Berburu Rongsokan: Sebagai Langkah Menyelamatkan Artefak

Agus Sulton

Membicarakan barang rongsokan, yaitu manuskrip atau orang pedesaan menyebutnya sebagai buku kuno pastinya setiap orang mempunyai statemen, setidaknya argumen tekstual tersendiri dalam memperlakukannya. Pihak lain ada substansi otoritas koheren dengan menjadikan manuskrip layaknya benda keramat, seolah-olah terselip teks mantra—yang bahkan bisa juga menjadikan orang impulsifitas; mempraktekkan dan memenuhi sebuah struktur ideal. Discourse masyarakat mengais ide sebagai perpanjangan pertahanan keimanan yang baru dalam kepentingan-kepentingan transendental dan keuniversalan Tuhan, mungkin juga (tentatif). Continue reading “Berburu Rongsokan: Sebagai Langkah Menyelamatkan Artefak”

Kisah Sahabat Nabi: Abdullah bin Rawahah, Penyair Rasulullah

Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/

Waktu itu, Rasulullah sedang duduk di suatu dataran tinggi di kota Makkah, menyambut para utusan yang datang dari Yatsrib (Madinah) dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari 12 orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan sebutan kaum Anshar (penolong Rasul). Continue reading “Kisah Sahabat Nabi: Abdullah bin Rawahah, Penyair Rasulullah”

Mendiskusikan Sekala Brak (II)

Febrie Hastiyanto *
http://www.lampungpost.com/

Soal asal usul nama Lampung juga menarik didiskusikan. Seperti halnya arus utama (mainstream) penulisan asal usul nama Lampung yang mendasarkan pada catatan I-Tsing, Henry juga mendasarkan teorinya pada catatan musafir China ini. Bedanya, Henry menyebut Lampung berasal dari kata selopun yang berakar dari kata tola p’ohwang. Continue reading “Mendiskusikan Sekala Brak (II)”

RUH DAN IDEOLOGI PUISI NUSANTARA

Maman S Mahayana *

Pembuka Kata

Perbincangan tentang “Ruh dan Ideologi Puisi Nusantara” ibarat pencarian jalan pulang dalam sebuah rimba-raya yang luas, penuh belukar, dan unik; khas. Perbincangan itu tidak sekadar upaya “menemukan” kembali masa lalu yang belum terang, mungkin agak gelap, dan boleh jadi juga sesat, tetapi punya posisi penting sebagai tindak meretas jalan ke depan yang lebih sesuai dengan jiwa dan karakteristik jati diri pemilik sah negeri ini. Continue reading “RUH DAN IDEOLOGI PUISI NUSANTARA”

Bahasa »