Beberapa Rencana Bunuh Diri

Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

Dia membaca petunjuk di selebaran itu. Manggut-manggut. Melipatnya, lantas memasukannya ke dalam saku jaket. Tapi segera dirogohnya kembali, dibuka, dan dibaca lagi. Beberapa kali. Meraba tengkuknya. Sesuatu yang dingin bagai menjalar melewati punggungnya. Dia berjalan tergesa memasuki mal dengan pandangan lurus ke depan. Bunuh diri. Ide itu menghantuinya sejak beberapa pekan terakhir. Membuat tidurnya gelisah. Hasrat yang menggebu kerap memang mengganggu tidur. Keinginan menunaikan ide yang cukup menarik. Dia merasa tertantang. Continue reading “Beberapa Rencana Bunuh Diri”

Perihal Stagnasi Dunia Puisi Kita

Aris Kurniawan
http://www.sinarharapan.co.id/

Puisi-puisi penyair mutakhir hadir sekadar mengadopsi puisi-puisi yang ditulis penyair terdahulu. Baik bentuk maupun tema/isi. Tampaknya penyair mutakhir kita telah menyerah pada bentuk dan gaya tradisi penulisan puisi yang dirintis oleh para pendahulu mereka sehingga timbul kesan, penyair Indonesia mutakhir adalah generasi sisa yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada upaya dan keberanian penyair mutakhir untuk melakukan terobosan dalam kerja kreatif mereka. Continue reading “Perihal Stagnasi Dunia Puisi Kita”

Sastra dan Pemberontakan Kaum Perempuan

Aris Kurniawan*
http://www.prakarsa-rakyat.org/Republika

Sejak setidaknya satu dekade terakhir blantika sastra Indonesia diramaikan dengan fenomena tumbuhnya sastrawan perempuan yang demikian marak. Fenomena ini bukan semata pertumbuhan perempuan pengarang yang begitu subur secara kuantitas (meskipun sampai sekarang tetap tidak sebanding dengan jumlah laki-laki pengarang), melainkan karena karya-karya mereka dianggap telah melakukan terobosan. Continue reading “Sastra dan Pemberontakan Kaum Perempuan”

Stasiun

Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

INGATAN tentang kehilangan, kepergian, sesuatu yang mencemaskan, menjadi lampau, dan dilupakan, acap menerjang perasaannya saban ia sampai di stasiun kereta api. Kau akan melihat perempuan itu di antara kerumun orang-orang yang menanti kereta dengan pandangan penuh kepedihan yang memupus harapan tentang kepulangan, rumah, dan kehangatan. Jajaran pohon cemara, hamparan kerikil, batangan rel yang memanjang sampai titik terjauh, bentangan sawah, gedung sekolah masa remajanya di ujung sana serupa instalasi kepiluan yang membuat cedera di rongga batinnya makin menganga. Continue reading “Stasiun”

Romansa Kebun Tebu

Aris Kurniawan
http://www.sinarharapan.co.id/

Dua malam lagi aku akan meninggalkan kota ini. Beberapa menit setelah tiang listrik dipukul orang tiga kali, dan penjual nasi goreng mendorong gerobaknya pulang meninggalkan kawanan tukang becak yang terkapar di dalam becak mereka setelah lelah berjudi. Saat-saat seperti itulah aku bisa keluar dari kamar kontrakan dengan perasaan lapang. Mengunci pintu perlahan-lahan, kemudian meletakkannya bersama sebuah surat di bawah keset untuk ibu kontrakan. Continue reading “Romansa Kebun Tebu”

Bahasa ยป