Scientia, Sapientia, Virtus

(dikirim menjelang Haul Romo Beek, September 2003)
Dami N. Toda
Posted on Juli 6, 2008 by dwipramono

Poro Saderek yang berhaul ke makam Romo Beek di Ungaran,
Doa Stef Baloi Bago dan saya dari Jerman diwakilkan saja nanti ya pada kalian — semoga poro saderek SV yang ke Ungaran juga dikaruniai dari Atas rahmat khusus. Dari jauh haul kalian kami sertai secara ruh hari itu. Generasi saya di Realino tak kenal Romo Beek kecuali melihat “pesona” karakter matanya dilukis (-foto) karya Mas Samsulhadi (?) terpancang di ruang reakreasi Villa I dahulu (entah di mana sekarang dipajang lukisan foto yang memukau itu). Namun Romo-Beek-isme selalu menantang dan menjadikan warna permenungan saya tak tenang, berkabut abu-abu hingga saat ini. Continue reading “Scientia, Sapientia, Virtus”

Obituary Dami N. Toda (1942-2006)

Riris K. Toha-Sarumpaet

DALAM sebuah lawatan kesenian Fakultas Sastra UI ke Yogyakarta di awal 1970-an, Dami dengan suara tenornya yang lengking mengiris, berduet dengan saya. Bukan gentar atas ratusan pasang mata taruna Akademi Militer Nasional (AMN) yang menyaksikan persoalan saya waktu itu, tetapi tuntutan estetik Dami yang untuk ukuran saya sebagai mahasiswa sangat sulit dipenuhi. Masa itu saya lebih mengandalkan alam dan penghayatan, tetapi dia meminta teknik dan pembangunan khalayak. Continue reading “Obituary Dami N. Toda (1942-2006)”

Dami N. Toda sebagai Kritikus Sastra

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 23 Juni 2010

Sejak Dami N. Toda meninggal dunia 10 November 2006 di Hamburg (Jerman) sampai dengan pengantaran abu jenazahnya ke Indonesia/NTT, Oktober 2007, sejumlah koran nasional dan lokal NTT (Pos Kupang dan Flores Pos), memberitakannya. Wartawan Pos Kupang di Manggarai, Kanis Lina Bana, merekam kembali perjalanan hidup almarhum dan menghasilkan tiga tulisan berseri di Pos Kupang (25-27/10/2007). Continue reading “Dami N. Toda sebagai Kritikus Sastra”

Sejarah Kota: Menanti Senyum Ratu dari Timur…

M Hilmi Faiq, Runik Sri Astuti, M Burhanudin
Kompas, 16 Sep 2008

UPAYA menghidupkan kembali kawasan Kota Tua di Jakarta Utara telah dimulai 40 tahun silam. Akan tetapi, kondisi kawasan seluas 649 hektar yang membentang dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Kampung Luarbatang di utara, dan Jalan Petakbaru dan Jembatanbatu di selatan itu hingga kini masih karut-marut.

Sebagian besar bangunan tampak kumuh tak terurus. Warisan sosial budayanya pun nyaris tenggelam. Continue reading “Sejarah Kota: Menanti Senyum Ratu dari Timur…”

Bahasa »