4 Catatan Ibnu Wahyudi tentang SDD, dan 1 untuk Ajip Rosidi

TENTANG KARYA AJIP ROSIDI (1938-2020)

Ajip Rosidi sudah mempublikasikan cerpen pada usia 13 tahun, ya 13 tahun (!), melalui majalah kebudayaan Indonesia edisi tahun 1951. Nama yang dipakai adalah A. Rossidhy, sebuah penulisan nama yang terkesan “digayakan”; sejalan usia setara dengan anak kelas 1 SMP.

Kekuatan kisah yang ditulis Ajip Rosidi adalah mengembalikan peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya dengan sejujur-jujurnya (Sutiasumarga dalam Pembimbing Pembaca). Yang diceritakan tidak sensasional dan tidak mengerikan. Serba sederhana dan biasa. Karyanya menarik sebagai “document humaine” (Hartoko dalam Basis).


(Foto tahun 1999, di Seoul, Korea Selatan, Ibnu Wahyudi bersama Ajip Rosidi)

Selamat jalan Pak Ajip Rosidi, semoga Allah SWT menempatkan Pak Ajip di surga terindah-Nya. Amin…

30 Juli 2020

‘Dukana’: Kecelakaan atau “Licentia Poetica”?

Kata “dukana” cukup banyak dipilih oleh pemuisi. Pada tahun 1958, kata “dukana” ini muncul dalam puisi Sapardi Djoko Damono berjudul “Ulang Tahun” yang dimuat Mimbar Indonesia.

Kemudian pada tahun 1971, puisi Taufiq Ismail berjudul “Pantun Terang Bulan di Midwest” juga memasukkan kata “dukana”. Bahkan kata ini tahun 1982 dipakai judul kumpulan puisi I Gusti Ngurah Parsua, Sajak-Sajak Dukana.

Selanjutnya kata “dukana” muncul dalam sajak Adri Sandra tahun 1996 dalam “Memintal Riak”. Sutan Iwan Soekri dalam sajaknya berjudul “Malinkundang” juga memasukkan kata “dukana”.

Pada tahun 2000-an kata dukana semakin banyak dapat kita jumpai. Sajak-sajak yang memuat kata “dukana” ini misalnya karya SN Mayasari H (Maya Wulan) dalam “Di Tengah Derai Hujan” dan “Aku Berlutut pada Waktu”, dalam karya Arwan Maulana yang berjudul “Angin Dukana”, dan dalam karya Y. Wibowo berjudul “Rumah yang Kubangun”.

Kata “dukana” umumnya dipakai oleh para pemuisi dengan makna bernuansa duka atau luka, kecuali pada sajak-sajak SN Mayasari H. Di dalam kamus, memang tertera lema “dukana” ini namun maknanya tidak ada kaitan dengan kedukaan.

KBBI V mendefinisikan “dukana” sebagai ‘kuat syahwat, nafsu berahi’ seperti tersirat dalam sajak SN Mayasari H. Lalu, mengapa banyak penyajak memakai kata “dukana” dalam makna bernuansa ‘duka’ atau ‘luka’?

Mungkin saja, yang terjadi pada para penyajak tahun 1980-an dan setelahnya adalah keterpengaruhan. Namun, agaknya keterpengaruhannya bukan oleh Sapardi sebab puisi ini belum diikutkan dalam salah satu antologinya, meski nuansa makna yang ditawarkan adalah ‘kesedihan’.

Adanya kecenderungan seperti ini, “menciptakan” kata yang ternyata sudah terdapat dalam kamus meskipun beda maknanya, pernah aku tanyakan kepada Sapardi, adakah itu “kecelakaan” atau pelaksanaan atas “licentia poetica”? “Bisa dua-duanya,” jawab Sapardi sambil tertawa.
***

31 Juli 2020

SAPARDI DAN GAYA LUKISAN YANG DISUKAI

Suatu siang pada tahun 1986, ketika aku tengah bersama Pak Sapardi di rumahnya di Depok Utara, tiba-tiba beliau nyeletuk.

“Ben, sebentar lagi kita bakal Jowo-jowoan, ya.”
“Maksudnya, Pak?” tanyaku agak penasaran.
“Nanti ada pelukis dari Solo akan ke sini.”

Pahamlah aku, bahwa tak lama lagi bahasa Jawa ngoko bercampur krama madya bakal memenuhi rumah itu. Masih karena penasaran, dan tak ingin menebak sosok pelukis itu, aku bertanya tentang siapa gerangan pelukis itu.

Pak Sapardi tidak langsung menyebut nama tapi hanya memberi gambaran bahwa karya pelukis ini beberapa kali dimuat majalah sastra Horison. Aku tentu sulit menebak sebab dalam majalah sastra itu sering tertera lukisan bagus-bagus karya Sriwidodo, Popo Iskandar, Rusli, Danarto, Sri Warso Wahono, Muljoto Hartojo, AS Budiono, dan pelukis lain. Namun, yang dari Solo?

Awalnya aku menduga bahwa Popo Iskandar yang akan datang sebab Pak Sapardi pernah menyatakan suka dengan lukisannya, terutama yang muncul pada sampul buku Puisi Cina Klasik (1976). Namun, Popo Iskandar kan bukan dari Solo. Aku merasa “diuji” oleh Pak Sapardi.

Oh, mungkin pelukis yang karyanya pernah menghiasi “Sajak-sajak 1971” Pak Sapardi yang dimuat Horison, Januari 1974. Aku menduga itu sebab Pak Sapardi pernah menyatakan juga rasa bahagia tiap melihat coretan pelukis itu. Dan dia memang dari Solo; sayang sekali aku lupa namanya.

Belum juga aku mampu menebak pelukis itu, di depan rumah Pak Sapardi telah muncul dua orang. Yang seorang, aku merasa agak kenal, kalau tak salah Mas Sri Warso Wahono. (Maafkan kalau aku alpa, ya).

Begitu Pak Sapardi menyilakan mereka masuk, aku diperkenalkan sambil Pak Sapardi menyebut bahwa aku juga berasal dari sana. Dan disebutlah nama pelukis itu, AS Budiono. Oh iya; aku langsung teringat gaya goresannya yang bernuansa kaligrafi Cina.

Tak lama kemudian, beraksilah Mas Budiono melukis dengan, kalau tak salah, meminjam cat air Iko (almarhum, putra kedua Pak Sapardi. Al-Fatihah).

Lukisan AS Budiono sepintas hanya goresan-goresan bersilangan tapi menawarkan imaji-imaji variatif jika kita amati. Beberapa lukisan selesai dan mereka terlibat dalam obrolan yang campur aduk bahasanya itu. Sebagai “anak kemarin sore” dalam dunia seni, aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik.

Salah sebuah lukisan AS Budiono akhirnya menjadi sampul buku puisi Pak Sapardi dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh John McGlynn berjudul Water Color Poems (1986). Dalam berbagai obrolan, Pak Sapardi menyatakan rasa sukanya dengan perwajahan buku puisi tersebut.

Dari “pengakuan” seperti itu menyebabkan aku tidak perlu merasa heran ketika melihat coretan-coretan Pak Sapardi yang juga hanya berupa goresan abstrak. Namun, sayang sekali, dalam dunia lukis ini Pak Sapardi terkesan tidak sungguh-sungguh. Ketika iseng aku tanya kenapa tidak juga melukis, jawab Pak Sapardi hanya mengambang. “Kita itu harus bisa tahu diri, Ben.”
***

31 Juli 2020

HITAM, ABU-ABU + MERAH


(Satu lukisan karya Sapardi Djoko Damono)

Puitis atau tidak, berkualitas atau tidak sebagai lukisan dari karya yang saya sertakan, bukan tujuan tulisan ini. Yang ingin saya kemukakan adalah bahwa Sapardi Djoko Damono juga menghasilkan lukisan. Efix Mulyadi, mantan wartawan Kompas dan kurator di Bentara Budaya Jakarta, mengafirmasi bahwa Sapardi memang terkadang juga melukis dan pernah ikut pameran bersama.

Di Studio Jeihan, di jalan Padasuka Bandung, 28 September sampai 5 Oktober 2013, pernah diselenggarakan pameran lukisan yang diberi nama “Pameran Lima Rukun”. Lima seniman rukun yang mengikuti pameran tersebut adalah tuan rumah sendiri yaitu Jeihan Sukmantoro, bersama Sapardi Djoko Damono, A. Mustofa Bisri atau Gus Mus, D. Zawawi Imron, dan Acep Zamzam Noor. Ini adalah pameran pemuisi yang melukis dan pelukis yang berpuisi.

Sayangnya, intensitas Sapardi dalam melukis memang tipis dibandingkan dengan kreasinya dalam bentuk puisi. Namun, kecenderungan Sapardi dalam mencorat-coret kertas maupun terlihat dari produksi dan kemasan buku terbitan Editum yang didirikannya, menyiratkan jiwa seni lukisnya.

Demikian pula komentar-komentar kecilnya atas foto atau lukisan yang dilihatnya, menunjukkan jangkauan kesenirupaannya. Ketika tahun 1980-an kami sering pergi ke toko musik, selain mencari album musik jazz, Sapardi juga sesekali membeli kaset yang tidak direncanakan untuk dibeli. Yang unik, pilihan atas kaset itu bukan karena nama penyanyi atau grup tapi desain sampul kasetnya. Pernah sambil berseloroh Sapardi mengatakan bahwa ada korelasi antara kemasan dengan kualitas musik.

Dalam melukis, Sapardi cenderung memilih gaya abstrak dan dadaistik. Buku puisinya yang berjudul Arloji, misalnya, setidak-tidaknya merepresentasikan pilihannya dalam dunia lukis, dengan ilustrasi yang disertakan. Gaya melukis Sapardi yang seperti itu contohnya terlihat pada lukisannya ini, yang diberi judul “Hitam, Abu-abu + Merah”. Lalu apa maknanya? Sayup-sayup masih terdengar kata-kata Sapardi, “Jangan tanya makna kepada pelukisnya, bisa-bisa dibohongi”, hehehe….
***

29 Juli 2020

TANDA HUBUNG

Gagasan beragam Sapardi Djoko Damono tidak sebatas dituangkan dalam karya sastra; puisi khususnya. Dalam warna dan bunyi, gagasannya mewujud dalam lukisan dan aransemen musik, meski diakuinya hampir tidak ada yang utuh untuk yang kedua ini. Paling tidak, gambaran ini menunjukkan aneka wilayah telah dirambah.

Dalam dunia organisasi, ada jejaknya pula yang mustahil dimungkiri. Pada tahun 1960-an, Sapardi konon cukup aktif dalam kelompok para seniman muda. Mengenai kiprahnya ini aku tidak bisa menjadi saksi.

Namun untuk organisasi kesarjanaan yang bernama HISKI, sedikit banyak aku bisa menjadi saksi. Jika para dokter, sarjana ekonomi, atau para insinyur di Indonesia misalnya, sudah mempunyai organisasi, belum ada wadah bagi para sarjana sastra.

Atas keterlibatannya dalam sejumlah penataran atau pelatihan terhadap para sarjana sastra, khususnya dosen sastra, Sapardi memahami dengan baik adanya ketimpangan dalam pengajaran maupun pemahaman atas dunia sastra. Tergerak oleh keprihatinan tersebut, dalam penataran sastra di Tugu, Cisarua, November 1984, dibicarakanlah ide membentuk organisasi itu.

Pada tahun itu pula terbentuklah susunan pengurus pusat dengan Sapardi sebagai Ketua Umum. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa mendukung organisasi baru ini dan memberi satu ruang kerja.

Akan tetapi, pendaftar untuk menjadi anggota HISKi tidak pesat. Selain faktor prasarana dan komunikasi yang belum secanggih sekarang penyebabnya, ada hal lain yang menjadi kendala. Penghalang itu terletak pada “nama” atau “identitas”.

Ketika orang membaca Ikatan Dokter Indonesia atau Persatuan Insinyur Indonesia, misalnya, makna yang ditangkap tentang Indonesia adalah tempat. Frasa “dokter Indonesia” misalnya, hanya punya makna ‘dokter yang berdomisili atau tinggal di Indonesia’ berbeda dengan “kesusastraan Indonesia”. Itu sebabnya, di awal, banyak sarjana Sastra Belanda atau Sastra Jerman, sebagai contoh, ragu atau enggan bergabung.

“Makanya perlu tanda hubung antara kata sarjana dan kesusastraan biar kata Indonesia itu tetap hanya berarti wilayah, bukan kekhususan ilmu,” ujarnya kepadaku suatu malam pada tahun 1985.

Itulah pentingnya tanda baca yang mampu mengubah makna ketika disematkan. Maka, kepanjangan yang benar dari HISKI adalah Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia. Ada tanda hubung (-) antara “sarjana” dan “kesusastraan”. Dan Sapardi Djoko Damono pernah menjadi Ketua Umum HISKI selama tiga periode.
***

29 Juli 2020.

______________________
Ibnu Wahyudi, sastrawan kelahiran Ampel, Boyolali, Jawa Tengah 24 Juni 1958. Mengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (d/h Fakultas Sastra) Universitas Indonesia (UI), selain itu menjadi pengajar-tamu di Jakarta International Korean School (sejak 2001), di Prasetiya Mulya Business School (sejak 2005), di Universitas Multimedia Nusantara (sejak 2009), dan di SIM University Singapura. Pendidikan S1 di bidang Sastra Indonesia Modern diselesaikan di Fakultas Sastra UI (1984). Tahun 1991-1993, mengikuti kuliah di Center for Comparative Literature and Cultural Studies, Monash University, Melbourne, Australia dan peroleh gelar MA, serta menempuh pendidikan doktor (Ilmu Susastra) di Program Pascasarjana UI. Tahun 1997-2000, menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *