Scientia, Sapientia, Virtus

(dikirim menjelang Haul Romo Beek, September 2003)
Dami N. Toda
Posted on Juli 6, 2008 by dwipramono

Poro Saderek yang berhaul ke makam Romo Beek di Ungaran,
Doa Stef Baloi Bago dan saya dari Jerman diwakilkan saja nanti ya pada kalian — semoga poro saderek SV yang ke Ungaran juga dikaruniai dari Atas rahmat khusus. Dari jauh haul kalian kami sertai secara ruh hari itu. Generasi saya di Realino tak kenal Romo Beek kecuali melihat “pesona” karakter matanya dilukis (-foto) karya Mas Samsulhadi (?) terpancang di ruang reakreasi Villa I dahulu (entah di mana sekarang dipajang lukisan foto yang memukau itu). Namun Romo-Beek-isme selalu menantang dan menjadikan warna permenungan saya tak tenang, berkabut abu-abu hingga saat ini.

Dari cerita-cerita yang masuk telinga di Realino tentang tokoh Beek ini – dan kesaksian kebersamaan kita hingga kini di Forsino – kita (awam lintas (supra) etnik-agama yang dicita-dan diwujudkan Romo Beek dengan moto “Kebijaksanaan (Sapientia) dan Kebajikan (Virtus)”) mustinya sudah mampu tiba pada kesimpulan: Bahwa cita-cita dan pewujudan nyata tokoh ini mendirikan Kompleks “Asrama Realino” dan “Kashbul” di Jakarta — suatu ide dan bentuk wujudan yang sangat luhur suci dan benar-benar dibutuhkan bangsa/negara RI kita! Adanya “Forsino” kita kini membuktikan “bukan gedung Asrama” yang dimaksudkan Romo Beek tetapi “Gedung Persatuan Ruhani Manusia” Indonesia yang bijaksana dan bajik tak lekang oleh waktu. Kalau “Forsino” ibarat “Tugu” rohani visi pembangunan manusia bangsa Romo Beek — maka sewajarnya haul ke makam Romo Beek memulangkan renungan apa yang kita lakukan terus memahatkan tugu “Sapientia et Virtus” itu ke dalam sejarah bangsa ini. Saya dengar ide Romo Beek (walaupun seorang pastor Yesuit): di Asrama Realino hanya boleh diterima 40% mahasiswa beragama Kristen, 60% harus non-kristen (Islam-Hindu dll.), warga Realino harus terdiri dari bermacam etnik seluruh bangsa, dan warga-warga UGM yang berprestasi studi, aktif dan cerdas — agar siap akhlak menjadi pemimpin bangsa yang “Sapientia et Virtus”. Walaupun lembaga Romo Beek ini di tengah pusat kebudayaan tinggi Jawa, namun salah sebuah pasal “UU Realino” menegaskan: bahasa resmi Realino ialah “Bahasa Indonesia”.

Peraturan/disiplin asrama Realino pun keras (termasuk gerbang asrama sudah tutup jam 20.45 — untuk visi membentuk pemimpin yang tidak berkarakter lemah, santai dan kompromis (maaf diri). Didirikan Romo Beek klub-klub “Akademi” Realino untuk forum melatih berpresentasi ilmiah/ceramah/debat dengan formalitas berpakaian dasi dan tatakrama sidang yang tertib. Walaupun ia rohaniwan Katolik Romo Beek tidak mulai dengan “menjual” label agama atau isyu agama di Realino.

Saya menduga kilas balik Achmad Wahib (FIPA) yang setelah meninggal menjadi terkenal dengan “Catatan Achmad Wahib” dianggap sebagai sumbangan ide pembaru pemikiran Islam di Indonesia sebagai salah satu model resepsi (kilas balik) pribadi warga Realino teladan dan jujur. Sapientia et Virtus. Fasilitas-fasilitas visioner seperti alat-musik orkes klasik, lapangan tenis, basketball, badminton, sepak bola — disiapkan Romo Beek. Luar-dalam fasilitas itu ternyata paling nyata mengukuhkan tali “persaudaraan” kukuh dengan semangat kasih mengenal/menerima satu sama lain.

Bukankah cita dan wadah “Membangun Manusia Pembangun” dikonsentrasikan Romo Beek merupakan sebuah pikiran dan aksi REFORMATOR besar yang sangat visioner? Itulah dasar kepiluan saya yang menjadi memuncak pada waktu menjenguk kembali Realino tahun 1998 sambil membawa serta anak sulung. Melihat fakta yang selama ini hanya mendengar dari jauh berangsur runtuhnya cita-cita Romo Beek. Benar tak sampai hati melangkahi bekas- Realino yang bukan lagi wadah “membangun manusia pembangun” berobor “Sapientia et Virtus’ bagi bangsa (yang supra -etnik-agama-aliran/isme)!

Sewaktu pertama kali diterima tinggal di Realino (1 November 1962) dengan bayaran Rp 870 per bulan saya memang agak kritis, mengapa Asrama Realino hanya membesarkan moto “Sapientia et Virtus”? Setahu saya (karena saya eks-seminaris) moto konvensional terdiri atas tiga kata: “Scientia (Ilmu Pengetahuan), Sapientia (Kebijaksanaan), Virtus (Kebajikan)” — mengapa Realino ‘meninggalkan’ wacana “Scientia”? Diam-diam kemudian saya benarkan kesimpulan dasar pemikiran Romo Beek: Untuk sempurna menjadi manusia makna mutu “Sapientia et Virtus” itulah yang tertinggi — Indonesia tidak membutuhkan label gelar dan rumus formal “Scientia” sebagai nilai terpenting tetapi “Kebijakan dan Kebajikan” seorang Raja Salomon. Hanya manusia bijak dan bajik mampu menghidupi makna “amor et caritas” (cinta-kasih).

Moga-moga sepulang haul dari Ungaran Romo Beek mengirim pesan visioner kita-apakan “Forsino” selanjutnya — hanya untuk menjadi wadah “kongkouw-kongkouw” mengenang runtuhan Realino atau melankoli rembang petang seorang “Growing Old Joe” yang makin mendengar “the gentle voices calling ‘Old Black Joe’?

Salam hangat,
Dami N. Toda

Dijumput dari: http://forsino.wordpress.com/2008/07/06/scientia-sapientia-virtus/