Tag Archives: Abdul Aziz Rasjid

Sastra yang Menumpang pada Bibir & Tubuh

Abdul Aziz Rasjid
_Minggu Pagi, No 09 TH 65, I Juni 2012

Sejak awal, Wage Tegoeh Wijono menarik perhatian saya dengan kepiawaiannya melakukan pembacaan teks sastra di atas panggung. Ia pandai memadukan beragam elemen artistik: mulai dari pertautan emosi dan pesan teks, memadukan warna-warna vokal sampai kemungkinan gerak di antara sorot cahaya lampu dan properties panggung.

Puisi & Air Mata Penyair

Abdul Aziz Rasjid
__Jawa Pos, 11 Maret 2012

Kematian ibunya adalah puncak dari segala duka, dan ia pun percaya tak ada kesedihan lain yang dapat menandingi kesedihan kehilangan seorang ibu. Dalam sebuah catatan yang ia tulis di sebuah kafe di sudut kota Seoul, Korea Selatan; ia yang merasa kesepian mengingat kembali bahwa sebagian dera kehilangan itu telah ia tumpahkan ke atas lembar-lembar catatan dalam bentuk puisi. Salah satunya berjudul “Mengusung Keranda” yang ditulis ringkas namun sarat air mata: Ibu, Tubuhku airmata. Nestapaku sempurna.

Religiusitas Alam Penyair Mas’ut

Abdul Aziz Rasjid
Koran Merapi, 13 Nov 2011

Saya tak ingat tanggalnya persis, kira-kira dipertengahan tahun 2005, saya menemani seorang teman yang bergiat di Teater Perisai Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) berkunjung ke tempat tinggal seorang pawang hujan. Nama pawang itu Mas’ut. Dia tinggal di area pertokoan getuk goreng H. Tohirin daerah Sokaraja, Banyumas.

Antologi Sastra dan Lembaga Produksi

Abdul Aziz Rasjid
Koran Merapi. 25 Sep 2011

Antologi sastra, sebagaimana dijelaskan oleh Hary Aveling dalam buku bertajuk Secrets Need Words, Indonesian Poetry, 1966-1998 (2001) adalah bentuk khusus dari genre sastra. Antologi biasanya disusun menurut prinsip yang dipilih atau ditemukan oleh sang antologis dimana dasar seleksi teks bisa sangat beragam.

Novel yang Mengurai Peristiwa Subliminal

Catatan kecil setelah membaca novel Tembang Tolak Bala
Abdul Aziz Rasjid

Mutu penginderaan manusia memiliki batas untuk mempersepsi segala hal di lingkungan sekitarnya. Tetapi, dalam aktivitas sehari-hari, ada peristiwa-peristiwa tertentu yang tetap direaksi oleh indera lalu diterjemahkan oleh pikiran namun tak kita sadari. Peristiwa itu disebut oleh Carl Gustav Jung dalam bukunya yang bertajuk Man and His Symbols sebagai peristiwa subliminal, atau peristiwa yang diserap ke lapisan bawah dari ambang kesadaran.