Benny Arnas
suaramerdeka.com
PESAWAT itu tinggal landas. Menyusur langit yang membentang biru keputihan. Ah, adakah yang peduli dengan apa yang mengeriap dalam diriku? Memang, hidup ini bukan tentang peduli-memeduli. Bukan juga tentang rasa yang makin dibunuh makin menyuluh. Aku tak akan menyeret Yusuf dalam khidmatnya perasaan ini karena laki-laki itu memang tak tampan. Muhammad? O, aku tak mau kualat membawa-bawa suami Khadijah itu; ia hanya lelaki -yang sangat- biasa. Continue reading “Seperti Natnitnole”
