Perihal Stagnasi Dunia Puisi Kita

Aris Kurniawan
http://www.sinarharapan.co.id/

Puisi-puisi penyair mutakhir hadir sekadar mengadopsi puisi-puisi yang ditulis penyair terdahulu. Baik bentuk maupun tema/isi. Tampaknya penyair mutakhir kita telah menyerah pada bentuk dan gaya tradisi penulisan puisi yang dirintis oleh para pendahulu mereka sehingga timbul kesan, penyair Indonesia mutakhir adalah generasi sisa yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada upaya dan keberanian penyair mutakhir untuk melakukan terobosan dalam kerja kreatif mereka.

Dengan kata lain, dunia perpuisian Indonesia mengalami stagnasi. Demikian kira-kira kegelisahan seorang penyair dalam sebuah diskusi. Kegelisahan penyair muda usia ini seakan hendak menegaskan lontaran Jamal D Rahman. Dalam konteks sepinya pembaruan dalam ranah puisi Indonesia pasca-puisi mantranya Sutardji dan puisi lirik-imajisnya Goenawan dan Sapardi Djoko Damono, Jamal pernah mengeluhkan, apa lagi yang mesti dilakukan penyair mutakhir untuk memberikan tindak pembaruan ketika semua bentuk dan gaya pengucapan puisi telah dilakukan penyair pendahulu?

Kegelisahan penyair muda usia ini bertolak dari realitas yang dinilainya telah menimbulkan kekhawatiran puisi akan semakin ditinggalkan oleh publiknya sendiri. Puisi menjadi dunia yang membosankan dan sia-sia, tidak menawarkan kesegaran dan orisinalitas yang mestinya menjadi pertaruhan dan sikap kesenian. Bahasa sebagai perangkat satu-satunya milik penyair ditengarai kurang dikuasai secara memadai oleh penyair mutakhir. Inilah barangkali yang dimaksud Edy A Effendi sebagai terganggunya wilayah basis reproduksi puisi.

Saya sepakat dengan kegelisahan kawan penyair ini, bahwa dari tahun ke tahun tidak ada ?kegaduhan? dalam dunia perpuisian kita. Kegiatan menulis puisi akhirnya menjadi sebuah proses adopsi bukan proses kreasi, sehingga tampak bahwa kerja kreatif penulisan puisi sekadar upaya untuk menghibur diri, iseng, mengisi waktu luang, klangenan yang tidak lagi mampu menambah perbendaharaan batin; memberi penyegaran dan rangsangan pemikiran. Puisi tidak berdaya mengimbangi realitas intelektual yang terus melaju. Laku klangenan serupa ini menjauhkan puisi sebagai ajang pertarungan pemikiran habisa-habisan dalam mencari bentuk pengucapan baru, pergulatan dengan bahasa. Yang menjadi pertanyaan, benarkah simplifikasi yang dibuat kawan penyair ini, bahwa fenomena ini merupakan gejala apa yang disebut Goenawan Mohamad sebagai machiavelisme kesusastraan? Yakni sebuah kecenderungan di mana pesan tema/isi menjadi pertaruhan dalam menulis puisi?

Kecenderungan ini sebenarnya merebak pada puisi-puisi yang muncul 80-90-an yang menjejalkan tema (pesan/isi) kepada puisi-puisi yang mereka tulis sehingga nasib puisi jatuh menjadi slogan dan jargon-jargon yang berakibat pada stagnasi, maka agaknya kegelisahan kawan penyair ini sudah terlambat. Bukan saja generasi tersebut sudah berlalu dan menjadi bagian dari perjalanan puisi Indonesia silam, tetapi juga bahwa sekarang telah lahir generasi penyair 2000-an yang bila dilihat kecenderungan mereka agaknya sesuai seperti yang diharapkan para pemuja bentuk serupa kawan penyair kita ini.

Dua Kubu
Bila kita cermati, arus besar kecenderungan puisi-puisi yang disiarkan media-media setidaknya sejak tahun 2000 adalah perayaan besar-besaran terhadap bentuk pengucapan seraya mengabaikan tema (pesan/isi). Bentuk menjadi pertaruhan habis-habisan. Dalam beberapa derajat tertentu kecenderungan ini juga menimbulkan kekhawatiran yang sama. Yakni keseragaman bentuk sehingga puisi kembali menjadi dunia yang membosankan dan sia-sia.

Fenomena ini dalam beberapa titik tertentu makin menemukan tempatnya yang lapang dengan munculnya kecenderungan dari sebuah kelompok yang bersemangat mengarahkan bentuk maupun gaya penulisan puisi pada selera yang mereka ciptakan, yang ditunjang dengan jaringan kuat dalam wilayah publikasi dan pertarungan ide, kelompok ini telah berhasil menjadi kiblat bagi arus kelahiran puisi dari para penyair mutakhir ini. Fenomena ini nampak dari berbondong-bondongnya para penyair mutakhir untuk menjadi epigon paling loyal terhadap kelompok ini. Keloyalan mereka ditunjukkan dengan perayaan mereka terhadap bentuk serta pengucapan yang dimirip-miripkan dengan sang ?messiah? puisi Indonesia.

Salah satu ciri kelompok ini adalah kecenderungan yang menempatkan puisi sebagai entitas yang harus dijauhkan dari segala macam pesan. Sebagai karya seni puisi tidak selayaknya dibebani pesan, untuk menghindarkan sastra terpuruk menjadi slogan atau alat untuk menyampaikan sikap penyairnya terhadap kehidupan. Puisi semata diletakkan sebagai unjuk kemahiran memilin-milin kata, mengeksplorasi bahasa untuk mengejar efek ritmis. Dengan demikian puisi tidak berfungsi sebagai kontrol sosial, apalagi membersihkan politik yang kotor seperti harapan keterlaluan seorang John F Kennedy. Tetapi kondisi serupa ini tidak kemudian membuat sastra menjadi asing dari semangat jaman yang melahirkannya.

Puisi-puisi jenis ini yang lahir dari generasi 2000 tetap bisa menunjukkan semangat zamannya, yakni semangat yang lebih tenang dan dewasa menyikapi realitas sosial politik yang mengepung mereka. Dengan kata lain, puisi-puisi pemuja bentuk yang oleh sebagian kalangan dituding sebagai puisi-puisi masturbasis, adalah representasi dari cara lain dalam menyikapi gelimang realitas sosial politik yang carut marut. Tentu tidak ada yang salah dari fenomena ini. Sejarahlah yang kelak mengujinya.

Kembali pada mandeknya puisi-puisi era 80-90-an yang digelisahkan secara terlambat oleh penyair kawan kita, saya melihat justru ini bentuk pencapaian lain, setelah puisi lirik-imajinya Sapardi Djoko Damono, puisi mbelingnya Remy Silado, puisi mantranya Sutardji, puisi pamfletnya WS Rendra maupun puisi intelektualnya Goenawan Mohammad. Karena toh jargon-jargon yang dilekatkan pada puisi para penyair tersebut sebatas jargon yang juga bisa diciptakan dan dilekatkan pada jenis puisi yang lahir sesudahnya. So what gitu lho?

Pada akhirnya, tidak bisa tidak, wacana yang diangkat penyair kawan kita ini mengingatkan kembali pada pertarungan abadi antara dua kubu dalam sastra. Pertama, kubu yang memandang bahwa sastra adalah dunia teks yang bekerja di wilayah ide, kekuatan imajinasi dan bahasa; tidak berurusan dengan moral, politik, serta perkara di luar teks lainnya. Fuentes, salah seorang yang mengimani bahwa tanggung jawab penyair adalah meletakkan kekuatan imajinasi dan kemampuan berbahasa.

Sementara kubu yang kedua memandang puisi punya tanggung jawab terhadap masyarakat. Kubu ini mengukuhi bahwa kehadiran puisi harus merefleksikan situasi masyarakat yang melahirknanya, untuk kemudian ikut menyampaikan pesan-pesan dan memperjuangkan keberpihakan bagi ?kebenaran? masyarakat luas.

Kedua kubu ini masing-masing memiliki argumen yang sama-sama kuat. Jadi saya kira biarlah keduanya menempuh jalannya masing-masing.***

*) Penulis adalah direktur Astra (Akademi Sastra Tangerang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *