Terompet Jam Gadang

Abdullah Khusairi*
http://www.jawapos.com/

RINDU pada kota ini harus dituntaskan hingga tahun baru tiba. Telah menebal rinduku tersusun. Satu tahun memang tak lama, waktu begitu cepat melipat kenangan.

Jingga mulai jatuh satu-satu. Malam beringsut. Ini malam tahun baru. Terompet dijual di kaki lima. Sedari tadi telah menyalak di mana-mana. Seperti tiada jeda untuk menghela napas. Anak-anak, orang dewasa, meniupnya tanpa peduli apa pun. Pesta menuju tahun baru telah dimulai.

Simpang Kantin sudah ramai. Musik dari sebuah pentas hiburan terdengar hingar-bingar. Aku memarkirkan kendaraan di tempat yang sudah sangat akrab. Telah biasa kulakukan sejak masih remaja dulu.

Senja mengatap Kota Bukittinggi yang sejuk. Aku belum mau mencari tempat duduk. Masih ingin mengitari kota ini semampu kakiku.

Aku menyukai Jam Gadang karena lahir dan dibesarkan di kota sejuk ini. Seperti orang-orang Milwaukee, Amerika Serikat, mencintai menara jam Allen-Bradley. Seperti orang-orang Mumbai, India, mencintai menara jam Rajabai. Dan, seperti orang-orang mengenal Big Ben, menara jam di Westminster, Inggris Raya, itu.

Menara jam, penunjuk waktu, detik yang berlalu, pendulum yang bergerak, adalah pertanda penting. Walau sering dianggap tidak penting, aku selalu memikirkannya akhir-akhir ini. Sebab, betapa cepat waktu berlalu selalu melipat kenangan, sedangkan masa depan datang bagai pedang. Aku belajar menghargai waktu, namun kadang juga aku tak mampu melawan waktu berlalu. Aku sering kalah dengan waktu.

***

Berjalan sendirian memang rawan. Tetapi aku perempuan yang tak peduli itu. Dari dulu punya keyakinan sebagai perempuan pemberani. Setidaknya, itu menurutku. Lebih-lebih ini kampung halaman sendiri. Apa salahnya. Dan aku memang sedang ingin sendiri, tak mau ikut bersama sanak saudara yang juga sudah punya jadwal tahun baru berbeda-beda.

Menyambut tahun baru kali ini ada sedikit kecewa. Jam Gadang diselimuti kain berwarna hitam, kuning, dan merah. Seperti bendera Jerman. Tidak kelihatan angka Romawi yang unik pada muka Jam Gadang itu. Angka Romawi ”IV” sebagai angka empat, di sini ditulis dengan ”IIII”. Soal ini aku pernah bertanya kepada guru sekolah dasar dulu, tapi ia tak mau menjawabnya. Heran. Membiarkan keunikan menjadi misteri yang tak perlu jawaban adalah sebuah kenikmatan dalam bentuk lain.

***

Setiap tahun baru aku selalu kembali ke pangkuan kota ini. Pulang kampung. Sekadar melepas penat setelah satu tahun bertugas. Aku selalu menjadwalkan perjalanan. Sendirian. Menghilang dari peredaran. Suasana kantor, masalah pekerjaan, diusahakan untuk melupakannya. Begitulah, jika punya keinginan untuk kembali ke kota kelahiran. Seperti ada sesuatu yang menarik untuk mengajak pulang. Biar tak ada lagi ayah dan ibu, aku tetap kembali. Sebab, masih banyak saudara-saudara, kaum kerabat, yang masih tinggal di sini. Apalagi kerinduan terhadap bocah-bocah, keponakanku, selalu menggoda, mengajak pulang.

”Tante Diana datang, tante Diana datang,” begitu mereka bersorak. Demikianlah mereka yang lugu menatapku penuh harapan.

***

Lima tahun lalu aku menikmati malam tahun baru berdua dengan seorang laki-laki. Laki-laki yang pernah singgah di belahan hati. Dia berasal dari sebuah kota yang tak punya menara jam. Tetapi, di tahun baru Islam, kotanya selalu meriah dengan atraksi Tabuik. Sebuah tradisi dari kaum Syiah Iran yang mendukung kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib. Kaum yang mencintai Hasan dan Husen, putra Ali Bin Abi Thalib. Selebih itu aku tak mengerti prosesi budaya Tabuik. Yang aku tahu, satu kali ikut di dalam perayaan masal itu, membuat aku mengenal laut dari dekat. Laut kadang menyimpan dendam. Dendam tak sudah.

Empat tahun lalu kami berpisah. Berpisah ketika cawan sudah berada di tepi bibir. Saat semua serasa telah direguk pasti, tiba-tiba cawan lepas dan pecah berantakan. Jalan kami bersimpang nasib. Jalan buntu dari perundingan adat dan budaya yang dipahami kaum kerabat kedua belah pihak. Adat dan budaya yang dipisah oleh gunung.

Seperti garis asimtot. Dua garis yang tak pernah ditakdirkan bertemu, apalagi memotong garis sumbu. Begitulah kami akhirnya.

Keluarganya mengharapkan keluargaku yang melamar. ”Memang begitu. Dalam adat keluargaku, perempuan yang melamar,” penjelasan yang awalnya sangat aneh terasa. Tapi itulah kenyataannya.

Sedangkan keluargaku bertahan pada prinsip, perempuanlah yang dilamar. ”Keluarga kita saling bertahan di garis kebenaran masing-masing. Kita tampaknya tidak bisa meneruskan langkah selanjutnya,” ungkapan jauh lebih dahsyat dari lengking terompet malam ini. Memecah gendang takdir harap.

Seluruh istana impian yang dibangun, berantakan! Dan kami ternyata tidak berani mengambil keputusan apa pun untuk menyelamatkan istana itu. Semua berlalu dengan pahit. Di simpang jalan kami berpisah.

Kini, puing-puing itu masih berantakan. Terbiarkan begitu saja. Hingga malam ini aku kembali ke sini, sendiri, tanpa harus seperti beberapa tahun silam. Aku tak mengubur kenangan itu, membiarkannya menganga didera hujan, angin, dingin, panas, dan seterusnya digerus waktu. Seperti Menhir yang berantakan di Luhak Lima Puluh Kota sana.

***

Lima tahun lalu kami meniup terompet sepuas-puasnya, berdua saja di tengah gemuruh lengking terompet malam tahun baru. Sepanjang malam menuntaskan seluruh keindahan tahun baru. Sejak senja berarak pulang hingga pagi meniti tahun yang masih berseri.

Malam ini, lengking itu terasa lain. Kecewa pada bangunan tua yang terbungkus kain itu makin terasa menikam. Jika aku menjadi pendiri Jam Gadang layaknya Yazid Sutan Gigi Ameh, aku akan marah besar. Apalagi menara jam yang didirikan ini adalah hadiah dari Ratu Belanda kepada Sekretaris Kota (Controleur) Bukittinggi Rook Maker pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dulu. Bukankah Jam Gadang sebuah bangunan paling megah setelah didirikan 1926? Sekarang, sudah banyak bangunan lain yang menenggelamkannya. Dulu, sepanjang tahun, Jam Gadang termegah dapat dilihat dari mana pun. Dan bukanlah dana yang sedikit, 3.000 Gulden, untuk membangun menara penunjuk waktu itu. Apalagi pada masa di mana tanah ini dijajah. Lihatlah hasilnya, di atas bukit, dengan tinggi 26 meter, Jam Gadang tak sedikit pun memperlihatkan keangkuhan. Ia anggun dan bermarwah.

***

Jam Gadang diselimuti dengan kain, karena ada yang tak merestui tahun baru berlalu di sini. Sebuah sikap aneh di tengah arus wisata yang terus digalakkan. Katanya, tak merestui kota ini jadi kota maksiat. Ah, maksiat, apa bisa dicegah dengan menutup Jam Gadang? Buktinya, setiap tahun baru datang, pengunjung kota tetap tiba dari berbagai kota untuk menikmati pergantian tahun. Maksiat pada dasarnya keluar bukan karena tempat, tapi karena niat orang untuk melakukannya. Dan itu bisa dilakukan di mana saja. Entahlah!

***

Aku tetap mencoba untuk melawan hawa dingin malam. Terompetku masih di tangan. Belum ada kekuatan untuk meniupnya. Aku berencana untuk meniupkannya di sebuah tempat, sebuah sudut, di mana aku pernah berdua dengan seorang lelaki. Dan aku akan membayangkan lelaki itu ada di sampingku. Aku setidaknya mampu membahagiakan diri sendiri dengan itu. Sebentar lagi, tempat yang aku tuju itu akan sampai.

Menatap Jam Gadang yang berselimut itu, aku mengingat banyak sejarah menara jam di jantung kota. Ingat Kerajaan Saudi Arabia yang akan mendirikan menara jam di Masjidil Haram. Masjid yang dikunjungi setiap tahun oleh umat muslim untuk menunaikan ibadah haji. Diam-diam aku mendoakan, semoga itu terkabul. Betapa indahnya setiap tahun bisa ke sana, seperti layaknya ketika aku menetapkan tahun baru selalu pulang ke Bukittinggi. Duh, begitu dahsyat terjadi, jika setiap tahun bisa pergi ke Tanah Suci untuk merayakan tahun baru. Lebih-lebih kalau benar-benar menunaikan ibadah haji.

”Menara jam di Masjidil Haram itu akan mengalahkan menara jam Allen-Bradley, Amerika Serikat, menara termegah di dunia saat ini,” begitu aku mendengar sebuah berita.

Aku heran juga, ternyata antarkota selalu punya ambisi untuk saling meninggi, saling mengalahkan. Ingat Twin Towers di Kuala Lumpur, beberapa tahun lalu pernah aku naiki. Juga Monumen Nasional di Jakarta. Tapi, kenapa di sini justru Jam Gadang diselimuti? Apakah dengan begitu bisa menahan laju hasrat manusia untuk berbuat maksiat? Heran.

***

Lengking terompet makin tinggi. Aku sampai pada sisi yang paling aku suka melihat Jam Gadang. Orang-orang menanti dentang pertama tahun baru. Arena hiburan mulai menghitung detik demi detik. Aku berdiri terkesima menghadap Jam Gadang. Membayangkan di sebelahku ada seseorang yang sedang melingkarkan tangannya ke bahuku. Tangan yang kekar. Menjemput semua bayangan masa lalu. Lalu menoleh ke samping. Dan aku terperangah, dengan jelas mataku menangkap sepasang anak Adam yang sedang bermesraan. Laki-laki itu, sulit untuk dipercaya. Ternyata…

***

Lengking terompet! Gemuruh musik! Meniadakan keheningan. Tak ada renungan. Pesta tahun baru makin meriah. Orang-orang berpasangan. Bertepuk tangan. Duduk berdua. Bergerombolan. Duduk bersama-sama. Melingkar. Duduk bebas. Tak beraturan. Melompat-lompat. Berlari. Tawa mereka lepas. Malam benar-benar mereka lumat sampai pagi.

Gemuruh di dada makin meyakini tentang dia. Dialah yang pernah menggandeng tanganku! Seseorang yang mampu membuat aku merasakan sebagai perempuan.

Mujurlah mereka tak memperhatikan aku yang tolol menikmati kehangatan yang mereka lakoni. Cepat-cepat aku berlari di antara kerumunan. Menerabas keramaian. Sekencang-kencangnya. Tak peduli dengan orang-orang yang hampir tertabrak. Mereka mengelak sekenanya. Begitu jauh tempat parkir itu terasa. Habis napas sesak, terompet lepas dari tangan.

Betapa malu dan tak punya harga dirinya aku, jika mereka tahu aku sedang menikmati dengan cemburu yang berkobar pada dingin malam. Mereka berpelukan hangat menunggu dentang Jam Gadang yang berselimut kain.

Keseimbanganku hilang. Lariku mengambang. Terus mendekatkan ke tempat parkir diiringi irama terompet tahun baru sahut-menyahut. Lama-lama suara terompet mengecil dan lindap. Aku merasakan sedang melayang-layang. Aku tak menjejak tanah lagi. Dan di depanku, aku melihat Jam Gadang, Rumah Gadang, di tengah kegelapan. Samar-samar. Aku berhenti dan terkejut. Dentum kembang api tahun baru membahana, mengalahkan terompet-terompet yang ditiupkan sejak senja berangkat pulang.

Di udara, aku melihat kembang api indah, letupan dahsyat, gemuruh tepuk tangan, lengking terompet. Begitu utuh semuanya menggenapkan gemuruh kebencian hatiku. Memecah hatiku yang telah luluh lantak beberapa menit sebelumnya. Aku tak sadar, pada lengking yang mana, tahun baru tiba. ***

Balaibaru, 19 Desember 2008-Oktober 2009

*) Lahir di pedalaman Sumatera. Magister Filsafat Islam IAIN Imam Bonjol Padang. Tulisan dalam bentuk reportase, esai, puisi, cerpen, tercecer di media nasional dan lokal. Menetap di Padang, sebagai tukang kata, menunggu kabar dari penerbit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *