Asarpin *
Saya memandang sebuah foto yang tak terlampau bagus, namun kena untuk tema yang kita bicarakan di sini: tentang mudik dan balik, atau rumah dan pulang dalam sajak. Dua orang sedang melintas rel kereta sambil menenteng sebuah koper, tepat ketika kedua orang itu sedang berada di lintasan rel. Di kiri kanan rel dengan warna hitam pekat itu, tampak kerumunan orang yang berdesakan menunggu kereta tiba. Foto hitam putih itu memang tak dimaksudkan sebagai teror mental, tapi lebih sebagai foto realis yang menyuguhkan tempat atau rumah bagi seorang penyair. Continue reading “Mudik dan Balik dalam Sajak”
