Sastra dan Sepakbola

Asarpin *

Dalam sebuah cerita tentang bola, Ugoran Prasad—cerpenis dan penulis naskah teater kelahiran Lampung—menampilkan sebuah kisah amat sederhana, namun menggugah dan kena. Ugoran begitu pintar mengolok-olok dengan bahasa yang tak terduga, dan mengejutkan.

Sepanjang kompetisi antarkota, sepasang ujung tombak kembar Gunung Terang mengamuk, demi membentang cita-cita tinggi-tinggi. 7 gol untuk sepatu Kaisar, 13 untuk sepatu Tuhan. Begitu juga Asan, yang sebenarnya cukup membuat satu gol saja. Satu yang mengatasi gabungan seluruh gol di kompetisi ini. Continue reading “Sastra dan Sepakbola”

Teks dan Tafsir

Asarpin

Dari hari ke hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun, kita mengalami perubahan cara memandang apa yang disebut teks dan tafsir, entah itu teks puisi atau teks Kitab Suci. Bahkan apa yang dinamakan realitas dan sejarah di hari-hari telah mengalami sebuah proses yang tak selesai. Demikian pula apa yang kita namakan syair, ternyata tak lebih sebagai takwil. Sementara pemahaman kita terhadap pengarang, teks, dan pembaca, kerap kali berputar-putar tak tentu tuju. Continue reading “Teks dan Tafsir”

Stanislavski, Iswadi, dan Teater Realis

Asarpin

Sudah banyak yang menggugat fenomen teater yang menampilkan dialog yang tidak cerdas dan hanya berlarat-larat sehingga tidak mempunyai ruang untuk persiapan batin seorang aktor, apalagi sampai menggarap detail di tingkat tubuh aktor. Wajar saja jika suatu waktu orang rindu lagi dengan teater monolog sebagai jalur alternatif menghadapi kebuntuan. Tapi ternyata tak mudah dan orang kembali ke teater dialog dengan mempelajari buku-buku aktor dari Constantin Stanislavski. Continue reading “Stanislavski, Iswadi, dan Teater Realis”

Aku Bermain Aktor

Asarpin

Sebelum bukunya terbit, namanya sudah melegenda.Orang mengenalnya sebagai dramaturg besar setelah kepergian dramawan Utuy Tatang Sontani. Bahkan tokoh kita ini seorang pelopor drama kontemporer di tanah airnya, baik ihwal mengenai konsepsi penulisan naskah maupun pementasan. Baginya, seorang belum pantas menerima gelar dramawan hebat bila tak punya konsepsi di bidangnya. Konsepsi-lah yang membedakan seorang dramawan besar dan drawaman ecek-ecek, sebagaimana kredo puisi adalah yang menjadikan puisi dan Sutradji dianggap lebih kuat dan lebih siap dari puisi dan Chairil Anwar. Continue reading “Aku Bermain Aktor”