Sastra Itu “Berat”

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 22 Jan 2011

Sekretaris Ikapi Cabang Yogyakarta baru-baru ini menyatakan bahwa penerbitan buku sastra hanya lima persen dari penerbitan buku di Yogyakarta karena para penerbit menganggap sastra itu “berat, baik materi dan bahasanya” sehingga kurang laku (Kompas, 6 Oktober, 2010, hlm. 12). Anggapan buku sastra kurang laku karena dianggap “berat” dan oleh karena itu para penerbit menghindar menerbitkannya, sudah lama menjadi mitos di kalangan penerbit. Continue reading “Sastra Itu “Berat””

Bahasa Pengantar di Lembaga Pendidikan

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 27 Nov 2010

Pada 1951, UNESCO menganjurkan agar bahasa pengantar yang digunakan di lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah sebaiknya bahasa ibu anak-anak didik karena bahasa ibu lebih mesra dan lebih dikuasai oleh anak didik. Akan tetapi, pemerintah Republik Indonesia pada 1953 melalui Undang-Undang Pendidikan menetapkan bahwa di sekolah rakyat 6 tahun, yang sebelumnya menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar untuk semua mata pelajaran, hanya boleh digunakan sebagai bahasa pengantar di kelas I-III. Continue reading “Bahasa Pengantar di Lembaga Pendidikan”

Bahasa Halus dalam Bahasa Indonesia

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 24 Jul 2010

Dalam setiap bahasa ada kata-kata yang khusus diperuntukkan buat orang yang dihormati atau untuk Tuhan Yang Maha Esa. Dalam bahasa Inggris yang egaliter sekali, ada istilah “Thou” yang hanya digunakan untuk Tuhan atau orang yang dihormati, sedangkan untuk orang biasa digunakan kata “you”. Akan tetapi, jumlah kata-kata demikian tidak banyak. Continue reading “Bahasa Halus dalam Bahasa Indonesia”

Peranan Pers Dalam Pengembangan Bahasa

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 2 Jan 2010

Peranan pers dalam pengembangan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia telah diakui. Para pemuda dari berbagai daerah yang menghadiri Kerapatan Pemuda pada 28 Oktober 1928 dengan gampang menerima isi Sumpah Pemuda diktum yang ketiga, yaitu ”menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, antaranya karena pada waktu itu bahasa Melayu lingua franca (yang diganti namanya menjadi ”bahasa Indonesia”) digunakan dalam pers nasional secara luas. Continue reading “Peranan Pers Dalam Pengembangan Bahasa”