Kesadaran Ruang dari Tubuh dan Bau Tanah

Menuju Apresiasi Ibu Bumi Pertiwi
I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

SEUSAI nuwasen karya dan ngunggahang sunari dalam gelar ritus besar terkait dengan unsur-unsur utama kemestaan di Bali, biasanya akan dilanjutkan dengan tahapan nyukat, lalu bhumi suddha. Kedua tahapan ini begitu penting, karena pada tahap inilah ruang untuk digelarnya ritus itu dipilih, ditentukan, setelah didahului dengan pemilihan dan penentuan waktu lewat tahapan pertama, nuwasen karya. Itu berarti, suatu gelar ritus keagamaan berkait dengan kesemestaan di Bali senantiasa mengikuti ”standar produser” berupa pemilihan dan penentuan waktu, lalu dilanjutkan dengan pemilihan dan penentuan ruang. Continue reading “Kesadaran Ruang dari Tubuh dan Bau Tanah”

ZAMAN EDAN: ZAMAN PENUH KUTUKAN

Puji Santosa
http://www.facebook.com/

Kalatidha adalah salah satu judul karya sastra yang ditulis oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita seputar tahun 1861. Karya ini merupakan kritik sosial profetis yang menggambarkan akan datangnya masa sulit, suram, rusak, dan tidak menentu yang disebut sebagai zaman edan. Pada zaman itu negara demikian kacau-balau, undang-undangnya tidak dihargai, derajat negara menjadi suram, dan rakyat semakin rakus dan loba. Hal ini mengingat pada tahun 1858 raja Surakarta, Sinuhun Paku Buwana VII meninggal dan digantikan oleh adik tirinya Kusen dengan gelar Paku Buwana VIII. Continue reading “ZAMAN EDAN: ZAMAN PENUH KUTUKAN”

Octavio paz, amerika latin, dan senjakala modernisme

Nirwan Dewanto *
tempointeraktif.com

BERTAHUN-TAHUN lalu saya mengenal nama Octavio Paz melalui sebuah sajaknya dalam terjemahan Indonesia. Baris-baris sajak itu tidak dapat saya ingat lagi, tetapi yang tertinggal pada saya adalah “inti”-nya: aku yang melihat perlahan-lahan berubah menjadi aku yang dilihat, aku yang menyatakan bermetamorfosis menjadi aku yang dinyatakan. Continue reading “Octavio paz, amerika latin, dan senjakala modernisme”

Mengenang Tuhan Lewat Wayang

Wayan Supartha
http://www.balipost.co.id/

Sudamala, etos kerja dan namasmaranam, paling tidak itulah makna yang dapat dipetik dalam pementasan wayang kulit tradisi duta Gianyar, yang tampil di wantilan Taman Budaya, 15 Juni lalu. Sanggar Suara Murti yang menampilkan dalang I Made Juanda dari Sukawati Gianyar itu menyuguhkan lakon Katundung Hanoman.

Pertunjukan yang berdurasi sekitar 150 menit itu diawali dengan pertemuan Rama, Laksmana dan Sugriwa. Dalam pertemuan itu, Rama mengatakan bahwa Hanoman menolak hadiah sebagai balas jasa ikut memerangi Rahwana. Continue reading “Mengenang Tuhan Lewat Wayang”