Abdul Aziz Rasjid
http://cetak.kompas.com/7 April 2009
Manggar, bukanlah tokoh epik sekaligus tragik. Dipandang dari berbagai segi manapun, ia tak memenuhi syarat untuk itu: lelaki rupawan, cerdas, bangsawan namun bersifat pemberontak, penuh cita-cita kebebasan dan di sisi yang lain romantis, pemberani, juga diliputi pertanyaan dan kekecewaan pada kehidupan.
Manggar —bapak dari gadis kecil yang belum lagi bersekolah— hanyalah pedagang angkringan asal kota Klaten, Jawa Tengah. Dari pukul lima sore sampai dua pagi, ia memperjuangkan keberlangsungan hidup keluarganya dengan menjual makanan dan minuman tradisional di pinggiran kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) —Karesidenan Banyumas. Continue reading “Angkringan Manggar: Sosok Paradoksal Dunia Virtual”
