Puisi-Puisi Asep Sambodja

Ia Menulis Puisi Sedih

ia merasa sebagai laki-laki paling malang sedunia
ia menulis puisi cinta
antara ibunya dengan laki-laki entah siapa

ia merasa sangat peduli dengan adik-adiknya
yang tertidur dengan tenang
di bawah batu-batu nisan
di taman makam bukan pahlawan

hanya ibunya yang belum ia bunuh
meski ia tahu ibunya selingkuh

ia merasa sebagai laki-laki paling malang di dunia
ia menulis puisi cinta
dengan darah yang mengalir dari jari-jarinya

tapi puisi itu tak pernah selesai ditulisnya
tak kan pernah selesai
karena sang ibu menangis
di depan jasadnya

Citayam, 22 September 2009.

Kepada Medy Loekito

bahwa kita akan mati itu sudah pasti
tapi siapa bersamamu menjengukku?
menjenguk rangkaku?

aku tahu ada nonny, anggoro, tulus…
ada endo, badri, arumdono…
tapi siapa yang bersamamu?
penyairkah?
penyihir? semacam peri?

bahwa kematian itu kepastian dalam hidup
malaikat pun tahu
penyair tua pun tahu
tapi apa yang kau berikan padaku
lewat belaian jemarimu itu?
lentik jarimu itu?
apa yang kau ucapkan dalam diammu?

ada yang kau lekatkan di keningku
saat kau sedih katakan:
“mas asep sakit, bung saut sakit…”

hidup seperti sebuah puisi
yang harus segera diselesaikan

Citayam, 26 Oktober 2009.

Kepada Novi Diah

telah kuarungi filsafat pemberontakan
tentang hidup yang absurd
tentang cinta yang nonsens
dan yang ketemukan adalah empu gandring
yang mengelus-elus kerisnya
untuk menjemput maut dengan segala sumpah-serapah
yang tak menambah kesaktiannya

aku bertemu madame bovary
yang bimbang antara cinta dan birahi
ia menyesali perkawinannya dengan seorang dokter
yang tak bergairah di ranjang
dingin
dan ia lari pada pelukan tuan tanah la huchette
dan hanyut dalam pelukan seorang juru tulis rouen
ia mendapatkan hangatnya birahi
luapan nafsu yang memuncak dan tak tertahankan
tapi ia tak dapati cinta
hanya gairah
hanya birahi
yang tak habis-habis
hingga ia memilih menenggak arsenik bikinan homais
agar tak merepotkan suaminya yang baik hati
yang baik hati!

di sebuah kitab cinta kaum sufi
terpatri kata-kata suci
bahwa cinta yang kau berikan
adalah untukmu sendiri
cinta yang kau berikan padanya
adalah untukmu sendiri
meski ia tak acuhkan cintamu
ia tetap milikmu sendiri
tak ada yang kurang
tak ada yang hilang

Citayam, 21 Februari 2010.

Jangan Sakiti Luna

jangan sakiti luna
ia seperti prita
yang hanya mengkritik ketidakberesan

prita mengkritik rumah sakit
luna mengkritik infotainment
tapi rakyat menyayangi prita
rakyat mencintai luna

maka jangan sakiti luna
ia cukup menghibur rakyat kecil
walau hanya senyum di televisi
daripada menonton pejabat-pejabat korup
yang bicara berbusa-busa
menutupi kebohongan dengan kebohongan lain

lebih baik menonton luna
daripada menonton gosip
yang presenternya aduh lucu sekali
berkerudung di bulan suci
tapi di bulan tak suci
payudaranya senantiasa berjuang
demi kemerdekaan abadi

pring reketeg gunung gamping ambrol
susu menteg-menteg bokong gede megal-megol…

Citayam, Natal 25 Desember 2009.

Seandainya Saya Luna Maya

barangkali aku akan mati berdiri
kalau setiap hari
pertanyaan yang kudengar hanya ini:
kapan kawin?

ah, pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu saja
tak pernah berkembang
tak pernah bermutu
dari dulu hingga nanti
pertanyaannya melulu kawin, kawin, kawin…
kalau sudah kawin:
selingkuhkah?
kapan cerai?
ah!

tak ada berita

dan aku hanya jadi barang dagangan
bagi gosipers dan paparazi
yang haus urusan orang lain

Citayam, 18 Desember 2009.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=211890058839867