Tag Archives: Agung Poku

Penjara Teks Kaum Borjuis dalam Sastra

Agung Poku
http://bahasa.kompasiana.com/

Tidak benar jika dikatakan bahwa kita (Rusia) hanya menghargai seni yang baru dan revolusioner, yang menyuarakan suara para pekerja, dan omong kosong jika kita dikatakan menuntut para penyair menggambarkan cerobong pabrik, atau pemberontakan melawan kapital! (Leon Trotsky; The Social Roots and the Social Function of Literature)

Ungkapan ini muncul ketika wacana perdebatan seni murni dan seni bertendensi masih riang berkicau. Terutama saat itu Stalin berkuasa. Serangan – serangan terhadap konsepsi marxis sampai juga pada ranah seni, lebih kecil lagi sastra.

Antara Liu dan Mario, Nobel Sastra dan Perdamaian

Agung Poku
http://sosbud.kompasiana.com/

Suatu hari pada tahun 1945. Seorang pemimpin besar komunis, Mao Zedong, mengeluarkan fatwa: ?Setiap orang harus dibiarkan berbicara dengan bebas, siapa pun dia, asal saja bukan berasal dari anasir yang memusuhi kita.? (Pembantaian Tiananmen; Michael Fathers, Andrew Higgins).