Mendiskusikan Sekala Brak (I)

Febrie Hastiyanto *
http://www.lampungpost.com/

ESAI Sekala, Siger, Borobudur yang ditulis Henry Susanto berturut-turut di Lampung Post, 7 dan 14 Agustus 2011, menarik untuk didiskusikan. Dalam esainya, Henry Susanto memperkenalkan teori baru terkait banyak hal dalam arus utama (mainstream) kepenulisan sejarah yang selama ini dikenal publik.

Teori-teori yang hendak dipopulerkan Henry Susanto di antaranya teori bahwa Sriwijaya adalah Sekala (Brak yang posisinya diduga berada di Lampung Barat?), teori asal-usul ulun Lampung hingga teori Siger sebagai miniatur Borobudur. Dalam daur-ilmiah sesungguhnya tidak ada teori yang mapan. Sepanjang teori yang ada dapat digugat, teori yang baru akan didudukkan sebagai teori yang paling kuat, tentu sebelum ada teori lain yang membantahnya. Dalam dinamika ini sesungguhnya sejarah maupun budaya sedang mengukuhkan aspek ontologis dan epistemologis dirinya.

Saat Slamet Muljana dan Soekmono belum selesai berdebat sengit mengenai tafsir sejarah dan utamanya kedudukan Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1970-an, Henry Susanto merilis teori baru dalam esainya ini. Selama ini teori Slamet Muljana (dalam Mawardi, 2011) yang mendasarkan pada pendapat G. Coedes (1918) terhadap tafsir Prasasti Linggor yang memuat kata “Shih-li-fohshih” sebagai nama Kerajaan Sriwijaya dan dikuatkan oleh pendapat Samuel Beal (1883) menyatakan bahwa Sriwijaya berkedudukan di Palembang telah diakui sebagai arus utama (mainstream) dalam penulisan sejarah kita, yang dikenal oleh seluruh siswa semenjak SD hingga perguruan tinggi yang mempelajari sejarah nasional Indonesia. Soekmono membantah Slamet Muljana dengan mengatakan diduga kedudukan Sriwijaya berada di Jambi, atau juga Riau dengan mendasarkan pada keberadaan Candi Muara Takus.

Bila Slamet Muljana mendasarkan tesis mengenai kedudukan Sriwijaya pada catatan Prasasti Linggor yang bertuliskan Shih-li-fohshih dan distransliterasi menjadi Sriwijaya, Henry Susanto mendasarkan pendapatnya pada catatan perjalanan musafir Cina Ma Huan yang menyebutkan kata “chi-li-fo-che”, kata yang dalam pelafalan mirip dengan Shih-li-fohshih tetapi oleh Henry Susanto ditransliterasikan menjadi Sekala. Untuk menguji apakah chi-li-fo-che layak menjadi Sekala, Henry mendalilkan pendapatnya pada berita China yang mengatakan bahwa chi-li-fo-che merupakan kerajaan po-lim-pang, maksudnya adalah kerajaan yang ada pada orang Lampung.

Namun, pada bagian lain Henry menyebutkan informasi dalam Prasasti Talang Tuo yang di dalamnya termuat simbol Kerajaan Sekala (Sriwijaya) bahwa Dapunta Hyang Sri Jaya Naga membangun Taman Sriksetra sebagai taman bagi pengembangan agama Budha. Mendasarkan catatan prasasti ini Henry berpendapat Kerajaan Sriwijaya beragam Buddha, paralel dengan arus utama (mainstream) penulisan sejarah Sriwijaya yang menyebutnya sebagai pusat penyebaran agama Buddha terbesar di Asia Tenggara pada masanya. Namun, Henry melewatkan informasi penting soal posisi Taman Sriksetra yang dibangun, yakni di Bukit Siguntang, masuk wilayah Palembang sekarang. Pertanyaannya kemudian: atas dasar apa Raja Sriwijaya (yang dalam tafsir Henry berkedudukan di Sekala atau Lampung) mendirikan Taman Sriksetra sebagai pusat penyebaran agama Buddha di Palembang bukan di Lampung (Barat?). Tidakkah lebih logis Raja Sriwijaya mendirikan pusat penyebaran agama Buddha di ibu kota negaranya? Atau logika penarikan kesimpulan dapat di balik: karena Taman Sriksetra sebagai pusat penyebaran agama Buddha—yang tentu memiliki kedudukan penting bagi kerajaan—berada di Palembang, dapat ditafsirkan bila kedudukan Sriwijaya berada di Palembang. Logika berpikir ini pula yang mungkin menjadi kesimpulan Slamet Muljana ketika ia menyatakan Palembang sebagai kedudukan Sriwijaya.

Kemudian teori asal usul ulun Lampung. Berbeda dengan rekonstruksi Prof. Hilman Hadikusuma yang mendasarkan pada Kitab Kuntara Raja Niti dan Tambo dari Pagaruyung bahwa asal usul orang Lampung ditandai dengan kedatangan empat umpu dari Pagaruyung dan menduduki Sekala Brak yang sebelumnya dikuasai Sukubangsa Tumi, Henry mengemukakan tesis baru bahwa asal usul ulun Lampung berasal dari India sekira tahun 100 SM. Teori Prof. Hadikusuma hingga saat ini telah menjadi arus utama dalam penulisan asal usul ulun Lampung. Selain teori Prof. Hadikusuma, terdapat teori lain dari Olivier Sevin (1989: 49–69 dalam Saptono, 2007) yang berpendapat masyarakat asli Lampung adalah orang Pubian yang menempati kawasan antara Padangratu, Kotaagung, Telukbetung, serta wilayah selatan Gunungsugih di mana kawasan ini dibelah Way Sekampung. Migrasi pendatang baru terjadi sekira abad ke-17 hingga ke-19. Migrasi lain terjadi pada abad ke-19 ditandai oleh gelombang kolonisasi/transmigrasi dari Jawa.

Bila Prof. Hadikusuma mendalilkan teorinya bersumber pada Kuntara Raja Niti maupun Tambo, dalam esai Henry nyaris tak disebutkan sumber rujukan teorinya. Bahkan, ketika memulai esainya Henry menulis kata “Kisah (cetak miring dari penulis) ini dimulai dari sejarah migrasi orang-orang dari negeri Hindustan (India)”. Penulisan sejarah pada dasarnya merupakan usaha rekonstruksi kejadian masa lampau yang celakanya sering terbentur keterbatasan sumber referensi. Bagi sejarawan mitos, kisah, maupun dongeng sekalipun berguna, sepanjang belum ada catatan berbentuk prasasti, bukti-bukti artefak, atau berita musafir China maupun Eropa yang lebih tertib dalam menulis dan dipercaya, yang ditemukan. Namun keberadaan mitologi, dongeng maupun cerita tutur tetap harus diuji, dengan metode trianggulasi, kritik intern dan kritik ekstern, termasuk logika berpikir akal sehat (common sense) agar teori yang didalilkan kuat. Kuat, dapat dimaknai sebagai teori yang sulit dibantah oleh logika maupun bukti baru.

Sebagai pembaca saya masih belum dibuat percaya oleh teori yang ditulis Henry. Beberapa pertanyaan belum dijelaskan secara eksplisit dalam esainya, seperti: mengapa imigran dari India ini berlayar menyusuri pantai barat Sumatera, bukan pantai timurnya? Pantai barat berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia yang ombaknya lebih besar ketimbang pantai timur Sumatera yang perairannya terlindungi oleh Pulau Sumatera dan Kalimantan sehingga ombak Samudera Indonesia dan Laut China Selatan tidak mengganggu pelayaran. Beberapa abad setelah tahun 100 SM, perairan timur Sumatera terbukti lebih ramai, ditandai dengan kehadiran Malaka, Aceh (Pasai), Barus, termasuk Palembang.

Pertanyaan lain yang belum terjawab adalah mengapa imigran dari India memilih berlabuh di Lampung (Sekala) selain Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, bukan di tempat lain di Pulau Sumatera yang luasnya kini tidak kurang dari 443.065,8 km persegi?

10 September 2011
_________________________
*) Febrie Hastiyanto, alumnus Sosiologi FISIP UNS Solo. Menulis manuskrip Jejak Peradaban Bumi Ramik Ragom: Studi Etnografi Kebuayan Way Kanan Lampung serta naskah Kronik Budaya Lampung dalam Tafsir.