Penjara Teks Kaum Borjuis dalam Sastra

Agung Poku
http://bahasa.kompasiana.com/

Tidak benar jika dikatakan bahwa kita (Rusia) hanya menghargai seni yang baru dan revolusioner, yang menyuarakan suara para pekerja, dan omong kosong jika kita dikatakan menuntut para penyair menggambarkan cerobong pabrik, atau pemberontakan melawan kapital! (Leon Trotsky; The Social Roots and the Social Function of Literature)

Ungkapan ini muncul ketika wacana perdebatan seni murni dan seni bertendensi masih riang berkicau. Terutama saat itu Stalin berkuasa. Serangan – serangan terhadap konsepsi marxis sampai juga pada ranah seni, lebih kecil lagi sastra. Tuduhan bahwa konsepsi marxis cenderung mengabaikan percikan api romantik dalam dada individu yang diwujudkan dalam syair – syair pribadi. Dan lebih memilih menggaungkan tingkatan kelas, borjuis atau pun proletar. Pada pihak yang lain, hal ini juga dibantah, Leon mengatakan syair – syair pribadi dalam lingkup yang terkecil, mutlak mendapatkan tempat dan haknya. Dan memang, mereka tidak mau menceburkan diri pada wacana seni murni, harus bertendensi sesuai ideologi marxis, dalam hal ini sastra. Hal ini tentu sejalan dengan heroisme, revolusi Bolshevik yang melahirkan Lenin dan manusia baru.

Tentang perbedaan kelas dan struktur masyarakat feodal, tentu bukanlah hal yang kuno atau ketinggalan jaman untuk dibicarakan pada masa sekarang ini. Setiap hari itu terjadi, dan kita saksikan dengan mata, lebih baik kalau itu terbelalak. Pada ranah sastra pun demikian. Bahkan ada yang mengatakan, sastra borjuis cenderung bahkan memilih untuk terpenjara pada ?bentuk? dan bukan ?isi?. Dan apa pula yang dinamakan penjara itu? Teks. Dialah teks. Tekslah arena permainan itu, ketimbang menguliti struktur masyarakat yang timpang.

Dan tentang pencarian atau masih kaburnya pemahaman akan seni murni, atau seni untuk seni, seorang seniman (salah seorang kawan), seni rupa, mengungkapkan : seni murni tidak bertendensi pada kegunaan setelah penciptaannya. Dalam artian, sebuah hasil seni dinikmati hanya untuk dinikmati saja, dan kemudian berimbas pada implus perasaan si penikmat seni. Rangsangan atau efek yang ditimbulkan setelah menikmati sebuah karya seni. Termasuk keindahan yang masih bisa diperdebatkan lagi. Sama sekali tak ada hubungannya dengan hasil di luar individu. Apalagi jika sampai pada pengerukan kapital! Bukankah ini pelacuran seni murni? Dilacurkan di luar hakikatnya.

Pada akhirnya, seni dalam kelas proletar atau juga seni dalam kelas borjuis, bukanlah sesuatu yang murni dalam ranah seni untuk seni. Di dalamnya terlibat pergulatan, tendensi, tergantung pada perjuangan masing – masing kelas.

Dan satu lagi, pasir – pasir dalam racau air, sering mengaburkan ketertarikan untuk melirik kelas proletar, perjuangan kaum marxis. Atheis. Kata itulah pasir dalam racau air. Tidak bertuhan! Tidak beragama! Amboi nian tuduhan itu, saudara. Dalam beberapa hal, perjuangan kaum ini dapat dikatakan lebih romantis ketimbang kisah Romeo dan Juliet. Juga dalam perjuangan ummat manusia yang mendambakan roti dan ikan untuk semua kaum, tanpa terkecuali. Meskipun dengan berdarah – darah, tentu ini yang tak diinginkan oleh humanisme.

– Jogja pada Oktober 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*