Buyung dan Upik

Asarpin

Ada sebuah keluarga yang memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan, yang tak sempat diberi nama. Bahkan hingga dewasa kedua anak itu tak sempat punya nama. Orang tuanya merasa tak pernah memberi nama. Tapi karena setiap manusia mesti dipanggil dengan sebuah nama, maka keduanya dipanggil Buyung dan Upik. Sebuatan Buyung dan Upik tidak hanya terdapat dalam masyarakat Minang. Orang Lampung juga menggunakan sebuatan itu, hanya saja kalau dia perempuan disebut Opek dan laki-laki sama, disebut Buyung.

Kalau orang tua melahirkan seorang anak dan tak sempat memberinya nama, sudah lazim kalau anak itu berjenis kelamin laki-laki akan dipanggil Buyung dan kalau perempuan dipanggil Upik. Dan keduanya, biasanya, tak merasa masalah dipanggil Buyung dan Upik. Namun jadi masalah ketika keduanya mau bikin Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Di kampung saya, ketika menjelang Idul Fitri, ada seorang Buyung yang ingin membuat KTP. Ia ingin merantau ke Jakarta setelah Idul Fitri, ikut bersama temannya. Ia ingin jadi pengamen, karena di kampungnya ia tak bias bertani. Kaki sebelahnya cacat sejak lahir dan karena itu ke mana-mana ia selalu membawa tongkat kayu. Tapi suaranya sangat bagus. Ia pintar menyanyi lagu klasik Lampung, juga berbagai lagu dangdut. Orangnya sangat ramah, juga tampan.

Ketika pagi itu ia mendatangi rumah kepala pekon (Kepala Desa) dengan mengutarakan maksudnya, yaitu meminta surat pengantar untuk membuat KTP di kantor kecamatan, pak lurah mengambil formulir di laci meja kemudian bertanya perihal nama. Tentu saja ia menyebut namanya Buyung. Tapi pak lurah rupanya protes: “Buyung itu kan panggilan, bukan namamu! Ada nama lain selain Buyung?” tanya pak Lurah. Si Buyung menjawab: “Nama saya Buyung, tidak ada nama lain”. “Aduh, bagaimana ini ya”, kata pak Lurah sambil menatap kea rah wajah Buyung.

Pak Lurah tahu betul kalau nama Buyung bukan nama sebenarnya dari kedua orang tuanya, tapi nama sementara karena orang tuanya tak pernah memberi nama. Maka si Buyung akhirnya diminta harus punya nama selain nama Buyung, baru bisa bikin surat pengantar untuk membuat KTP. Singkat cerita, si Buyung akhirnya mengalah dan ia menyodorkan nama Zainuddin.

Begitulah yang terjadi. Kasus orang tua yang tak sempat memberi nama pada anaknya memang tak begitu banyak, tapi dari satu dua kasus, ada yang unik dan menggelitik di situ. Hal ini ada kaitannya dengan sebuah perbincangan yang amat luas yang selama ini dikenal dengan sebutan “identitas” dan “non-identitas”.

Anda mungkin tak percaya kalau orang tua sampai tak punya persiapan nama untuk calon si buah hatinya. Anda mungkin akan menuduh mereka terpengaruh ucapan William Shakespeare ketika si Juliet berkata kepada Romeo dalam sebuah adegan: “Apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar, andaikan mawar bersalin dengan nama lain. Ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama mawar. Romeo, tanggalkan namamu. Untuk mengganti nama yang bukan bagian dari dirimu itu, ambillah diriku seluruhnya”.

Tapi kata-kata itu terlampau puitis dan tinggi untuk ukuran orang kampung seperti Buyung atau orangtuanya. Saya tak yakin orangtuanya pernah membaca atau menonton drama Romeo dan Juliet. Tapi saya yakin orangtuanya menganggap nama bukan segala-galanya. Orangtua Buyung tipe orang yang santai, tidak terlampau menggebu memberi nama bahkan kepada anak pertamanya.

Karena setiap orang mesti dipanggil dengan sebuah nama, maka nama Buyung yang tak pernah diberi orangtuanya tetap ingin ia pertahankan. Walau ia tahu status nama itu hanya nama panggilan. Ia sebenarnya tak punya nama. Masyarakat-lah yang memberi nama demikian. Dan mustahil kalau seseorang tidak punya panggilan sekalipun tidak mustahil bahwa seseorang terlahir tanpa menyandang nama.

Nama terpaut dengan persoalan filsafat dan politik sekaligus. Nama adalah tanda atau penanda. Dalam bahasa Arab ada istilah asma atau ayat. Nama diberikan kepada orang dan benda untuk memberikan tanda pada mereka sehingga dengan tanda tersebut mereka dapat dikenal dan dibedakan satu dengan yang lain. Nama-nama Allah juga merupakan tanda-tanda dari Hakikat Suci-Nya; dan hanya nama-Nya yang dapat dikenal oleh manusia. Hakikat Tuhan itu sendiri tidak diketahui oleh siapa pun. Bahkan penghulu para nabi (khatam al-anbiy), manusia yang paling berpengetahuan dan mulia, tidak dapat mencapai pengetahuan tentang-Nya. Manusia hanya dapat mengetahui nama-nama Allah, yang dalam Islam dikenal istilah asmaul husna.

Untuk mengetahui nama-nama Allah sendiri, di kalangan sufi dikenal tiga tingkatan, yaitu kita dapat mengerti sebagian nama, sebagian lain hanya dapat dimengerti Rasulullah, para awliya, dan orang-orang yang mendapat petunjuk-Nya.

Nama adalah sebuah ciri, sebuah langkah untuk memudahkan pengkategorian. Nama berfungsi untuk memudahkan pengklasifikasian. Memudahkan memberi tafsir, memudahkan mengontrol, gampang untuk diseragamkan, gampang diberi cap ini dan itu. Karena itu setiap benda setiap makhluk, apalagi manusia, mesti punya nama atau mesti dinamai. Tidak bisa tidak orang harus punya nama. Tidak punya nama bukan manusia!

Alhasil, nama jadi segala-galanya. Pada mulanya adalah nama. Lalu nama berubah jadi unit. Pada mulanya adalah nama, kemudian makna. Hasrat memberi nama adalah karena hasrat untuk memberi makna. Nama berubah menjadi pokok sekaligus tokoh dalam fakta maupun fiksi. Makna menjadi sesuatu yang mesti ada, kalau perlu diadakan. Itulah kasus yang menimpa Buyung dan Opek yang berubah jadi Zanuddin dan Maimunah.

Nama hampir sama dengan kata. Setiap kata mesti ada makna, kalau tidak, bukan kata. Ketika Sutardji menulis kredo puisi tentang membebaskan kata dari beban makna yang disandangnya, sekaligus menulis puisi tidak melulu tergantung pada kata, banyak orang yang terperangah dan menampik. “Menulis puisi bagi saya berarti membebaskan kata-kata dari beban makna yang disandangkan padanya”, tegas Tardji. Dengan kata lain, yang dilakukan Sutardji sebetulnya pembebasan dari nama dan makna.

Nama memegang peran kunci terhadap hal-ihwal. Bahkan dalam Kitab Suci disebutkan: apa yang membedakan manusia dengan malaikat adalah nama. Adam bisa memberikan nama, sedang malaikat sebagai makhluk yang sepenuhnya instrumental, tidak. Nama, mengutip tafsiran Goenawan Mohamad (dari pemikiran Adorno dan Benjamin), adalah sebuah cara menangkap kembali pengetahuan kita yang konkrit tentang yang-partikular. Nama merupakan tempat kita membebaskan diri dari “dorongan hati untuk mengklasifikan”.

Nama juga bisa menjadi sarana manusia untuk menebus kembali apa yang unik yang dihilangkan oleh klasifikasi dan pertukaran. Maka kini banyak orang bicara tentang “nonidentitas” sebagai perlawanan terhadap politik klasifikasi, politik pencirian, politik pelabelan. Tapi perlawanan “sang nonidentitas” itu kini tak mudah lagi, terutama ketika dunia sudah terlanjur terdiri dari kehidupan politik yang tak memberi tempat kepada yang “tanpanama”.
***
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/