Peluru Olyrinson

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 1 Mei 2011

PELURU? Ya, betul. Empat belas barang tajam Olyrinson (baca: cerpen) telah keluar dari patrunnya, menyatu dalam Sebutir Peluru dalam Buku (Palagan Press, 2011). Ibarat peluru, kini cerpen-cerpen itu siap dilepaskan kembali untuk meneror pembaca.

Betapa tidak? Di samping hampir semuanya pernah memenangi lomba/sayembara penulisan cerpen (dari 14 cerpen, hanya 3 cerpen yang tidak memenangi lomba), oleh banyak pihak, cerpen-cerpen Olyrinson itu diakui memiliki sentuhan humanisme yang menusuk hati. Continue reading “Peluru Olyrinson”

Kamus Lengkap Indonesia-Lampung, Lampung-Indonesia

Agus Sri Danardana
http://lampungpost.com/

Lembaga Penelitian Universitas Lampung pada 12 Desember 2008 meluncurkan Kamus Lengkap: Indonesia-Lampung, Lampung-Indonesia, karya Dr. Eng. Admi Syarif. Konon, penyusun kamus ini juga membuat kamus elektronik yang mampu menerjemahkan kata-kata atau kalimat dalam bahasa Lampung (dialek O) menjadi kata-kata atau kalimat dalam bahasa Indonesia dan sebaliknya. Continue reading “Kamus Lengkap Indonesia-Lampung, Lampung-Indonesia”

Perencanaan Bahasa (Menyoal Bahasa Melayu Riau)

Agus Sri Danardana
http://www.riaupos.com/

Pendahuluan

Setidaknya ada dua pendapat yang tersiar tentang status dan keberadaan Bahasa Melayu Riau (BMR). Pertama, BMR dianggap dan diyakini sama dengan Bahasa Indonesia (BI). Kedua, BMR dianggap dan diyakini berbeda dengan BI.

Pendapat pertama, BMR sama dengan BI, semata-mata didasarkan pada bukti sejarah bahwa BMR merupakan cikal-bakal BI. Continue reading “Perencanaan Bahasa (Menyoal Bahasa Melayu Riau)”

Perahu Rapuh Idrus Tintin

Agus Sri Danardana*
http://www.riaupos.com/

Bunyi pepatah: Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya rupanya diyakini betul kebenarannya oleh Idrus Tintin. Sebagai sastrawan besar (setidaknya di Riau), ia tetap menghargai jasa-jasa para pendahulunya dengan membaca karya-karyanya.

Salah satu pendahulunya itu adalah Hamzah Fansuri. Ia tidak sekadar mengenal nama dan deretan judul karya ?pahlawan?nya itu, tetapi betul-betul memahami dan bahkan mencoba menjadikannya sebagai barometer (ke)hidup(an). Continue reading “Perahu Rapuh Idrus Tintin”

Menangisi Rancage yang Lepas

Agus Sri Danardana*
http://www.lampungpost.com/

Kita memang pantas menangisi Rancage yang lepas. Namun, kita akan lebih tersedu jika sastra Lampung tidak memiliki pembaca.

Berita tentang tidak diberikannya hadiah sastra Rancage kepada sastrawan Lampung tahun 2009 telah menimbulkan keprihatinan mendalam banyak pihak. Tidak terkecuali Udo Z. Karzi dan Y. Wibowo (masing-masing penulis dan direktur penerbit Mak Dawah Mak Dibingi, kumpulan puisi berbahasa Lampung penerima hadiah sastra Rancage tahun 2008) serta Panji Utama dan Christian Heru Cahyo pun melontarkan keprihatinannya. Continue reading “Menangisi Rancage yang Lepas”