Beginilah Buah Khuldi Itu Jatuh

Benny Arnas *
suarakarya-online.com

Khidmatilah cerita ini seperti engkau menggunting daun pandan yang tak mampu dianyam menjadi setangkai ingatan. Bacalah cerita ini seperti engkau menyeruput kopi dalam cangkir yang tak ikut serta dibeli. Bacalah cerita ini seperti engkau melumat setiap lelaki seolah tak peduli bahwa; di taman merah lavender, Hawa juga turut serta memakan buah khuldi …. Bacalah! Continue reading “Beginilah Buah Khuldi Itu Jatuh”

Hati adalah Lubuk Merah, Membaca “Biografi” Hanna Fransisca

Benny Arnas
Riau Pos, 2 Januari 2011

“Di Sudut Bibirmu Ada Sebutir Nasi” (DSBASN), sajak kedua dari buku puisi Hanna Fransisca yang bertajuk Kode Penyair Han (Kata-Kita, 2010), dibagi dalam empat bagian. Pembagian dalam sajak yang diberi sub judul “:biografi Han” tersebut tampaknya dibuat dengan pertimbangan yang matang. Bila biografi adalah catatan runut, maka DSBASN adalah cerita yang teratur. Memang, pembagian tersebut tidak dimaksudkan untuk menjelaskan perjalanan dalam kerangka waktu, setting, dan konflik tertentu sebagaimana plot dalam cerpen, atau bab dalam novel. Continue reading “Hati adalah Lubuk Merah, Membaca “Biografi” Hanna Fransisca”

Catatan Kaki Tentang Lokal(itas)

Benny Arnas *
lampungpost.com

Menjadi lokal adalah menyelami tema-tema sastra dengan sepenuh hati. Mencintai apa-apa yang ia karang dengan mesra. Kerja mengarang yang sudah sampai pada titik ini akan menghasilkan karya yang kuat dalam menyajikan (sekaligus menggambarkan) setting, alur, dan (karakter) tokoh. Hingga akhirnya, selain meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknai cerita, juga melahirkan keintiman estetis-psikologis dengan pembaca. Maka, lokalitas dalam sastra sama nilainya dengan memasuki taman bunga. Merasakan wangi bunga yang partikular. Aroma mawar, melati, anyelir…, mencuat dari dalamnya. Continue reading “Catatan Kaki Tentang Lokal(itas)”

Bahasa »