Bali dan Wuzu: Kembali ke Dasar

I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

SUATU kali Lingyuan, pengikut Zen, menerima surat dari Wuzu, sang guru Zen. Isi surat bertajuk “Kembali ke Dasar” itu amat pendek: “Ladang telah hancur oleh kemarau, tapi aku tak cemas. Aku hanya cemas oleh kenyataan bahwa siswa-siswa Zen tidak memiliki mata. Musim panas ini terdapat lebih dari seratus, tapi tidak satu pun di antara mereka mengerti cerita perihal anjing tak memiliki hakikat pencerahan. Inilah sesuatu yang pantas dicemaskan.” Continue reading “Bali dan Wuzu: Kembali ke Dasar”

Kajian Sastra di Indonesia Lebih Humanistis

Krisman Purwoko
http://www.republika.co.id/

Profesor dari University of the Arts London, mengakui kajian dan teori sastra yang diajarkan di universitas di Indonesia melalui pendekatan humanistis sangat mendalam ketimbang yang ditemuinya di universitas di Inggris.

Hal ini diakui Prof Ray M Lucas yang menjadi pembimbing one-to-one-class untuk kandidat doktor Mutmainnah Mustofa yang tengah melakukan kajian buku ajarnya bersama Prof Ray Lucas yang berjudul “How to Analyze Poet, Poetry and Drama.” Continue reading “Kajian Sastra di Indonesia Lebih Humanistis”

Dari Sebuah Manifesto Gambar

Hendro Wiyanto *
majalah.tempointeraktif.com

Ada masanya gambar dimaknai sebatas hasil pekerjaan keterampilan “menggambar”, yakni susunan rupa, gambaran bersahaja dengan isi atau maksud jelas, paripurna, sebagaimana gambar anak-anak atau ilustrasi cerita. Arkian, para “ahli gambar” memberi bobot “seni” pada istilah gambar, menguarkan terbentuknya Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) 70 tahun silam. Namun, sejatinya, (seni) gambar itu sendiri cenderung luput dari perhatian, terdesak oleh gencarnya perhatian pada ragam utama seni rupa: lukisan. Continue reading “Dari Sebuah Manifesto Gambar”

Politik di Balik Ungkapan Baru

Maman S. Mahayana
Kompas, 13 April 2010

Bahasa mencerminkan bangsa! Adagium ini sesungguhnya menyimpan sejarah panjang tentang hubungan bahasa dan masyarakat. Melalui bahasa, dapat ditemukan naluri dan sikap budaya sebuah bangsa. Bahasa tak sekadar menjadi alat berkomunikasi, tetapi juga sebagai ekspresi kultural, bahkan juga ideologi. Dengan begitu, belajar bahasa dapat pula digunakan untuk memahami sikap budaya dan ideologi bangsa itu. Continue reading “Politik di Balik Ungkapan Baru”

Sumpah Pemuda Meregang Nyawa

Anggrahini KD
suaramerdeka.com

“BERILAH aku sepuluh pemuda. Aku akan menggoncangkan dunia imperialisme-kapitalisme,” kata Bung Karno. Itu dulu. Semacam nostalgia ketika para pemuda dideskripsikan sebagai pasukan yang tangguh, tahan banting, dan mencintai tanah airnya.

Boleh jadi Bung Karno berandai-andai, dengan sepuluh pemuda saja, beliau akan menggoncangkan jagad dunia dengan militansi terhadap Bumi Pertiwi, dan mengobrak-abrik mancanegara dengan torehan prestasi hingga bangsa kita berhasil lahir sebagai mercusuar sejati. Continue reading “Sumpah Pemuda Meregang Nyawa”

Bahasa ยป