FIKSI MINI

Agus Noor
jawapos.com

For sale: baby shoes, never worn.
Ernest Hemingway

SAYA menyebutnya fiksi mini. Itulah bentuk fiksi mini yang saya himpun dalam 35 Cerita untuk Seorang Wanita (Jawa Pos, 1 November 2009). Yakni, fiksi yang hanya terdiri atas secuil kalimat. Mungkin empat sampai sepuluh kata atau satu paragraf. Tapi, di sana kita memperoleh ”keluasan dan kedalaman kisah”. Continue reading “FIKSI MINI”

Dari “Kado Istimewa” Sampai “Dua Tengkorak Kepala”

Dari Cerpen “Topikal”, Reduksi Realitas Sampai Masa Depan Cerpen Kita

Agus Noor *
kompas.com

LIMA tahun terakhir, boleh dibilang adalah “masa keemasan” cerpen Indonesia. Sebuah periode yang tidak semata ditandai dengan begitu melimpahnya cerpen, tetapi juga mulai diterimanya cerpen sebagai sebuah genre sastra yang mandiri; pun mulai dihargai melalui pemberian penghargaan terhadap cerpen-cerpen yang dianggap “terbaik” seperti dilakukan Kompas dan Dewan Kesenian Jakarta di tahun 1999 lalu. Continue reading “Dari “Kado Istimewa” Sampai “Dua Tengkorak Kepala””

Periode Keemasan Kedua Cerpen Indonesia

Agus Noor *
kompas.com

Dalam esai Mencari Tradisi Cerpen Indonesia yang ditulis tahun 1975, Jakob Sumardjo menyatakan, “Tradisi penulisan cerpen mencapai masa suburnya pada dekade 50-an yang merupakan zaman emas produksi cerita pendek dalam sejarah sastra Indonesia.”

Salah satu faktor yang mendukung “periode keemasan” itu antara lain munculnya majalah seperti Kisah, Tjerita, serta Prosa, yang menjadi ruang pertumbuhan cerpen pada saat itu. Continue reading “Periode Keemasan Kedua Cerpen Indonesia”

Bahasa ยป