Periode Keemasan Kedua Cerpen Indonesia

Agus Noor
kompas.com

Dalam esai Mencari Tradisi Cerpen Indonesia yang ditulis tahun 1975, Jakob Sumardjo menyatakan, “Tradisi penulisan cerpen mencapai masa suburnya pada dekade 50-an yang merupakan zaman emas produksi cerita pendek dalam sejarah sastra Indonesia.”

Salah satu faktor yang mendukung “periode keemasan” itu antara lain munculnya majalah seperti Kisah, Tjerita, serta Prosa, yang menjadi ruang pertumbuhan cerpen pada saat itu. Continue reading “Periode Keemasan Kedua Cerpen Indonesia”

Memberi Makna pada Yang Fana

Agus Noor
http://www.jawapos.co.id/

Sepertinya, ada yang hilang dalam Euro 2008. Drama! Saya sangat setuju dengan pendapat Robert Coover bahwa ada sifat teater dalam permainan bola. Lapangan adalah panggung dan pertandingan adalah alur dramatik berdurasi 2 x 45 menit plus injury time. Setiap pertandingan menjadi menarik karena menampilkan drama dan suspense berbeda. Sifat teater itulah yang membuat sebuah pertandingan semakin menarik bila memenuhi aspek dramatik di dalamnya. Itulah, yang sampai saat tulisan ini saya buat, terasa hilang di panggung Piala Eropa kali ini. Continue reading “Memberi Makna pada Yang Fana”

Serenade Kunang-kunang

Agus Noor
http://cetak.kompas.com/

Aku suka matanya, seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Kau akan melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Tapi, sepasang mata itulah yang membuatku jatuh cinta. Continue reading “Serenade Kunang-kunang”

Kartu Pos dari Surga

Agus Noor
http://cetak.kompas.com/

Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. ?Hati-hati!? teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Continue reading “Kartu Pos dari Surga”

Mawar di Tiang Gantungan

Agus Noor
http://cetak.kompas.com/

Kuceritakan apa yang kulihat. Tapi kalian mengatakan aku dusta, karena aku buta. Aku memang tak punya mata. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian, betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu, daun-daunnya yang kemerahan, butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru, gugusan awan merah muda, bayang-bayang yang putih dan memanjang, juga angin yang pucat kelabu. Continue reading “Mawar di Tiang Gantungan”