Gedung Kesenian Cak Besut

Sabrank Suparno

Saya membayangkan ada dialog antara almarhum Cak Besut dengan Cak Durasim. Bisa juga perbincangan dua tokoh maestro Ludruk itu benar-benar terjadi di alam kubur. Indikatornya apa? Jawabnya gampang, hingga membuat anda tidak tidur bermalam-malam. Apalagi ketika anda mengetahui analogi jawaban perbincangan dua maestro Ludruk ini sambil nyeruput kopi racikan Yu Darmani pengelola warung kopi nyentrik di pojok pintu masuk Desa Nglele Kecamatan Sumobito. Bukan sekedar rasa dan aroma kopinya yang cospleng, tapi di warung kopi Yu Darmani inilah seluruh teman penulis (seniman) baik lokal, regional, nasional, bahkan Miguel Fonsecca Horta seniman dari Portugis pernah saya ajak nyeruput kopi di warung ini. Continue reading “Gedung Kesenian Cak Besut”

Sastra yang Menjaga Indonesia

Ilham Khoir
Kompas, 25 Agu 2015

Ada yang menarik dalam pemberian penghargaan Rancage 2015 di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (22/8). Selain beberapa sastrawan diberikan anugerah kebudayaan, acara itu diwarnai pernyataan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi bahwa sastrawan dan karya-karyanya berpotensi besar menjadi inspirasi dan menjaga nilai keindonesiaan. Continue reading “Sastra yang Menjaga Indonesia”

Cerita Rakyat: Joko Umbaran

Diadaptasi bebas dari Suwondo, Bambang. 1981
Cerita Rakyat dari Daerah Istimewa Yogyakarta

Joko Umbaran adalah anak dari Danang Sutawijaya dan Rara Rembayung. Ayahnya, Danang Sutawijaya, adalah seorang raja Mataram dengan gelar Kanjeng Panembahan Senopati. Sedangkan ibunya, Rara Rembayung, hanyalah seorang rakyat biasa yang dijadikan selir oleh raja Mataram. Karena hanya berkedudukan sebagai seorang selir, maka Rara Rembayung tinggal di luar benteng istana. Continue reading “Cerita Rakyat: Joko Umbaran”

34 Tahun Sanggar Triwida

Tjut Zakiyah
tulungagung.go.id

Tigapuluh empat tahun menjadi penjaga sastra Jawa. Kepedulian terhadap sastra Jawa mendorong alm. Bapak Tamsir AS dan 7 sastrawan Jawa yang berasal dari 3 wilayah —Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar— untuk mendirikan sanggar sastra Jawa bernama Triwida. Kilas balik sejarah Triwida ini, kemarin Minggu (25/5/2014) saat syukuran ulang tahun ke-34 di kediaman Bapak Suwignyo Adi, Kalidawir. Continue reading “34 Tahun Sanggar Triwida”

Bahasa »