Memudar di Tengah Kepungan Budaya Kota

M Burhanudin
http://kompas.co.id/

Adoh ratu cedhak watu, jauh dari raja dekat dengan batu. Kalimat tersebut cocok untuk menggambarkan eksistensi Banyumas atau wong Banyumas. Secara politik, tak pernah ada raja yang berkeraton di wilayah yang dikelilingi pegunungan ini, yang ada hanya adipati.

Ba ny u m a s ?sekarang kabupaten di Jawa Tengah? menjadi sebuah daerah perdikan dan negeri ?mancanegara?, baik pada masa Majapahit dan Mataram (Jawa) maupun Pajajaran (Sunda). Continue reading “Memudar di Tengah Kepungan Budaya Kota”

Ritual Tetaken

David Eka Kuncara
http://jurnalnasional.com/

Dalam ritual ini, sang juru kunci Gunung Lima turun gunung.
ADA ritual yang rutin digelar setiap tanggal 15 Suro di kaki Gunung Lima, tepatnya di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur: ritual tetaken. Ritual ini merupakan upacara ?bersih desa? yang kini dijadikan agenda tahunan wisata budaya di daerah ini. Continue reading “Ritual Tetaken”

MENIMBANG SPIRIT LUDRUK

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/
Surabaya Post/15 Maret 2009

MENYAKSIKAN tiap bentuk pertunjukkan, seringkali kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan?apa pesan yang dituturkan pertunjukan tadi? Menghadirkan pesan dan menghidupkan kesan tampaknya hingga kini terus dijadikan pergulatan dalam tradisi tutur kita?dan barangkali bermula dari sini pulalah cikalbakal kesulitan akan berkembangnya seni tradisi kita. Continue reading “MENIMBANG SPIRIT LUDRUK”

PANTUN SEBAGAI POTRET SOSIAL BUDAYA TEMPATAN

Perbandingan Pantun Melayu, Jawa, Madura, dan Betawi

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Pantun bagi masyarakat di kawasan Nusantara ibarat sesuatu yang begitu dekat, tetapi kini terasa jauh ketika budaya populer (low culture) makin menjadi primadona dalam industri hiburan. Dalam kondisi itu, pantun kini laksana pepatah, tak kenal maka tak sayang. Itulah yang terjadi pada pantun. Seolah-olah, ia hanya produk masa lalu yang sudah usang dan tiada berguna. Bahkan, bagi anak-anak muda di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa, pantun seperti tidak lebih dari sekadar produk budaya Melayu, dan oleh karena itu, dianggap hanya milik orang Melayu. Continue reading “PANTUN SEBAGAI POTRET SOSIAL BUDAYA TEMPATAN”