Toto Terbaring, Tetapi bukan Tidur, Sayang

Binhad Nurrohmat *
Pikiran Rakyat, 20 Okt 2007

SIANG itu telepon genggam saya menerima sebuah pesan pendek dari penyair Bandung, Ahda Imran, yang mengabarkan kematian penyair Toto Sudarto Bachtiar. Sekian menit kemudian telepon genggam saya beruntun menerima pesan pendek serupa dari penyair Cirebon, Ahmad Syubbanuddin Alwy dan dari penyair “hujan” Sapardi Djoko Damono. Diam-diam, saya merasakan ada suatu keanehan menjalari saya ketika menerima semua pesan pendek ini, Continue reading “Toto Terbaring, Tetapi bukan Tidur, Sayang”

‘Gerakan Tirani Sastra’ Taufiq Ismail

Binhad Nurrohmat*
Borneonews, 28 Oktober 2007

Akademi Jakarta (AJ) menyelenggarakan diskusi bertopik seputar cakrawala penciptaan dan pemikiran pada Agustus 2007 lalu di TIM, Jakarta, yang mendatangkan pembicara antara lain Yudi Latif dan Karlina Leksono serta dihadiri anggota AJ antara lain Rendra, Nh. Dini, Rosihan Anwar, Ahmad Syafii Maarif, dan Misbach Yusa Biran. Dalam diskusi itu saya mempertanyakan dan menuntut pertanggungjawaban AJ yang menggelar acara Pidato Kebudayaan Akademi Jakarta 2006 oleh Taufiq Ismail yang berjudul “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka” di TIM, Jakarta, Desember 2006 silam. Continue reading “‘Gerakan Tirani Sastra’ Taufiq Ismail”

Puisi dan Batin Kebudayaan

Binhad Nurrohmat*
Padang Ekspres, 15 Feb 2009

KAMUS, tata bahasa, mesin cetak, telepon, dan internet memperpesat pergaulan dan perkembangan kebudayaan modern. Pada masa lampau, jarak geografis dan perbedaan bahasa menjadi kendala interaksi antarmanusia dan kebudayaannya, tapi kemajuan peradaban membuat bentangan jarak geografis bisa disambungkan oleh teknologi komunikasi dan hambatan perbedaan bahasa dapat dijembatani oleh penerjemahan. Continue reading “Puisi dan Batin Kebudayaan”

“Horison” dan Generasi Pasca-Orba

Binhad Nurrohmat*
Kompas, 24 Des 2006

Life begins at forty, kata orang, dan tahun ini majalah Horison berumur 40 tahun—sebuah rekor hidup majalah kesusastraan yang belum tertandingi di negeri ini. Majalah kesusastraan berbahasa Indonesia itu lahir setelah kekuasaan Orde Lama tutup buku dan ketika kekuasaan Orde Baru baru berdiri. Majalah bulanan yang legendaris itu terbit pertama kali pada Juli 1966 dengan SIT No.0401/SK/DPHM/SIT/1966, 28 Juni 1966 dan SIUPP No.184/SK/MENPEN/SIUPP D.I/1986, 3 Juni 1986. Continue reading ““Horison” dan Generasi Pasca-Orba”