Tag Archives: Bre Redana

Kota Lama

Bre Redana
Kompas, 12/01/14

Kota kelahiran saya, pernahkah saya benar-benar memperhatikan perubahannya? Ibu meninggal di pengujung tahun 2013. Seiring dikebumikannya jasad Ibu, mendadak saya merasa, dikebumikan pula kota lama yang sekarang sudah sangat jauh berubah, yang teramati detailnya selama beberapa hari saya pulang dan tinggal di situ.

Merawitkan Naskah, Membaca Sejarah

Bre Redana, Ardus M Sawega
Kompas, 22 Maret 2009

”BU Nancy, tamunipun sampun rawuh…” begitu kata petugas resepsionis hotel di Solo melalui telepon kepada tamunya, Nancy K Florida, yang menginap di situ. Nancy, Indonesianis dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, peneliti naskah-naskah kuna Jawa, fasih dan suka berbahasa Jawa halus dalam pergaulan sehari-hari di Solo. Kehalusan bahasanya kontras tajam dengan cara pandangnya tentang kebudayaan Jawa, berikut gempurannya terhadap sarjana-sarjana, baik Belanda maupun Indonesia, dengan filologi yang dikecamnya keras.

Semarang Suatu Hari

Bre Redana
Suara Merdeka, 22 April 2012

MENCARI sesuatu yang hampir terlupakan dan menemukan secara tak sengaja sesuatu yang tak terlupakan, terjadi di Semarang suatu hari di akhir pekan. Mertuaku datang dari Hongkong. Dia akan liburan beberapa waktu di Indonesia. Ketika beberapa hari tinggal di rumah kami di Jakarta, aku dan Grace, istriku, harus ke Semarang untuk menghadiri resepsi pernikahan kenalan Grace.

Tentang Kecantikan Itu

Bre Redana
Kompas, 27 Des 2011

Ada hal menarik dari pertunjukan monolog Inggit oleh Happy Salma di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, tanggal 22 Desember 2011. Pertunjukan yang naskahnya ditulis oleh Ahda Amran dan disutradarai Wawan Sofwan ini bagus. Selama dua jam lebih Happy membawa penontonnya terpaku, terpesona pada Inggit Garnasih (1888-1984), yang seolah merasuk pada aktris asal Sukabumi ini. Siga kasurupan, roh Inggit ngageugeuh dina ragana.

Fragmen Seni Patung di Mal

Bre Redana
Kompas, 24 April 2011

SUDAH +banyak yang bilang bahwa mal adalah katedral masyarakat kontemporer. Terlebih di Indonesia, terutama di Jakarta, mal menjadi tempat yang sebegitu multifungsi.

Perhatikan perbedaannya dengan mal di metropolitan dunia lainnya. Di tempat lain, mal utamanya adalah tempat belanja. Tempat makan umumnya sebatas food hall.