Adakah Idealisme Itu Tumbuh di Hati?

Mengenang ”Puputan Margarana”
Agus Darmita Wirawan
http://www.balipost.co.id/

”Siapa yang mengatakan dirinya paling berjasa di sini, omong kosong. Baru begini saja sudah mengatakan diri paling berjasa. Rumahku sudah dibakar habis oleh NICA, dan keluargaku entah bagaimana sekarang, aku belum merasa diri berjasa sedikit pun. Ini hanya kewajiban, kalau kita ingin mengatakan diri kita berjuang untuk tanah air.” Continue reading “Adakah Idealisme Itu Tumbuh di Hati?”

NU Miring, Sastra Gonjang Ganjing

Sabrank Suparno

Menelusuri kiprah para muda NU sepeninggal tokoh muktabar Abdurrahman Wahid, diam-diam generasi penerusnya aktif melakukan upaya terobosan yang mengarah ke pembangkitan kesadaran kembali, terutama pada wilayah tradisi keNUan atau yang dikenal dengan ‘tradisi santri’. Geliat ini dapat kita amati dari berbagai acara yang berkenaan dengan keNUan dari berbagai sektor kehidupan sosial, politik, kebudayaan, kesenian dan sastra, bahkan soal yang remeh sekali pun perihal ‘guyonan nyentrik ala NUis. Continue reading “NU Miring, Sastra Gonjang Ganjing”

Kamus dan Transliterasi Bahasa Lampung

Kiky Rizkhi Aprillia
Lampung Post, 8 Jan 2011

SEBUAH cita-cita besar disuguhkan Iwan Nurdaya-Djafar di halaman ini dalam esai berjudul Menggagas Kamus Besar Bahasa Lampung (Lampung Post, 31 Desember 2010). Secara komprehensif Iwan membedah satu per satu kamus bahasa Lampung yang (pernah) ada.

Saya hanya ingin menyebut ulang dan sedikit menambahkan beberapa kamus Lampung yang sudah terbit. Berdasarkan penelusuran pustaka, kamus bahasa Lampung yang pertama disusun M. Noeh, Haris Fadilah gl P. Balik Jamon. 1979. Kamus Umum Bahasa Lampung-Indonesia. (Bandar Lampung: Universitas Lampung). Lalu berturut-turut Continue reading “Kamus dan Transliterasi Bahasa Lampung”

“Ada kalanya saya marah begitu keras dan adakalanya saya mendekapnya demikian erat!”

Bincang-bincang dengan Wijang Wharek
Han Gagas
http://pawonsastra.blogspot.com/

Aku menyusuri jalan terjauh dibanding selama ini yang pernah kutempuh. Jalan besar dan panjang dengan berbagai kendaraan lalu lalang di kanan kiri. Tubuhku masih agak sakit namun janji adalah janji, aku meneguhkan diri untuk berlanjut, jadwal yang mundur 1-2 jam malah membuatku lebih leluasa menaiki kendaraan. Melewati stadion Manahan di Kota Solo dan terus melaju hingga resort terbesar di Solo, Lor In, motor berbelok sebentar ke belakang kantor Bulog menjemput esais kita, Bandung Mawardi, dibelakang motor saya ternyata Poetri telah melaju dengan pelan, sendiri. Continue reading ““Ada kalanya saya marah begitu keras dan adakalanya saya mendekapnya demikian erat!””

Bahasa »