Rendra: “Semuanya Tersenyum dan Melambaikan Tangan Kepadaku”

Abdul Aziz Rasjid
Suara Karya, 15 Agus 2009

Rendra adalah usia dan nafas panjang, begitulah Binhad Nurrohmat mengawali esai yang berjudul “Dari Perempuan Hingga Kekuasaan” dalam buku Membaca Kepenyairan Rendra (KEPEL, 2005). Namun, Kamis malam, 6 Agustus 2009 tepatnya pukul 22.15, kabar duka kita terima; Willybordus Surendra meninggal dunia, Bagi saya pribadi, berita itu menyentakkan hati dan saya kira bukan hanya keluarga besar Rendra saja yang sedang diliputi duka. Continue reading “Rendra: “Semuanya Tersenyum dan Melambaikan Tangan Kepadaku””

Menakar Puisi “Kamboja Bergoyang Seusai Pemakaman”

— Sebuah Puisi Edi Romadhon—
Abdul Aziz Rasjid

Juli tahun 2009 ini, usianya terhitung limapuluh tahun lebih tiga bulan. Sedang sebagai penyair —jika ditilik dari antologi puisinya yang pertama: Antologi Lingkaran Kosong (IKIP Yogyakarta, 1981)— usia kepenyairannya terhitung duapuluh delapan tahun. Sebuah perjalanan kepenyairan yang tak dapat dikatakan pendek, sebab telah ia tempuh lebih dari separuh usia kehidupannya. Continue reading “Menakar Puisi “Kamboja Bergoyang Seusai Pemakaman””

Identitas Lokal dalam Teks-Teks Sastra

Abdul Aziz Rasjid
http://www.lampungpost.com/

DALAM deru gelombang globalisasi yang tiada henti, penciptaan kebudayaan masyarakat rentan untuk mengalami penyeragaman identitas sosial. Di peradaban kini kecanggihan teknologi media dan informasi telah difungsikan sedemikian rupa sebagai ruang untuk memperkenalkan sekaligus mengemas tawaran-tawaran berupa imaji-imaji kemakmuran dalam bentuk benda-benda yang mengusung nilai tanda–mendongkrak derajat/status sosial sebelum ditransaksikan pada masyarakat. Continue reading “Identitas Lokal dalam Teks-Teks Sastra”

Bahasa »