Tag Archives: Binhad Nurrohmat

Kura-Kura Kritikus dalam Perahu?

Binhad Nurrohmat*
Media Indonesia, 12 Agu 2007

SAYA dan Taufiq Ismail adalah dua penyair yang memiliki pandangan dan sikap yang berbeda mengenai tubuh dan seksualitas dalam karya-karya sastra pengarang mutakhir kita. Taufiq gencar menistanya dan saya menolak penistaannya dan menghendaki apresiasi yang proporsional-signifikan.

Kemesraan dan Percekcokan Kesusastraan

(Bagian pertama dari dua tulisan)

Binhad Nurrohmat*
Republika, Minggu, 26 Agustus 2007

SEKURANGNYA, pada masa Balai Pustaka (1920-an) sastra modern kita mulai menggeliat. Berdirinya Balai Pustaka merupakan pengaruh perubahan politik di negeri Belanda yang menghembuskan Politik Etis ke negeri jajahannya.

Sastra di Tengah Patronase Sosial

(Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)

Binhad Nurrohmat*
Republika, 02 Sep 2007

HUBUNGAN sastra dengan masyarakatnya memang rumit dan potensial menyembulkan perbedaan pendapat. Sastra bisa dinilai lantaran ada perangkat-perangkat aturan, konvensi, atau kode; dan antara perangkat yang satu dengan perangkat yang lain tak sama.

Toto Terbaring, Tetapi bukan Tidur, Sayang

Binhad Nurrohmat *
Pikiran Rakyat, 20 Okt 2007

SIANG itu telepon genggam saya menerima sebuah pesan pendek dari penyair Bandung, Ahda Imran, yang mengabarkan kematian penyair Toto Sudarto Bachtiar. Sekian menit kemudian telepon genggam saya beruntun menerima pesan pendek serupa dari penyair Cirebon, Ahmad Syubbanuddin Alwy dan dari penyair “hujan” Sapardi Djoko Damono. Diam-diam, saya merasakan ada suatu keanehan menjalari saya ketika menerima semua pesan pendek ini,

‘Gerakan Tirani Sastra’ Taufiq Ismail

Binhad Nurrohmat*
Borneonews, 28 Oktober 2007

Akademi Jakarta (AJ) menyelenggarakan diskusi bertopik seputar cakrawala penciptaan dan pemikiran pada Agustus 2007 lalu di TIM, Jakarta, yang mendatangkan pembicara antara lain Yudi Latif dan Karlina Leksono serta dihadiri anggota AJ antara lain Rendra, Nh. Dini, Rosihan Anwar, Ahmad Syafii Maarif, dan Misbach Yusa Biran. Dalam diskusi itu saya mempertanyakan dan menuntut pertanggungjawaban AJ yang menggelar acara Pidato Kebudayaan Akademi Jakarta 2006 oleh Taufiq Ismail yang berjudul “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka” di TIM, Jakarta, Desember 2006 silam.