Membaca Catatan Aktivis; Membaca Sastra Perlawanan *

Denny Mizhar **

“Hanya ada satu kata: Lawan!”

Penggalan Sajak di atas mengingatkan saya pada sosok Wiji Thukul, seniman progresif yang hingga kini masih menjadi misteri di mana keberadaanya. Sajaknya yang berjudul “Tentang Gerakan” tersebut melegenda. Tidak hanya Thukul tapi ada 12 orang lainnya yang hilang yakni Yani Afrie, Sony, Herman Hendrawan, DediHamdun, Noval Alkatiri, Ismail, Suyat, Petrus Bima Anugrah, Ucok Munandar Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin, dan Abdun Nase (3 Desember 2008, Direktorat Informasi Dan Media). Continue reading “Membaca Catatan Aktivis; Membaca Sastra Perlawanan *”

Sebuah Jendela di Senja Hidup Pram

Farid Gaban, Nurur Rokhmah Bintari, Dewi Rina Cahyani
majalah.tempointeraktif.com

Penampilannya bersahaja- terlalu bersahaja. Namun, ada yang sedikit aneh: dia tak memakai sandal seperti yang selalu dipakainya bertahun-tahun. Tentu saja, selain sebuah mesin ketik yang erat ditentengnya, dalam perjalanannya menuju New York awal April lalu itu. Mesin ketik mengisyaratkan anakronisme, New York adalah paradoks. Dan ada satu pertanyaan menggoda: tidakkah Pramoedya Ananta Toer -seperti tokoh dalam novel fiksi-sains klasik karangan H.G. Wells -merasa terlontar oleh mesin waktu ke dunia yang sama sekali berbeda? Continue reading “Sebuah Jendela di Senja Hidup Pram”

Jangka Itu (Sekadar) Tafsir

Rukardi
suaramerdeka.com

DI tengah-tengah modernitas seperti sekarang, masihkah jangka dijadikan sebagai pedoman manusia dalam beraktivitas? Seberapa jauhkah akurasi yang mampu dia jangkau? Bagaimana metodenya? Apakah bisa dipertanggungjawabkan dengan pendekatan logika?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang mengemuka dalam Sarasehan Rebo Legen Sanggar Seni Paramesthi bertajuk ”Tengara Jaman: Saka Jayabaya, Darmogandhul, Ranggawarsita, Nostradamus, tekan Naisbitt” di joglo Unnes Jl Kelud Utara III Semarang, Rabu (14/12) malam. Continue reading “Jangka Itu (Sekadar) Tafsir”

Hati-hati dan Waspada di ‘Jaman Kaliyuga’ ini

Achmad Soeparno Yanto

Sugih ilmu lan sekti. Ngelmu lan kasekteni iku ora kanggo pribadi, nanging kanggo nulung marang sapada-pada. (Ilmu dan kesaktian itu bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk menolong sesama)

Prabu Jayabaya, merupakan tokoh penting dalam dunia kejawen. Beliau merupakan seorang raja yang masyhur dari kerajaan Kediri (1135 – 1157 M). Prabu Jayabaya merupakan raja yang bijaksana dan memiliki pandangan yang futuristik. Kewaskitaannya, mewujud dalam “ayat-ayat” spiritual dan dipercaya akan benar-benar terjadi. Continue reading “Hati-hati dan Waspada di ‘Jaman Kaliyuga’ ini”

Bahasa ยป