Mengaranglah Sampai ke Amerika

Binhad Nurrohmat
http://www.pikiran-rakyat.com/

Pada sejumlah pengarang kita mengarang karya ketika berada di negeri lain serta terilhami kenyataan manusia dan kebudayaannya, misalnya Rendra (Blues untuk Bonnie, 1971), Umar Kayam (Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, 1972), dan Budi Darma (Olenka, 1983).

Para pengarang dan karyanya yang berjelajah lintas-budaya ini merupakan sebagian jejak prestasi “kosmopolitan” kesusastraan kita. Para pengarang ini mengarang karya tentang kenyataan manusia dan kebudayaan di negeri sendiri maupun negeri lain, yaitu Amerika, dengan mutu literer dan kadar kepekaan persoalan yang mengagumkan.

Pengarang yang mengarang karya di negeri lain serta tentang kenyataan manusia dan kebudayaannya agaknya masih menjadi sejenis romantisme dan dianggap bakat istimewa yang tak dipunyai oleh semua pengarang. Puisi Rendra, cerpen Umar Kayam, dan novel Budi Darma itu menangkap, menyelami, dan menyerap kenyataan manusia dan kebudayaan di negeri yang “baru” mereka kenal. Banyak pengarang kita kerap mondar-mandir ke berbagai negeri, tapi masih amat langka karya sastra kita yang menjadikan kenyataan kebudayaan dan manusia di negeri lain itu sebagai sumber penciptaannya.

Tempat baru, apalagi di negeri asing, bisa memberi pengalaman baru yang ekstrem, mengesankan, atau memukau. Alasannya, musim, tradisi, cuaca, watak manusia, peristiwa, dan pernik-pernik kebudayaan di Amerika atau Eropa, misalnya, berbeda dengan musim, tradisi, cuaca, watak manusia, peristiwa, dan pernik kebudayaan di Indonesia. Perbedaan-perbedaan ini bukan tak memengaruhi kecenderungan bentuk maupun batin karya sastra. Pengalaman, sebagaimana juga pengetahuan, punya peran besar dan penting dalam membentuk kecenderungan atau memberi corak mental maupun cara pandang pengarang.

Pengalaman merupakan pengetahuan dan kekayaan rohani yang bisa menjadi sumber penciptaan, tapi tak semua pengarang mampu menjadikannya sebagai sumber penciptaan. Ada sejumlah pengarang kita yang tinggal atau berkelintaran di negeri lain melulu mengarang karya tentang negerinya sendiri, misalnya pengarang eksil kita di negeri-negeri Eropa Barat, Tiongkok, dan Uni Sovyet. Akan tetapi, ada juga pengarang kita yang bertualang ke berbagai negeri mampu mengarang karya tentang kenyataan manusia dan kebudayaannya maupun tentang kenyataan manusia dan kebudayaan di kampung halamannya sendiri, misalnya Sitor Situmorang.

Sudah lazim, pengarang menggarap karya tentang urusan yang dekat dan diakrabinya. Kedekatan dan keakrabanlah yang potensial memantik naluri kepengarangan; dan pengalaman di negeri lain cenderung menjadi urusan yang asing dan tak menggerakkan naluri atau daya kepengarangan, seperti yang digambarkan puisi Sitor Situmorang, “Dua kota satu kekosongan/Dua alamat satu kehilangan/Antara nyiur dan salju/ Merentang ketakpedulian tuju”.

Barangkali, tingkat kepekaan dan wawasan kebudayaan dunia yang membuat pengarang mampu atau gagap mengarang karya di negeri asing serta tentang kenyataan manusia dan kebudayaannya.

Dunia ulang-alik
Linus Suryadi A.G. mengarang Pengakuan Pariyem (1981) di kampung halamannya (Yogyakarta) dan tentang kenyataan manusia dan kebudayaannya, Ahmad Tohari mengarang Ronggeng Dukuh Paruk (1982) di kampung halamannya (Cilacap) dan tentang kenyataan manusia dan kebudayaannya, dan D. Zawawi Imron mengarang Madura Akulah Darahmu (1999) di kampung halamannya (Madura) serta diilhami oleh suasana alam dan manusianya. Para pengarang ini kerasan di kampung halamannya dan mengeksplorasi kebudayaan lokalnya. Demikian pun Sandiwara Hang Tuah (1996) karya Taufik Ikram Jamil (Riau), Tarian Bumi (2000) karya Oka Rusmini (Bali), Perempuan Pala (2004) karya Azhari (Aceh), dan Perantau (2007) karya Gus tf Sakai (Payakumbuh).

Sementara Rendra (lahir di Solo), Umar Kayam (lahir di Ngawi), dan Budi Darma (lahir di Rembang) mengarang karya sastra di Amerika dan tentang kenyataan manusia dan kebudayaannya; Sitor Situmorang (lahir di Harianboho, Sumatra Utara) mengarang puisi di Prancis serta tentang pengalamannya di negeri itu, dan Acep Zamzam Noor (lahir di Tasikmalaya) mengarang puisi di Italia serta tentang pengalamannya di negeri itu (puisi “periode Italia” penyair ini dianggap sebagai karya terkuatnya).

Semua itu merupakan bukti kepekaan karya pengarang kita dalam jelajah lintas-budaya dan mengeksplorasi kebudayaan lokal–tanpa pemujaan atau glorifikasi pada kebudayaan di negeri lain maupun kebudayaan di kampung halaman sendiri. Mereka membumi karena mengarang karya berdasarkan sumber penciptaan yang mereka alami, kuasai, atau miliki. “Membumi” tak mesti berarti terikat hanya dengan kenyataan manusia dan kebudayaan di kampung halaman sendiri, melainkan sejenis “daya” membangun keakraban dan kepekaan pada kenyataan manusia dan kebudayaan di mana pun.

Pengelanaan pengarang kita ke negeri lain itu telah menghasilkan karya tentang kenyataan manusia dan kebudayaannya yang memperkaya jelajah lintas budaya khazanah kesusastraan kita; dan eksplorasi kebudayaan lokal pengarang kita itu menyumbangkan karya “kampung halaman” yang berharga bagi khazanah kesusastraan kita. Pengelanaan dan eksplorasi semacam ini berpengaruh secara signifikan terhadap kekayaan pengalaman kebudayaan maupun kebahasaan pengarang dan karyanya.

Namun, pengarang yang mengarang karya di negeri lain serta tentang kenyataan manusia dan kebudayaannya tak niscaya membuat karyanya “mendunia”; dan pengarang yang mengarang di kampung halaman sendiri serta tentang kenyataan manusia dan kebudayaannya tak mustahil menghasilkan karya berharga bagi dunia.

Selain faktor estetikanya, karya sastra menjadi berharga karena mampu menawarkan kedalaman atau keunikan perspektif terhadap manusia dan kebudayaannya.

Keluasan jelajah dan kedalaman eksplorasi sumber penciptaan karya makin tak terelak menuntut pengarang mana pun, termasuk kejembaran wawasan dan inovasi estetikanya. Jelajah di sini tak sebatas keluasjauhan rambahan fisikal belaka, tapi juga kedalaman batiniahnya. Begitulah, kesusastraan makin menuntut kematangan pribadi pengarang, kedalaman dan kejembaran pengetahuan, dan pengalamannya terhadap beragam kenyataan manusia dan kebudayaannya.

Dunia tak bisa mengelak dari perubahan “konsep” ruang-waktu lantaran perkembangan sains dan teknologi abad mutakhir yang “melipat” ruang-waktu dan perubahan ini memengaruhi kecenderungan kesusastraan di belahan bumi mana pun karena dunialah sumber penciptaan karya sastra. Dalam dunia semacam ini, akar budaya pengarang mesti bisa rileks, luwes, dan melar ke sana-sini menghadapi beragam manusia dan kebudayaan.

Akar atau identitas kebudayaan serupa “terminal” yang menjadi titik awal berangkat menuju dan mengenal beragam manusia dan kebudayaannya serta sekaligus menjadi tempat pengarang pulang. Inilah dunia ulang-alik (commute) manusia dan kebudayaan yang terselenggara lantaran teknologi transportasi dan komunikasi yang mampu membuat “migrasi” atau pertukaran informasi dan kebudayaan berlangsung tanpa batas dan setiap saat. Bukankah dunia ulang-alik sudah menjadi klise abad mutakhir? Pagi menyantap nasi gudeg dan siangnya mengunyah pizza tanpa rasa gegar budaya, hari ini berada di Salatiga dan besok hari duduk-duduk di sebuah taman di New York sesantai berganti telefon genggam atau kaus kaki.

Sama sekali bukanlah kemulukan atau kutukan bahwa tempurung dunia yang sudah terbuka membuat tata dunia menyejagat dan kompleks sehingga menuntut manusia menyelenggarakan pola pergaulan dan cara pandang serta membentuk visi tentang diri dan dunianya yang berbeda dengan masa sebelumnya, dan menepis kenyataan ini serupa menampik musim atau deru angin….***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *