Erotisme

Binhad Nurrohmat*
http://www.jawapos.com/

Erotisme merupakan sebentuk cermin yang mutu nilainya terpendar dari imajinasi dan interpretasi yang dipantulkannya. Kepentingan luhur erotisme adalah merangsang kepekaan gairah terhadap keberadaan dan esensi tubuh serta rahasia yang bersemayam di dalamnya. Untuk apa? Tak lain, menangkap dan menyibak kesadaran yang bisa memperkaya makna keberadaan tubuh di dunia. Kenapa? Sebab tubuh tak henti mengalami pemerasan dan pengotoran makna lantaran kemurniannya dijarah atau dicemari tuntutan moralitas atau kuasa nilai-nilai kebenaran lain yang dipaksakan. Continue reading “Erotisme”

Bisikan Sastra Perang?

Binhad Nurrohmat
kompas-cetak.com

Watak kesusastraan peka pada tragedi, dan di antara tragedi terbesar bagi umat manusia adalah perang. Perang merupakan tragedi yang tak sebatas membinasakan tubuh dan melenyapkan peradaban manusia. Ketika krisis dan kegundahan di Eropa merebak pada 1935 dan dihantui luka Perang Dunia I, Jean Girauduoux menyelipkan sebaris kalimat jitu tentang bahaya perang yang paling mengerikan ke dalam dramanya, La guerre de Troi n?aura pas lieu (Perang Troya Tak Bakal Meletus): “Kebenaran adalah korban pertama dalam perang.” Continue reading “Bisikan Sastra Perang?”

Intimasi Puisi Penyair Metro

Binhad Nurrohmat*
http://www.lampungpost.com/

Metro merupakan kota dengan kompleksitas kultural. Kota ini dibangun 1930-an dalam rangka Politik Etis Pemerintah Kolonial Belanda di Hindia-Belanda.

Masyarakat dari beragam suku besar di Pulau Jawa dan Pulau Bali dengan bekal cangkul, bajak, sapi, kerbau, palu, dan paku diseberangkan kapal Kolonial Belanda ke wilayah ini untuk membangun kota multikultur. Pendatang membawa tradisi agama, bahasa, niaga, bersawah, dan berladang. Pribumi tetap berkebun lada, cengkih, dan merica. Continue reading “Intimasi Puisi Penyair Metro”

Politisasi Media Sastra

Binhad Nurrohmat
http://www.sinarharapan.co.id/

Pluralitas media komunikasi sastra sama sekali bukan indikator dominan bagi munculnya kehebatan inovasi karya sastra dan singularitas media komunikasi sastra juga sama sekali bukan tanda adanya bencana kejumudan mutu sastra.

Pluralitas media komunikasi sastra akan memberi ruang lebih luas bagi usaha publikasi karya sastra tapi tak selalu menjamin adanya usaha eksplorasi mutu sastra yang lebih jauh dan luas. Sedangkan singularitas media komunikasi sastra kadang justru bisa menciptakan kompetisi bersastra yang liat dan mampu memunculkan maestro-maestro sastra sekaligus melahirkan para ?pecundang? sastra yang tersingkir karena tak bisa memenangi kompetisi kreatif yang ketat. Continue reading “Politisasi Media Sastra”

Mengaranglah Sampai ke Amerika

Binhad Nurrohmat
Pikiran Rakyat, 12 Jan 2008

Pada sejumlah pengarang kita mengarang karya ketika berada di negeri lain serta terilhami kenyataan manusia dan kebudayaannya, misalnya Rendra (Blues untuk Bonnie, 1971), Umar Kayam (Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, 1972), dan Budi Darma (Olenka, 1983).

Para pengarang dan karyanya yang berjelajah lintas-budaya ini merupakan sebagian jejak prestasi “kosmopolitan” kesusastraan kita. Para pengarang ini mengarang karya tentang kenyataan manusia dan kebudayaan di negeri sendiri maupun negeri lain, yaitu Amerika, dengan mutu literer dan kadar kepekaan persoalan yang mengagumkan. Continue reading “Mengaranglah Sampai ke Amerika”

Bahasa ยป