Sastra Seksual dan Pembusukan Budaya

Aguk Irawan Mn
Republika, 10 Okt 2004

Fenomena terakhir, setelah dunia sastra kita dipenuhi dengan maraknya tren sastra Islami (akrab disebut syi’ar Islami), yang memilik genre sastra tersendiri. Secara mengejutkan tiba-tiba saja sastra berbau seks begitu melimpah dan menghampar persis di depan wajah kita. Bahkan kehadirannya seakan telah berani menantang model sastra sebelumnya yang dengan sembunyi-sembunyi bagaimana ia harus mengungkapkan bahasa kelamin yang tabu itu. Continue reading “Sastra Seksual dan Pembusukan Budaya”

Binhad Nurrohmat dan Kembalinya Unsur Sastra Jahiliyah

Aguk Irawan MN *
Jurnal Kalimah, LESBUMI NU, I/Nov/2007

Di setiap erotisme selalu ada penyimpangan!
– Adonis

Hampir dua tahun yang lalu Marshall Clark (2005), peneliti sastra Indonesia di School of Asian Languages and Studies, University of Tasmania, dalam Konferensi Jurnal Antropologi di Universitas Indonesia menyebut puisi-puisi Binhad dalam Kuda Ranjang sebagai ‘puisi metropolitan’. Continue reading “Binhad Nurrohmat dan Kembalinya Unsur Sastra Jahiliyah”

M. Paus (Membaca: “Pesan al-Qur’an untuk Sastrawan”) karya Aguk Irawan MN

Nurel Javissyarqi *

Sudah lama saya tidak menulis, Bismillah…
Tanggal 15 Juli 2012 saya membedah salah satu karyanya penulis ini (Penakluk Badai; novel biografi KH. Hasyim Asy’ari) tanpa makalah (lantaran informasi kepada saya mendadak, dan di hari itu juga mengisi acara di kampus STITAF, Siman, Sekaran, Lamongan, dengan makolah bertitel “Pendidikan; Prospek Pembentuk Karakter Budaya”, untunglah jadwal waktunya tidak bertabrakan; pagi hingga siangnya di Pesantren Sunan Drajad, siangnya sampai sore di kampus). Continue reading “M. Paus (Membaca: “Pesan al-Qur’an untuk Sastrawan”) karya Aguk Irawan MN”

Merapi dan Kearifan Pemimpin Lokal

Aguk Irawan MN *
thewindowofyogyakarta.com

Menjadi pemimpin (manusia) sangat tergantung pada perilaku yang melekat pada dirinya. Sementara perilaku sering dibangun dalam proses pergumulan panjang dalam menjalankan tugasnya sebagai sebuah cinta yang dilandasi prinsif kesetiaan. Tugas itu seberapapun pahit dan manis akan terus dihayati, digeluti, dan diarifi dengan pengabdian diri secara total. Cinta dan kesetiaan adalah dua unsur nilai yang dianggap paling luhur dalam ilmu filsafat etika, sehingga dengan dua sifat itulah manusia menjadi tegar, hati teguh dan berkemauan kuat serta mempunyai semangat pengabdian yang tak kenal batas. Continue reading “Merapi dan Kearifan Pemimpin Lokal”

Bahasa »