Mudik dan Balik dalam Sajak

Asarpin *

Saya memandang sebuah foto yang tak terlampau bagus, namun kena untuk tema yang kita bicarakan di sini: tentang mudik dan balik, atau rumah dan pulang dalam sajak. Dua orang sedang melintas rel kereta sambil menenteng sebuah koper, tepat ketika kedua orang itu sedang berada di lintasan rel. Di kiri kanan rel dengan warna hitam pekat itu, tampak kerumunan orang yang berdesakan menunggu kereta tiba. Foto hitam putih itu memang tak dimaksudkan sebagai teror mental, tapi lebih sebagai foto realis yang menyuguhkan tempat atau rumah bagi seorang penyair. Continue reading “Mudik dan Balik dalam Sajak”

Skizofrenia, Kegilaan, dan Modernitas: Perihal Prosa Iwan Simatupang

Asarpin *

Novel pelacur mesti diuji keampuahannya
dari suatu keadaan tepi-tepi terakhir
tepi yang menari-nari di remang kejauhan
Tepi, daerah terakhir sebelum ketamatan
–IWAN SIMATUPANG

Seorang novelis terkemuka memutuskan untuk menarik diri dari situasi politik yang sedang riuh. Setiap saat ia merasa dipaksa oleh suatu tata pemerintahan di negerinya untuk patuh dan mengikuti segala aturan yang telah ditetapkan. Continue reading “Skizofrenia, Kegilaan, dan Modernitas: Perihal Prosa Iwan Simatupang”

Buyung dan Upik

Asarpin

Ada sebuah keluarga yang memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan, yang tak sempat diberi nama. Bahkan hingga dewasa kedua anak itu tak sempat punya nama. Orang tuanya merasa tak pernah memberi nama. Tapi karena setiap manusia mesti dipanggil dengan sebuah nama, maka keduanya dipanggil Buyung dan Upik. Sebuatan Buyung dan Upik tidak hanya terdapat dalam masyarakat Minang. Orang Lampung juga menggunakan sebuatan itu, hanya saja kalau dia perempuan disebut Opek dan laki-laki sama, disebut Buyung. Continue reading “Buyung dan Upik”

Realisme Cerita Pendek

Asarpin *

Koran, tempat lahirnya banyak cerita pendek di negeri ini, tampaknya tak ragu-ragu memuat cerita pendek dengan narasi yang memang pendek. Jika awalnya banyak menuai kritik, lantaran berbaur dengan realisme berita koran yang cepat dan jelas–seperti kritikan yang muncul dengan sebutan ‘sastra koran’ yang sinis beberapa tahun terakhir. Cerpen koran bagaimana pun telah menyita energi sebagian pemerhati sastra di tanah air. Ia sering dihakimi sebagai cerita yang melulu tunduk pada realisme berita. Continue reading “Realisme Cerita Pendek”

Bahasa »