Posted by PuJa on April 14, 2011
Binhad Nurrohmat* Padang Ekspres, 15 Feb 2009 KAMUS, tata bahasa, mesin cetak, telepon, dan internet memperpesat pergaulan dan perkembangan kebudayaan modern. Pada masa lampau, jarak geografis dan perbedaan bahasa menjadi kendala interaksi antarmanusia dan kebudayaannya, tapi kemajuan peradaban membuat bentangan jarak geografis bisa disambungkan oleh teknologi komunikasi dan hambatan perbedaan bahasa dapat dijembatani oleh penerjemahan.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on April 12, 2011
Binhad Nurrohmat* Kompas, 24 Des 2006 Life begins at forty, kata orang, dan tahun ini majalah Horison berumur 40 tahun—sebuah rekor hidup majalah kesusastraan yang belum tertandingi di negeri ini. Majalah kesusastraan berbahasa Indonesia itu lahir setelah kekuasaan Orde Lama tutup buku dan ketika kekuasaan Orde Baru baru berdiri. Majalah bulanan yang legendaris itu terbit [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on April 8, 2011
Binhad Nurrohmat* http://cabiklunik.blogspot.com/ dengan kaki telanjang; kita berziarah ke kubur orang-orang yang telah melahirkan kita. Jangan sampai mereka terjaga! Kita tak membawa apa-apa. Kita tak membawa kemenyan atau pun bunga-bunga; kecuali seberkas rencana-rencana kecil (yang senantiasa tertunda-tunda) untuk kita sombongkan kepada mereka.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on March 28, 2011
Binhad Nurrohmat http://www.ruangbaca.com/ Majalah Pujangga Baru menjadi “penyambung lidah” pemikiran Takdir dan melahirkan “gaya nasionalistik-romantik Pujangga Baru”. Sutan Takdir Alisyahbana adalah sebuah nama yang menjulang serta suara lantang yang polemis dalam ranah kebudayaan kita. Takdir tertoreh tebal dan kontroversial di pagina sejarah kebudayaan lantaran pemikirannya yang dinilai amat berkiblat ke Barat dan kritiknya yang tajam [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on October 5, 2010
Binhad Nurrohmat Pikiran Rakyat 19 Sep 2010 DAMHURI Muhammad dalam bukunya Darah-Daging Sastra Indonesia (2010) menuding ada jenis “kritikus sastra serupa hama tikus perusak tanaman di ladang sastra.” Hiperbola Damhuri itu merupakan gusar besar terhadap kritikus sastra yang gencar memburu kelemahan karya sastra dan malas melacak kekuatannya. Kritikus sastra serupa itu adalah seteru karya sastra [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 28, 2010
Binhad Nurrohmat http://www.kr.co.id/ BILA DISENSUS, penembus rekor tertinggi jumlah penulis sastra kita selama ini adalah penyair. Makhluk ini sangat populer, “sakral”, sarat legenda serta mitos dalam dunia penulisan sastra kita selama ini, dibandingkan makhluk lain bernama novelis maupun kritikus. Dua penulis sastra yang terakhir ini jumlahnya minim, bisa dikata hanya sehitungan jari tangan kita. Penyair [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 22, 2010
Binhad Nurrohmat http://www.kr.co.id/ HIDUP bergelora gairah, bergelimang pesona imajinasi, entah kenapa, condong lebih gampang dicari di dua titik dunia saling berseberangan ekstrem: dunia kejahatan dan dunia kebaikan. Dunia kontras tajam. Hitam-putih. Dunia antonim. Bentangan hidup di antara dua titik dunia itu terasa lazim, rutin, hidup orang kebanyakan, tanpa percik sentuhan mendalam, tanpa denyar sentakan segar [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on August 21, 2010
Bagian terakhir dari dua tulisan Binhad Nurrohmat http://www.infoanda.com/Republika Kisah-kisah mistik dalam dunia pesantren menjadi bagian yang dominan dan menarik dalam cerpen-cerpen Gus Mus. Kisah-kisah dalam cerpen Gus Mus penuh kejutan surealistik dengan cara bercerita Gus Mus datar-datar saja. Tanpa teknik bercerita yang canggih. Misalnya, cerpen Gus Jakfar.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Bagian pertama dari dua tulisan Binhad Nurrohmat http://www.infoanda.com/Republika Keberadaan pesantren selama ratusan tahun di negeri ini telah menjadikannya sebagai satuan ranah subkultur dengan corak tradisi yang khas dan hidup di antara kultur-kultur yang lain. Pesantren mempertahankan dan mengembangkan keberadaannya dalam jangka waktu panjang dengan mentransformasi secara eklektik kondisi masyarakat sekitarnya tanpa melenyapkan jati dirinya.
Filed under: Esai