Semarang Suatu Hari

Bre Redana
Suara Merdeka, 22 April 2012

MENCARI sesuatu yang hampir terlupakan dan menemukan secara tak sengaja sesuatu yang tak terlupakan, terjadi di Semarang suatu hari di akhir pekan. Mertuaku datang dari Hongkong. Dia akan liburan beberapa waktu di Indonesia. Ketika beberapa hari tinggal di rumah kami di Jakarta, aku dan Grace, istriku, harus ke Semarang untuk menghadiri resepsi pernikahan kenalan Grace.

“Mama diajak saja,” usulku.

“Tidak akan merepotkan?” tanya Grace.

“Apanya yang merepotkan?” ucapku. “Kesempatan juga bagi Mama untuk jalan-jalan.”

“Aku akan tanya mau apa tidak.”

Ternyata Mama gembira menerima ajakan ke Semarang.

“Mama pernah ke Semarang. Zaman Au Kang. Saudara Au Kang yang juga teman baik Mama, Loh Jin, dokter terkenal di Zebezet. Mama dioperasi amandel. Anak-anak Loh Jin tinggal di Amerika sekarang, yang tinggal di Indonesia menikah dengan Hok Tjia yang menerima warisan toko roti Kurnia. Toko roti Kurnia membikin kue ombekuk enak sekali. Tahu ombekuk?” tanya Mama. “Nama lain ombekuk spekuk. Kayak kue bolu begitu, atasnya diberi irisan macadamia, kenari, dulu di Semarang banyak sekali pohon kenari….”

Begitulah cara bicara Mama. Kelewat banyak informasi. Dia tak peduli apa yang dipahami dan tidak dipahami pendengarnya. Seperti serentetan informasi di atas, terus terang aku tak tahu apa itu zaman Au Kang (ada hubungan tidak dengan zaman Belanda, zaman Jepang, dan lain-lain); siapa Loh Jin; siapa pula anak-anak Loh Jin; siapa Hok Tjia; apa itu Zebezet; apa itu toko roti Kurnia; ombekuk; spekuk; macadamia; serta kenari. Demikian banyak informasi yang memerlukan catatan kaki.

Aku tertawa sendiri. Bagusnya, Mama tidak terlalu peduli dengan komentar balasan. Istilahnya: monolog, bukan dialog. Lebih banyak satu arah. Kalau dua arah, celaka kita. Bagaimana kita harus menanggapi untuk menunjukkan bahwa kita menaruh perhatian atas apa yang diucapkannya? Dengan Mama, kita cukup jadi pendengar.

“Kapan kita berangkat? Jumat ya?” tanyanya. Belum terjawab, Mama sudah melanjutkan, “Mama akan cari Go Sin. Dia itu sahabat Mama ketika kuliah di Cungko. Sekarang tinggal di Semarang sama suaminya. Suaminya suka gambling. Go Sin orang sabar tiada dua. Dia orang Bangka. Umur sepuluh keluarganya kecelakaan pesawat di Toli-Toli. Ingat? Papah mamahnya meninggal. Juga kakaknya. Waktu itu Go Sin tidak ikut. Dia biasa hidup sendiri. Tak pernah dia menangis….”

Dulu Grace sering uring-uringan. Mama dianggapnya bicara tanpa juntrungan. Aku mengingatkan Grace: setiap orang tua memiliki keeksentrikan sendiri-sendiri. Sudahlah. Mari kita anggap sebagai lucu-lucuan. Nanti di hari tua, siapa tahu kita lebih ajaib darinya.

Lama-lama Grace bisa menerima. Masih lebih bagus Mama bicara sendiri. Kita hanya pura-pura mendengar. Buktinya, Mama punya banyak teman, punya banyak pendengar.

***

MUNGKIN dikarenakan spontanitasnya dalam bicara dan bertutur sapa, di mana pun Mama cepat terlibat percakapan dengan orang lain. Dalam perjalanan ke Semarang, ia langsung terlibat percakapan seru dengan wanita muda yang duduk di sebelahnya di ruang tunggu. Aku yang duduk di sebelah Mama, bisa mendengar beberapa informasi mengenai wanita muda itu: umurnya 34; anaknya tiga; dulu besar di Malang; papa asli Semarang; dan lain-lain.

Di pesawat, Mama duduk bersebelahan dengan cewek muda belia. Dari percakapan dengan cewek itu Mama memberi tahu kami, bahwa cewek tadi umurnya masih 13 tahun, berani ya, bepergian sendiri, dari Belitung, mau ke Semarang, terus akan ke Yogya, cari informasi tentang sekolah.

“Mama harusnya jadi wartawan,” sergah Grace.

“Di Cungko dulu Mama sekolah publisistik, terus revolusi kebudayaan…,” Mama melanjutkan dengan informasi lebih banyak lagi, tentang revolusi kebudayaan, Mao Zedong, sekolah ditutup, dan lain-lain yang aku tak bisa mengikuti semuanya, keburu harus mengurusi bagasi. Sekadar informasi, Mama menyebut China dengan sebutan Cungko. Dulu Mama pernah tinggal di sana.

***

MULYADI mengirimkan sopir untuk menjemput kami di airport. Setiap kali ke Semarang aku berhubungan dengan Mulyadi. Dia teman kuliahku dulu, berasal dari kota kecil yang sama denganku di Jawa Timur. Kini ia menetap di Semarang. Bisnisnya berkembang luas. Ia tergolong pengusaha terkemuka. Terutama di Semarang, ia bukanlah nama asing. Banyak orang mengenalnya.

Dalam kesibukan macam apa pun, ia akan menyempatkan waktunya untuk bersama-samaku selama aku di Semarang. Tak banyak yang berubah darinya. Tetap seperti dulu: spontan, bicara ceplas-ceplos, suka melucu.

Mama langsung menyukai Mulyadi. Mulyadi punya energi berlimpah untuk melayani apa saja, termasuk melayani percakapan Mama. Dia menanggapi cerita Mama, menimpali dengan humor, bertanya kalau Mama menyebut nama yang sepertinya dikenalnya.

“Oh Go Sin, kenal saya itu,” kata Mulyadi dengan suaranya yang khas. Keras, penuh antusiasme.

Tak kepalang senangnya Mama.

“Jadi kenal sama Go Sin?”

“Kenal, dia dulu usaha kayu di Jepara. Sekarang dilanjutkan anaknya, A Siong.”

“Kenal juga dengan A Siong?” Mama makin sumringah.

“Ya kenal tho…,“”ucap Mulyadi.

“Dia itu kan menikah dengan Debora. Ayah Debora juga saya kenal baik. Punya restoran Korea. Ketika mereka menikah saya datang.”

“Wah, benar-benar small world…,” komentar Mama dengan mata berbinar-binar.

“Nanti biar diantar sopir saya kalau mau ke Go Sin. Saya tahu rumahnya. Di daerah Candi.”

“Kalau Ong Wi tahu? Papa dia teman baik Mama. Lahir tahun 1935, meninggal tahun 1976. Ong Wi anaknya. Mama tahu dia kecil, pengin ketemu dia. Katanya meneruskan toko ayahnya. Tokonya namanya Sumber Makmur.”

“Oh Sumber Makmur saya tahu,” kata Mulyadi. “Mungkin siapa tadi, Ong Wi, nama Indonesianya Yongki Ariawan. Kalau itu saya kenal. Telepon dulu, saya minta staf saya untuk menelepon biar dicek,” lanjut Mulyadi sambil langsung memencet telepon genggam dan meminta anak buah untuk mengecek pemilik toko Sumber Makmur, minta nomor teleponnya, dan lain-lain.

Berdasar informasi tadi, tak berapa lama Mama sudah menelepon sendiri ke sana-kemari, menyatakan siapa dia, bertanya si ini atau itu di mana, menyatakan ingin datang, dan lain-lain. Dari reaksi Mama di telepon, bisa dibaca, si penerima telepon di seberang sana ada yang tampaknya memang mengenal dirinya; menanggapi dengan paham; ada yang bingung; atau informasi bahwa yang ditanyakan Mama sudah mati; salah sambung; dan seterusnya.

***

“ORANG tua semua begitu,“ ucap Mulyadi pelan kepadaku, ketika kami makan nasi gudeg langganan di sebuah gang sempit. Warung ini selalu ramai. Susah sekali mencari tempat duduk. Aku dan Mulyadi duduk bersebelahan. Grace dan Mama menemukan tempat lain, duduk terpisah dari kami. Mulyadi menangkap kekhawatiranku, bahwa aku terlampau merepotkannya dengan urusan Mama, yang tampaknya ingin melacak siapa saja yang ada dalam kenangannya. Kami menunggu pesanan makanan, sembari mengenang masa-masa kuliah dulu.

Baru beberapa saat kemudian aku sadar, wanita yang duduk di seberang meja kami terus-menerus memperhatikan Mulyadi. Dia bersama satu wanita lain yang jauh lebih tua darinya, kemungkinan ibunya, serta lelaki sebaya dengannya, pantasnya suaminya.

“Mulyadi ya…,” sapa wanita itu.

Seketika Mulyadi beralih perhatian ke wanita yang menegurnya.

“Ya…,” ucapnya.

“Saya Angela. Ingat?” kata wanita itu sembari menyebut nama universitas di mana kami dulu kuliah.

“Ooh… Angela. Fakultas sastra? Angkatan kalau tidak salah di bawah saya ya?”

Wanita itu mengangguk.

Aku terkesiap. Angela? Fakultas sastra? Di bawah Mulyadi? Berarti ini Angela yang satu fakultas denganku? Teman seangkatan. Aku dan Mulyadi memang beda fakultas. Dia fakultas ekonomi, dua tahun di atasku.

Mengapa dia lebih mengenali Mulyadi? Ah, tentu saja. Mulyadi tokoh terkenal di kota ini. Sementara aku? Bukan siapa-siapa. Sekian tahun juga menghilang dari Indonesia.

Sebenarnya aku ingin menyela, tetapi aku menangkap tanda yang diberikan Mulyadi melalui senggolan kaki di bawah meja. Angela semasa kuliah kami kenal sebagai bunga kampus. Luar biasa cantik. Semua orang mengejar-ngejarnya. Termasuk aku.

Bagaimana sekarang jadi begini? Sangat tua, lengannya kendor semua, pakaiannya terkesan lusuh, adakah si botak itu suaminya? Dia tidak memperkenalkannya. Aku mencoba mencari-cari jejak Angela yang dulu, dengan wanita di hadapanku ini.

“Dulu di fakultas sastra, kan? Angkatan siapa ya? Ada nama-nama yang diingat?” tanya Mulyadi.

“Tidak ada, lupa semua,” kata Angela menggelengkan kepala. Bukan hanya penampilannya, otaknya kelihatannya juga mengalami kemunduran. Sejenak kemudian dengan susah payah dia menyebut dua nama, Lusi dan Martha.

Makin jelas bagiku, ini Angela yang dulu. Dua nama yang disebutnya itu juga temanku.

“Kamu ingat Gita? Gitanyali?” tanya Mulyadi.

Edan si Mulyadi ini, gerutuku dalam hati. Itu namaku. Angela menggelengkan kepala.

“Gita, yang dulu suka main band. Menyanyi. Uriah Heep, ‘July Morning’…,” ucapnya tambah ngawur.

Aku menyumpah dalam hati. Itu periode yang ingin kulupakan. Memalukan. Kembali Angela menggeleng.

Untung aku tak jadi men genalkan diri. Kalau itu kulakukan, alangkah malu aku harus menjelas-jelaskan siapa diriku. Kengawuran Mulyadi menyelamatkanku.

***

SIAPA tak mengenal Angela? Semua cowok tahu dia, dan barangkali masih banyak yang mengenangnya. Berkali-kali aku dan Mulyadi mengungkapkan keheranan, bagaimana bunga kampus tadi sebegitu pudar dan merosot.

“Begitu kusebut namamu dia tak ingat, aku pikir ya sudah. Aku tahu, kamu juga sudah tidak berminat kan melihat dia, ha-ha-ha…,” kata Mulyadi.

“Apa yang kita kenang adalah urusan kita sendiri. Kita tidak tahu dan tidak bisa mencampuri apa yang diingat dan dikenang orang lain,” ucapku. “Kecuali dia kayak Maggie Cheung. Ingat tidak ingat kita kuntit dia ke rumah.”

Mulyadi tertawa terbahak-bahak.

“Ke mana kita sekarang?” tanyanya.

“Antar Mama ke tempat Loh Jin,” Mama menyela.

“Dia lahir tahun 1936, meninggal 1978. Anaknya yang ini kawin dengan toko Kurnia. Waktu kecil Mama tahu….” Mama terus melanjutkan cerita.

Dipandu Mulyadi, kami menuju nama yang disebut sebut Mama—nama yang tak kukenal, dari periode zaman yang tak kutahu. Apakah mereka masih mengingat Mama, atau bahkan tahu Mama? Entah apa yang bakal terjadi.

Jakarta, 2012, untuk Benita
Dijumput dari: http://lakonhidup.wordpress.com/2012/05/03/semarang-suatu-hari/