Ziarah Imajinasi: Kata dan Kota

Bandung Mawardi*
http://www.lampungpost.com/

Kata mengantarkan manusia untuk menciptakan, menemukan, menghancurkan, atau membunuh kota. Drijarkara (1956) mengingatkan, kota itu kata dan ruang yang mengandung kengerian dan risiko.

Kota sebagai kata memang memberi utopia dan janji indah tapi melenakan dan melengahkan. Kota sebagai ruang hidup adalah ruang kompetisi, konfrontasi, dan konflik. Kota dalam kisah dan deskripsi itu lahir dengan narasi kata dan kekuatan imajinasi. Kota itu hidup dan mati karena imajinasi dalam suatu konstruksi teks. Drijarkara menulis arti kota dengan referensi fakta kota-kota di Indonesia. Continue reading “Ziarah Imajinasi: Kata dan Kota”

Doa dan Puisi

Bandung Mawardi
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

PUISI dan doa adalah urusan estetika dan religiositas. Puisi dan doa lahir dengan bahasa. Kata-kata memiliki peran dan kekuatan yang dikonstruksi untuk representasi atau realisasi. Puisi adalah konstruksi kata yang memiliki konvensi-konvensi estetika untuk mencapai sublimasi. Doa adalah konstruksi kata dengan konvensi-konvensi religius untuk mengucapkan dan mengungkapkan seruan, keluhan, pengharapan, dan kemauan. Continue reading “Doa dan Puisi”

Jurus Menulis Esai

Bandung Mawardi*
http://www.suaramerdeka.com/

TRADISI menulis esai di Indonesia memiliki jejak panjang sejak tahun 1930-an. Majalah Pujangga Baru memiliki ruang besar untuk tradisi penulisan esai dengan pelbagai fokus: bahasa, sastra, seni, kebudayaan, pendidikan, sosial, dan filsafat. Esai pada saat itu adalah tulisan bebas dengan acuan pengamatan, pembacaan, penafsiran, penilaian sesuai pandangan pengarang yang cenderung subjektif. Continue reading “Jurus Menulis Esai”

Sastra dan Pahlawan

Bandung Mawardi*
http://www.surabayapost.co.id/

Toto Sudarto Bachtiar pada bulan November 1955 menulis sebuah puisi terkenal dengan judul ?Pahlawan Tak Dikenal?. Toto menuliskan puisi itu sebagai rekaman dari perenungan dan pengentalan selama 10 tahun ketika ikut dalam perjuangan kemerdekaan 1945. Toto mengisahkan: Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring / Tetapi bukan tidur, sayang / Sebuah lubang peluru bundar di dadanya / Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang. Continue reading “Sastra dan Pahlawan”