Belajar Membaca Fragmen Waktu

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 28 Nov 2010

FRAGMEN Waktu (Hary B Kori’un [Edt], Pekanbaru: Yayasan Sagang, 2010) adalah kumpulan sajak pilihan Riau Pos 2010, berisi 74 sajak dari 20 penyair. Antologi 113 halaman itu, dan beberapa buku lainnya, dibagikan secara gratis kepada para undangan yang hadir pada acara Penerimaan Anugerah Sagang dan Anugerah Sagang Kencana di Hotel Labersa, Pekanbaru, pada 29 Oktober 2010. Continue reading “Belajar Membaca Fragmen Waktu”

Pesona Sajak ”Karena Kalian Gunung, Kami pun Menjelma Jadi Angin”

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 26 Desember 2010

SAJAK “Karena Kalian Gunung, Kami Pun Menjelma Jadi Angin” dimuat dalam Fragmen Waktu: Sajak Pilihan Riau Pos 2010 (Yayasan Sagang, 2010:27-29). Sajak itu (terdiri atas 9 bait) didedikasikan untuk rakyat Riau yang terus berjuang. Secara tekstual, sajak itu dapat diduga merupakan pernyataan sikap perlawanan yang dilakukan kami/angin atas keberadaan kalian/gunung. Sikap perlawanan itu muncul karena kami/angin sudah benar-benar merasa jengkel, kesal, dan bahkan muak terhadap perilaku kalian/gunung. Deskripsi lengkap sajak itu, lebih kurang, sebagai berikut. Continue reading “Pesona Sajak ”Karena Kalian Gunung, Kami pun Menjelma Jadi Angin””

Karya Sastra dan Sosiolinguistik

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 16 Okt 2011

ANGGAPAN bahwa karya sastra bukanlah suatu gejala yang tersendiri, tentu saja bukannya tanpa alasan. Di samping merupakan suatu eksperimen moral yang dituangkan oleh pengarangnya melalui bahasa, dalam kenyataannya, karya sastra juga merupakan suatu hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural (Damono, 1979:3). Dengan demikian, untuk merebut makna atau katakanlah untuk memahami karya sastra, kita dapat menyandarkan dari pada berbagai macam pendekatan dan metodologi. Salah satu di antaranya adalah sosiolinguistik. Continue reading “Karya Sastra dan Sosiolinguistik”

Keris Tameng Sari

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 17 April 2011

Pendahuluan

Secara arkeologis dan historis, keris telah dikenal masyarakat Indonesia (Nusantara) sejak zaman kuno, sekitar abad ke-5. Prasasti Tukmas di lereng barat Gunung Merapi (Grabag, Magelang, Jawa Tengah) menjadi petunjuk awal keberadaan keris di Indonesia. Meskipun demikian, secara sosiologis, keris baru menjadi bahan perbincangan setelah tersebar laporan-laporan perjalanan laut lintas negeri, seperti Yin Ya Sheng Lan (Pemandangan Indah di seberang Samudera) karya Ma Huan dan Xing Cha Sheng Lan (Menikmati Pemandangan Indah dengan Rakit Sakti) karya Fei Xin, di zaman kerajaan Majapahit (lihat Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, 2000:100-101). Continue reading “Keris Tameng Sari”