Profesi yang Terlupakan

Aguk Irawan MN
http://cetak.kompas.com/

Novel spektakuler Harry Potter tidak akan bisa dinikmati jutaan penggemar novel di Indonesia bila tanpa melalui proses penerjemahan. Berita-berita internasional yang berasal dari berbagai belahan dunia bisa dinikmati pembaca dalam negeri juga tidak terlepas dari jasa penerjemah.

Bisa dibayangkan, tanpa penerjemahan buku-buku berbahasa Inggris atau kitab-kitab berbahasa Arab, masyarakat akan kesulitan mengerti isi dari suatu buku atau kitab. Continue reading “Profesi yang Terlupakan”

Menuju Kebudayaan Baru itu Meniru Barat

Meneropong Thaha Husein dan Sutan Takdir Alisyahbana
Aguk Irawan Mn
http://www.sinarharapan.co.id/

Di saat gelombang perdebatan Manikebu Vs Lekra bertemu di puncak yang sangat sengit (1950-1965), Mesir juga mengalami persengketaan yang meluap dan tak kalah sengitnya. Permasalahannya juga tak jauh berbeda, yaitu dalam hal dan cita-cita ?mewujudkan kebudayaan baru? persoalan itu digiring melalui konsepsi ?bahasa dan sastra Arab?. Pelaku perdebatan adalah para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi. Continue reading “Menuju Kebudayaan Baru itu Meniru Barat”

Sastra Arab dalam Karya-karya Goethe

Aguk Irawan Mn
http://www.sinarharapan.co.id/

Bagi yang ingin memahami penyair, maka pergilah ke rumah-rumah mereka
Mereka akan memilih hidup di negeri Timur Tatkala mengetahui bahwa yang lama, itu juga yang baru.

Penggalan Syair “Permintaan Maaf”

Sangatlah besar penghargaan Goethe terhadap karya sastra Arab, membuktikan kedekatannya secara pribadi dengan warna dan nilai sastra mahatinggi ini. Dalam beberapa puisi, Goethe terkesan mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada bangsa Arab karena cukup mengilhami dan mengontribusikan warna sastra tersendiri dalam karya-karyanya. Continue reading “Sastra Arab dalam Karya-karya Goethe”

Ketika Puisi Mengalienasi Kita

Aguk Irawan MN
http://cetak.kompas.com/

Belakangan hari kita menyaksikan bagaimana puisi di Indonesia mendapatkan nasibnya yang paling getir. Bukan hanya penerbit menolak penerbitan buku kumpulan atau antologi puisi, penerbitannya pun harus dihadapkan pada kenyataan bahwa laju penjualannya yang bahkan tidak mencapai target minimal untuk impas.

Beronggok puisi mungkin mengisi laci, file, atau benak para penyair dan?mungkin?meja redaksi majalah atau surat kabar. Sebuah keadaan yang mungkin membuat seorang redaktur surat kabar memberi alasan, ?Kini lebih banyak penyair ketimbang pembacanya,? sebagai apologia hilangnya rubrik puisi yang sudah puluhan tahun bertahan di media itu. Continue reading “Ketika Puisi Mengalienasi Kita”