Kota yang Tenggelam dalam Seribu Karangan Bunga

Afrizal Malna*
Kompas, 13 Juli 2008

SELAMAT tinggal kedaerahan… Selamat tinggal lelaki dan perempuan…
Selamat tinggal ”nasionalisme sastra” yang terperangkap dalam masalah-masalahnya sendiri.

Kita bukan lagi suku-suku, kita adalah manusia. Kita bukan lagi lelaki dan perempuan, kita adalah manusia. Suatu hari nanti, dan kalau lebih bergegas lagi, sekarang juga: selamat tinggal tradisi, kalau globalisasi begitu mencemaskan kita. Continue reading “Kota yang Tenggelam dalam Seribu Karangan Bunga”

Kuasa Kata di Atas Viaduct

Afrizal Malna
Pikiran Rakyat, 27 Juni 2009

DUA kali saya membaca buku kumpulan puisi Di Atas Viaduct (Bandung dalam Puisi Indonesia). Dari dua kali membaca buku itu, saya merasa setelah melampaui 250 halaman, pembacaan saya terasa mulai rusak atau saya mulai berubah menjadi “pembaca yang rusak” setelah 250 halaman. Saya merasa nyaman membaca puisi di bawah seratus puisi, lebih dari itu rasanya ada kereta yang berantakan dalam diri saya. Kereta bahasa yang kehilangan sensitivitasnya, kata-kata gagal berada dalam sintaksisnya, dan pemaknaan dilumpuhkan. Continue reading “Kuasa Kata di Atas Viaduct”

Sejarah dalam Kulit Bawang

Afrizal Malna
majalah.tempointeraktif.com

Pada awal 1980-an demonstrasi perdamaian marak di Jerman. Warga menentang keputusan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang menerima penempatan 572 misil Pershing II Amerika Serikat di lima negara Eropa Barat. Tak tanggung-tanggung, Heinrich Boll dan Gunter Grass (keduanya pemenang Nobel Sastra) ikut turun ke jalan. Dua Nobelis ini berpidato tentang tanggung jawab moral Jerman sebagai penyebab pecahnya dua perang dunia. Continue reading “Sejarah dalam Kulit Bawang”

Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna

Acep Iwan Saidi
cetak.kompas.com

BAHASA selalu merupakan hubungan antara penanda (”signifier”) dan petanda (”signified”). Tidak ada kaitan antara kata (bahasa) dan realitas di luar dirinya. Kata-kata diletakkan pada struktur (sistem) dan membangun makna karena relasinya dengan kata lain. Ini berarti strukturlah yang penting, bukan kata itu sendiri. Continue reading “Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna”

Bahasa »