi wilayah-wilayah kawasan Hindia-Belanda berdasarkan kepentingannya dengan mengabaikan realita sosial, politik, bahasa, adat yang mengakar di suatu wilayah; hadir roman Max Havelaar karya Multatuli, nama pena seorang asisten residen bernama Doewes Dekker. Continue reading “Sastra untuk Orientasi Bangsa”

Ragam Ekologi Sastra

Abdul Aziz Rasjid
http://www.lampungpost.com/

DENGAN adanya ragam ekologi yang bergeser dari penguasaan laut, ditembusnya desa, pembangunan kota yang melibatkan kontradiksi lembaga militer, agama sampai instansi pendidikan dan birokrasi politik; pada akhirnya, ragam ekologi sastra dapat dibaca sebagai bagian pembacaan kritis terhadap alur perkembangan konteks sosial historis bangsa pada suatu masa.

Dalam buku bertajuk Sastra Hindia Belanda dan Kita (Balai Pustaka: 1983) yang ditulis Subagio Sastrowardoyo dijelaskan bahwa terjadi pengulangan pola cerita desa di dalam sastra Hindia Belanda, sastra Melayu Modern, dan sastra Balai Pustaka. Continue reading “Ragam Ekologi Sastra”

Bahasa »