Bukan Sebuah Mimpi Buruk

Lan Fang *
jawapos.co.id

SELAMA pesantren-pesantren kecil di kampung dengan kiai-kiainya yang bersahaja itu masih ada dan terus berkiprah di tengah masyarakat, rasanya NU akan baik-baik saja. Rasanya tak akan terjadi apa-apa dengan NU. Menurut saya, merekalah yang selama ini mempertahankan dan menjaga kehormatan NU. Merekalah yang selama ini menjalankan peran NU sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang sebenarnya, justru ketika para petingginya sibuk menjadi selebritis, sibuk berebut jabatan dan proyek, sibuk menjajakan NU sebagai komoditas politik dan ekonomi, sibuk menjadi broker, jurkam, atau tim sukses. Continue reading “Bukan Sebuah Mimpi Buruk”

Memetik hikmah dari puisi-puisi transendental, karya Moh. Gufron Chalid

Imron Tohari

“Sastra adalah jalan keempat untuk mencari kebenaran, setelah agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan.” (Teeuw)

Seperti yang dikatakan Teeuw di atas, seperti itulah yang saya temukan pada sajak-sajak Moh. Gufron Chalid yang terkumpul pada 17 sajak pilihan, yang di inbokkan ke saya untuk saya pelajari.

Setelah menelusuri setiap detak nafas sajak-sajak tadi, di sana saya dapat merasakan bagaimana penyair dalam menjalani proses pencarian jalan kebenaran melalui medium sastera. Continue reading “Memetik hikmah dari puisi-puisi transendental, karya Moh. Gufron Chalid”

Acep Zamzam Noor: Gairah Sunyi Mencari Arti Abadi

Bandung Mawardi *
lampungpost.com

AMIR Hamzah menjadi penyair awal yang fasih menuliskan sunyi dalam religiositas dan kisah cinta. Buku puisi Nyanyi Sunyi (1935) adalah babak penting dalam perpuisian Indonesia modern yang intens mengisahkan sunyi.

Amir Hamzah menuliskan pengertian: Sunyi itu duka/Sunyi itu kudus/Sunyi itu lupa/Sunyi itu lampus. Continue reading “Acep Zamzam Noor: Gairah Sunyi Mencari Arti Abadi”

Sajak-Sajak Acep Zamzam Noor

cetak.kompas.com

Bagian dari Kegembiraan

1
Jalan di belakang stadion itu sudah lama tidak kulewati
Mungkin madrasah yang dibangun persis depan kamarmu
Sekarang sudah rampung. Aku teringat pohon beringin
Yang berdiri anggun dekat taman kanak-kanak dan pos ronda
Setiap pulang mengantarmu aku sering kencing di sulur-sulurnya
Yang rimbun. Sepi terasa menyayat jika kebetulan lewat:
Ingin sekali minum jamu kuat, tapi kios yang biasa kita kunjungi
Sudah tidak nampak di sana Continue reading “Sajak-Sajak Acep Zamzam Noor”

Sajak-Sajak Acep Zamzam Noor

kompas.com

Sungai dan Muara

Kesepian telah meyakinkan kita
Bahwa setiap sudut bumi menyimpan sisi gelap
Yang berbeda. Dari getar tanganmu aku dapat meraba
Musim dingin tak pernah memadamkan matahari sepenuhnya
Sedang dari mataku kau melihat hujan segera menyusut
Lalu kita berpelukan seperti dua musim yang bertemu
Dalam kesepian yang sama. Kita menyalakan tungku di kamar
Sambil membakar seluruh pakaian dan keyakinan kita Continue reading “Sajak-Sajak Acep Zamzam Noor”

Bahasa ยป