Posted by PuJa on May 2, 2012
Abdul Aziz Rasjid __Jawa Pos, 11 Maret 2012 Kematian ibunya adalah puncak dari segala duka, dan ia pun percaya tak ada kesedihan lain yang dapat menandingi kesedihan kehilangan seorang ibu. Dalam sebuah catatan yang ia tulis di sebuah kafe di sudut kota Seoul, Korea Selatan; ia yang merasa kesepian mengingat kembali bahwa sebagian dera kehilangan [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 13, 2011
Abdul Aziz Rasjid Koran Merapi, 13 Nov 2011 Saya tak ingat tanggalnya persis, kira-kira dipertengahan tahun 2005, saya menemani seorang teman yang bergiat di Teater Perisai Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) berkunjung ke tempat tinggal seorang pawang hujan. Nama pawang itu Mas’ut. Dia tinggal di area pertokoan getuk goreng H. Tohirin daerah Sokaraja, Banyumas.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 26, 2011
Abdul Aziz Rasjid Koran Merapi. 25 Sep 2011 Antologi sastra, sebagaimana dijelaskan oleh Hary Aveling dalam buku bertajuk Secrets Need Words, Indonesian Poetry, 1966-1998 (2001) adalah bentuk khusus dari genre sastra. Antologi biasanya disusun menurut prinsip yang dipilih atau ditemukan oleh sang antologis dimana dasar seleksi teks bisa sangat beragam.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on August 26, 2011
Catatan kecil setelah membaca novel Tembang Tolak Bala Abdul Aziz Rasjid Mutu penginderaan manusia memiliki batas untuk mempersepsi segala hal di lingkungan sekitarnya. Tetapi, dalam aktivitas sehari-hari, ada peristiwa-peristiwa tertentu yang tetap direaksi oleh indera lalu diterjemahkan oleh pikiran namun tak kita sadari. Peristiwa itu disebut oleh Carl Gustav Jung dalam bukunya yang bertajuk Man [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on March 25, 2011
Abdul Aziz Rasjid Suara Merdeka, 26 Juni 2010. KAFE sering diidentikkan sebagai tempat hiburan yang berkaitan dengan pola rekreasi yang mewakili gaya hidup masyarakat urban. Kini, di sebagian jalan-jalan pusat kota dan juga dekat area kampus di Purwokerto menjamur kafe. Tawaran berbagai fasilitas —dari pertunjukkan bola, balap mobil atau motor, hotspot, musik akustik dan sebagainya— [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on March 20, 2011
Abdul Aziz Rasjid Satu Setiap pagi juga senjahari, dengan menghisap rokok yang asapnya berbaur dengan aroma kopi Yamani, Gibran Kahlil Gibran —mungkin mengenakan jubah panjang yang lebar dengan noda-noda tinta berbagai warna— melamun seorang diri di dalam kamar yang sudah diubahnya menjadi semacam kubu dimana objek-objek yang dirindukannya dan direnunginya hadir dalam bentuk pembayangan-pembayangan.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on March 12, 2011
Abdul Aziz Rasjid Malang Post, 25 Juli 2009 Ternyata kemerdekaan itu milik anak-anak. ternyata merdeka itu adalah anak-anak dari segala sudut dunia — Wahyu Prasetya, Bendera Anak-anak (1990/1991) Penyair punya kebebasan dalam mencipta puisi sebagai hasil kreasi. Penyair boleh menumpahkan emosi di antara situasi yang sedang ia alami, membayangkan dunia ideal yang diidamkannya setelah ia [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on March 4, 2011
Abdul Aziz Rasjid Tulisan ini adalah tanggapan atas sebuah perrnyataan dan pertanyaan pendek saya di facebook, 16 juni 2010 jam 20:36. Isinya sebagai berikut: Dua tahun lalu saya menemukan catatan dokumentasi kegiatan sastra di Banyumas di tumpukan majalah toko buku loak, judulnya “Kancah Budaya Merdeka” (HORISON/O7/XXIX/66). Membaca catatan itu seperti mengantarkan saya pada geliat kegiatan [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on February 25, 2011
Abdul Aziz Rasjid Bulletin Sastra Pawon edisi 29 III/2010 Lewat tengah hari, 21 Maret 1868, Kapten Nemo menggelar bendera hitam bertuliskan huruf emas N yang terputus–putus di atas kain tipis. Dia, lalu berpaling ke arah matahari yang mengirimkan sinar terakhirnya menjilati laut. Di Kutub Selatan, Kapten yang penuh teka-teki itu berdiri di puncak medan yang [...]
Filed under: Esai