Sastra dan Bahasa Ibu, di Mana Kau?

Ajip Rosidi*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Ternyata ketika saya menulis tentang “Undang-Undang Kebahasaan” dalam ruangan ini yang memberikan komentar tentang isi rancangan undang-undangnya, Undang-Undang tentang Bahasa sudah disahkan pada 9 Juli 2009. Entah mengapa saya tidak membaca beritanya dalam surat kabar meskipun saya berlangganan tiga macam surat kabar. Apakah tidak dianggap penting sehingga tidak ada surat kabar yang memberitakannya? Atau saya yang cileureun sehingga tidak menemukan berita itu. Baru kemarin saya mendapat kopi “Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan” dan dimuat dalam Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 109. Continue reading “Sastra dan Bahasa Ibu, di Mana Kau?”

Ajip Rosidi, Mendunia Berkat Sastra Sunda

Ajip Rosidi
Pewawancara: Burhanuddin Bella, M Syakir
http://www.infoanda.com/

Bahasa daerah membuatnya prihatin. Ketika merasa tidak ada lagi yang memerhatikan bahasa daerah, Ajip Rosidi menilai inilah saatnya bertindak. Lebih dari 30 tahun, pria kelahiran Jatiwangi pada 31 Januari 1938 ini memperjuangkan nasib bahasa daerah. Hingga akhirnya dia tiba di satu titik. ”Saya lebih baik melaksanakan apa yang bisa,” ujarnya. Ajip berpikir tentang sebuah hadiah sastra. Sayangnya, ide itu tidak bersambut. Continue reading “Ajip Rosidi, Mendunia Berkat Sastra Sunda”

AJIP ROSIDI: MEMBACA DAN MENULIS TANPA AKHIR

Maman S. Mahayana

Mungkinkah seseorang yang tidak lulus SMA dapat memperoleh gelar doktor honoris causa (doktor kehormatan yang diberikan sebuah institusi pendidikan atau universitas), bahkan mendapat sebutan professor pula? Di Indonesia yang segala sesuatunya sering harus berurusan dengan aturan birokrasi, pemberian gelar kehormatan, seperti doktor honoris causa, pernah menimbulkan masalah. Continue reading “AJIP ROSIDI: MEMBACA DAN MENULIS TANPA AKHIR”