RUANG TUNGGU

Abdullah Khusairi
kendaripos.co.id

Selangkah lagi cita-citaku untuk melanjutkan kuliah S-2 tercapai. Beasiswa dari Laiden itu jawaban pasti dari gelora di dada selama ini. Semua seperti sudah di depan mata. Tak lagi aku perlu berangan-angan dari waktu ke waktu seperti Pungguk yang terus merindukan bulan.

??Mak, aku dapat beasiswa kuliah S-2 dan mungkin juga S-3 di Belanda.?? Aku kirim pesan pendek ke handphone adikku, Rai, di Sawahlunto. Aku yakin akan disampaikannya kepada emak. Continue reading “RUANG TUNGGU”

Jejak Ditam

Abdullah Khusairi*
http://www.jawapos.co.id/

INILAH malam yang sangat runcing bagi Ditam. Menusuk hulu jantung menembus sukma. Mengalirkan darah dan resah. Malam juga mendenging bersama suara jangkrik. Ditingkahi dengkur suaminya yang sedang lelap tanpa mimpi. Dalam remang kamar, ia melihat wajah laki-laki itu sangatlah lelah. Maklum setelah seharian tadi bekerja sebagai kuli bangunan.

Bulan disimpan awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Ditam berusaha berdiri di keremangan kamar. Betapa yakin hatinya, laki-laki itu takkan terjaga. Continue reading “Jejak Ditam”

Terompet Jam Gadang

Abdullah Khusairi*
http://www.jawapos.com/

RINDU pada kota ini harus dituntaskan hingga tahun baru tiba. Telah menebal rinduku tersusun. Satu tahun memang tak lama, waktu begitu cepat melipat kenangan.

Jingga mulai jatuh satu-satu. Malam beringsut. Ini malam tahun baru. Terompet dijual di kaki lima. Sedari tadi telah menyalak di mana-mana. Seperti tiada jeda untuk menghela napas. Anak-anak, orang dewasa, meniupnya tanpa peduli apa pun. Pesta menuju tahun baru telah dimulai. Continue reading “Terompet Jam Gadang”

Ibu Minang

Abdullah Khusairi*
http://www.jawapos.com/

Kabar itu selalu diiringi hujan badai yang amat lebat berhias kilat dan petir. Semacam penguburan tumbal pada bukit-bukit yang dikeruk perutnya. Tapi mereka yang masih selamat seperti tak punya jera.
***

Ia seorang guru di nagari1 kami. Guru yang cantik dan rupawan. Semua orang sayang dan kagum kepadanya. Begitu pun aku. Sebab ia seperti perawan-perawan berjilbab modis di sinetron-sinetron televisi. Ramah, anggun, dan pintar pula. Lengkaplah sudah semua yang diimpikan laki-laki! Continue reading “Ibu Minang”

Gerimis Senja di Jendela

Abdullah Khusairi
http://www.jawapos.com/

Kau tandai malam itu di dadaku. Hingga membekas dan terasa sampai kini. Maka rindu ini kian rindang saja. Rindang tak berbuah. Pun seorang, tak ada yang tahu tentang itu selain aku. Dan malam-malam aku mengisahkan sendiri bagaimana getar-getar jiwa menyatu malam itu.

Aku menulis sisa-sisa dari hidup yang pernah terbingkai bersamamu. Bingkai yang kecil. Kecil sekali. Tak patut disebut sejarah bagi siapa saja, apalagi bagi negeri ini. Continue reading “Gerimis Senja di Jendela”