Puisi Sufi Nusantara dan Persia

Asarpin *

Pada masa lalu, selain muncul para ilmuwan, juga diramaikan oleh kehadiran kaum sufi. Kita dapat menelusuri dalam lembaran teks kesusastraan sufistik di dunia daratan India, Persia, Arab, dan Indonesia. Amir Hamzah dalam salah satu esainya di tahun 1930-an yang bertajuk Kesusasteraan, yang dimuat dalam buku Esai dan Prosa (Dian Rakyat, 1982), secara sangat memikat menelusuri kesusastraan sufi di belahan dunia: India, Tionghoa, Arab, Ajam, Indonesia. Kesusastraan Indonesia sendiri, kata Amir Hamzah, banyak dipengaruhi oleh kesusastraan tanah luar, seperti kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam. Continue reading “Puisi Sufi Nusantara dan Persia”

Mencegah Disintegrasi dengan Strategi Kebudayaan

Hardi Hamzah*
Lampung Post, 13 Juni 20007

APA yang dikemukakan oleh Dr. Soedjatmoko (1986) tentang pembangunan dan pembebasan bagi sosok manusia, sesungguhnya mengandung makna kebudayaan.

Pembangunan, ujar Soedjatmoko, sangat erat kaitannya dengan proses perubahan manusia dalam dimensi kebudayaan. Sementara pembebasan dalam konteks kemanusiaan dilihat Bung Koko sebagai pisau analisis untuk suatu interaksi dalam konteks akulturasi budaya. Continue reading “Mencegah Disintegrasi dengan Strategi Kebudayaan”

Mudik dalam Mistisisme dan Religiositas Orang Jawa

M. Bambang Pranowo
http://www.lampungpost.com/

KEDEKATAN dengan dunia mistis adalah salah satu ciri khas orang Jawa. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, orang Jawa menilai suatu kejadian dari aspek mistis. Kenapa gunung Merapi meletus, kenapa gelombang laut Kidul amat besar, semuanya dikaitkan dengan dunia mistis. Itulah sebabnya Niels Mulder dalam bukunya, Mysticism and Everyday Life in Contemporary Java (1980), menyatakan mistisisme dan praktek-praktek magis-mistik selalu menjadi arus dasar terkuat kebudayaan Jawa. Continue reading “Mudik dalam Mistisisme dan Religiositas Orang Jawa”

Sekala, Siger, Borobudur (II)

Henry Susanto
http://www.lampungpost.com/

Alkisah, Samaratungga sebagai raja ke-7 dari Kerajaan Mataram Kuno (Dinasti Sanjaya) mempunyai dua orang anak, yang pertama seorang putri bernama Pramodya Wardani, sedangkan yang kedua seorang putra yang bernama Rakai Pikatan.

KETIKA beranjak dewasa, dikabarkan bahwa Rakai Pikatan mempunyai banyak guru Hindu dan akhirnya menjadi pemeluk Hindu. Sedangkan kakak Rakai Pikatan, yaitu Pramodya Wardani adalah pemeluk Buddhis sebagaimana ayahnya. Continue reading “Sekala, Siger, Borobudur (II)”

Bahasa ยป