Calon Arang dan Gadis Arivia

Membaca Kritik Sastra dengan Pendekatan Feminisme
Asep Sambodja*
Sinar Harapan, 1 Maret 2008

SUNGGUH menarik membaca artikel Gadis Arivia, ”Calon Arang Calon Feminis: Kisah Pramoedya dan Kisah Toeti Heraty” yang dimuat di Jurnal Perempuan edisi 30 (2003). Dalam artikel itu, Gadis menyebut Pramoedya dan Toeti adalah feminis sejati. Hanya saja, ketika keduanya menulis tentang dongeng Calon Arang, timbul masalah, ”adakah di antara mereka dalam karya Calon Arang yang telah membelot dari feminisme?” Continue reading “Calon Arang dan Gadis Arivia”

Saut Situmorang: Lahir Seorang Besar dan Tenggelam Beratus Ribu

Asep Sambodja *
boemipoetra.wordpress.com

Ketika saya mendapat pesan singkat dari Saut Situmorang bahwa buku puisinya, otobiografi, telah terbit, saya sedang berada di kereta Taksaka menuju Yogyakarta. Dan saya memutuskan untuk segera mencari buku itu begitu sampai. Keesokan harinya, saya kesusahan mencari buku itu di Toko Buku Social Agency Kaliurang yang terkenal murah itu. Setelah lelah mencari, akhirnya saya meminta bantuan petugas untuk mencarikan di komputernya. Ternyata buku otobiografi Saut Situmorang itu diletakkan di rak buku sejarah, berdekatan dengan biografi Tan Malaka dan Pengantar Ilmu Sejarah Kuntowijoyo. Continue reading “Saut Situmorang: Lahir Seorang Besar dan Tenggelam Beratus Ribu”

Taufiq Ismail Salah Tafsir Puisi Mawie Ananta Jonie

Asep Sambodja
oase.kompas.com

Dalam buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI DKK (1995), Taufiq Ismail menulis, “Enam bulan menjelang Gestapu, Mawie sudah berkata “kunanti bumi memerah darah”. Tepat, karena dia sudah tahu sebelumnya” (lihat halaman 219).

Apa yang salah dari kalimat Taufiq Ismail itu? Pernyataan itu merupakan interpretasi terhadap puisi Mawie Ananta Jonie yang berjudul Kunanti Bumi Memerah Darah yang dimuat di harian Bintang Timur pada 21 Maret 1965. Merujuk pada jalan pikiran kalimat itu, enam bulan kemudian terjadi peristiwa G30S. Dan, Taufiq mengatakan, “Dia sudah tahu sebelumnya.” Continue reading “Taufiq Ismail Salah Tafsir Puisi Mawie Ananta Jonie”