SATU SEGI DARI DEBAT BUDAYA ANTARA MANIKEBU DAN LEKRA

Dari Notes Belajar Seorang Awam: [Catatan Untuk Aguk Irawan Mn]
JJ. Kusni
http://sanggarbebas.blogspot.com

Dalam artikel yang sangat menarik berjudul “Menuju Kebudayaan Baru Itu Meniru Barat” yang diturunkan oleh Harian Sinar Harapan, Jakarta, pada tanggal 17 Juli 2004, Aguk Irawan antara lain menulis:

“Di saat gelombang perdebatan Manikebu Vs Lekra bertemu di puncak yang sangat sengit (1950-1965), Mesir juga mengalami persengketaan yang meluap dan tak kalah sengitnya. Permasalahannya juga tak jauh berbeda, yaitu dalam hal dan cita-cita ”mewujudkan kebudayaan baru” persoalan itu digiring melalui konsepsi ”bahasa dan sastra Arab”. Pelaku perdebatan adalah para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi.Dalam perdebatan tersebut, ada satu nama yang sangat penting”. Continue reading “SATU SEGI DARI DEBAT BUDAYA ANTARA MANIKEBU DAN LEKRA”

SEJARAH LEKRA Vs MANIKEBU: HANYA INTERPRETASI TUNGGAL

Catatan buat Ikranagara
Aguk Irawan MN
http://duaduka.blogspot.com

Bung Ikra yang saya Hormati.
Bertanya pada ahli? Saya kira memang “solusi” yang benar, agar kita bisa menarik kesimpulan secara proposional. Tetapi pertanyaan saya adalah, siapa yang ahli dalam sejarah Kebudayaan kita, dan siapa yang bukan ahli? pertanyaan ini entah kenapa dalam benak saya menjadi seperti “misterius”. Continue reading “SEJARAH LEKRA Vs MANIKEBU: HANYA INTERPRETASI TUNGGAL”

Sastra Seksual dan Pembusukan Budaya

Aguk Irawan Mn
Republika, 10 Okt 2004

Fenomena terakhir, setelah dunia sastra kita dipenuhi dengan maraknya tren sastra Islami (akrab disebut syi’ar Islami), yang memilik genre sastra tersendiri. Secara mengejutkan tiba-tiba saja sastra berbau seks begitu melimpah dan menghampar persis di depan wajah kita. Bahkan kehadirannya seakan telah berani menantang model sastra sebelumnya yang dengan sembunyi-sembunyi bagaimana ia harus mengungkapkan bahasa kelamin yang tabu itu. Continue reading “Sastra Seksual dan Pembusukan Budaya”

Binhad Nurrohmat dan Kembalinya Unsur Sastra Jahiliyah

Aguk Irawan MN *
Jurnal Kalimah, LESBUMI NU, I/Nov/2007

Di setiap erotisme selalu ada penyimpangan!
– Adonis
Hampir dua tahun yang lalu Marshall Clark (2005), peneliti sastra Indonesia di School of Asian Languages and Studies, University of Tasmania, dalam Konferensi Jurnal Antropologi di Universitas Indonesia menyebut puisi-puisi Binhad dalam Kuda Ranjang sebagai ‘puisi metropolitan’. Alasan Marshall ini tidak saja didasarkan pada puisi Binhad yang memukul pembaca dengan visi seksualnya yang sangat menentang, sangat lugas, dan juga sangat banal. Tetapi juga didasarkan pada kehidupan sang penyair, yang keluar masuk kafé-kafé elit kota Jakarta dan sangat akrab dengan alat-alat kehidupan metropolitan seperti HP, SMS, surat-e, dan entah apa lagi. Continue reading “Binhad Nurrohmat dan Kembalinya Unsur Sastra Jahiliyah”