Sejarah Sastra Indonesia: Menemukan Titik Mula

Anjrah Lelono Broto *
inioke.com

Membaca sejarah perkembangan sastra Indonesia (periodisasi, menurut HB Jassin), ada tanda tanya besar yang berputar-putar di dalam benak kita. Benarkah sastra Indonesia diawali dari Angkatan Balai Pustaka?

Paus sastra Indonesia, HB Jassin, juga menetapkan bahwa sastra Indonesia diawali dari sastrawan-sastrawan yang bernaung di Balai Pustaka seperti Marah Rusli, Tulis Sutan Sati, Ama Datuk Mojoindo, Suman Hasibuan, dll. Bukankah mereka adalah sederet sastrawan berlatar belakang budaya Melayu? Continue reading “Sejarah Sastra Indonesia: Menemukan Titik Mula”

Pengangguran Terdidik Berpotensi Jadi Teroris

Anjrah Lelono Broto
http://suaraguru.wordpress.com/

Dari waktu ke waktu, Indonesia senantiasa berhadapan dengan problematika pengangguran. Naik-turun kuantitasnya dalam data Biro Pusat Statistik (BPS) maupun Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) seringkali tanpa diikuti kajian maupun program penanganan yang bersifat holistik lebih lanjut, terkait dengan karakteristiknya, peta persebarannya, maupun sektor ekonomi yang berpeluang besar yang dapat menampungnya. Seiring perkembangan akses pendidikan, karakteristik pengangguran di Indonesia juga mengalami perubahan. Continue reading “Pengangguran Terdidik Berpotensi Jadi Teroris”

Kematian Makna Kultural Bahasa

Anjrah Lelono Broto
http://www.kompasiana.com/anjrah_lelono_broto

Bahasa adalah Bangsa (Muhamad Yamin)

Bahasa adalah bagian integral materi yang dipergunakan manusia untuk menilai manusia lain. Ajining raga saka busana, ajining diri saka ing lathi (nilai fisik manusia diukur dari pola estetika berbusana, nilai moral dan spiritual manusia diukur dari bahasa, pen). Demikian sebuah unen-unen Jawa klasik yang mungkin pernah atau sering kita dengarkan. Harga diri kita dinilai dan dipersepsikan oleh orang lain (masyarakat) dari estetika berbusana dan berbicara (tindak bahasa aktif dengan menggunakan media lisan). Continue reading “Kematian Makna Kultural Bahasa”

Potret Sastrawan Perempuan

Anjrah Lelono Broto *

Menyoal penulis karya sastra (baca, sastrawan) berjender perempuan, besar kemungkinan angan kita akan melambung pada Ayu Utami, Hanna Fransisca, maupun Djenar Mahesa Ayu di Jakarta, dan atau (alm) Ratna Indraswari Ibrahim, Sirikit Syah, maupun Lan Fang di Jawa Timur. Apa yang menarik dan dibawa oleh sastrawan perempuan? Hal itu tentu saja dapat kita telanjangi dari karya-karyanya maupun latar belakang pribadinya. Akan tetapi, bagaimana posisinya dalam blantika realitas kehidupan? Continue reading “Potret Sastrawan Perempuan”

Bahasa ยป