Dari Sebuah Manifesto Gambar

Hendro Wiyanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ada masanya gambar dimaknai sebatas hasil pekerjaan keterampilan “menggambar”, yakni susunan rupa, gambaran bersahaja dengan isi atau maksud jelas, paripurna, sebagaimana gambar anak-anak atau ilustrasi cerita. Arkian, para “ahli gambar” memberi bobot “seni” pada istilah gambar, menguarkan terbentuknya Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) 70 tahun silam. Namun, sejatinya, (seni) gambar itu sendiri cenderung luput dari perhatian, terdesak oleh gencarnya perhatian pada ragam utama seni rupa: lukisan.

Almarhum kritikus Sanento Yuliman memberi wawasan tentang keleluasaan makna gambar di masyarakat kita. Acuan itulah yang digunakan oleh kurator Enin Supriyanto untuk menetapkan kurasi pameran S. Teddy D., Pictura, di Nadi Gallery, Jakarta, sepanjang 14?26 Maret 2007. Teddy, 37 tahun, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, adalah perupa kontemporer yang tekun menjelajahi ragam gambar atau “gambar sari” pada karyanya.

“Gambar” pada pameran ini dimaksudkan bukan terjemahan dari kata drawing yang lazim digunakan dalam seni rupa di Barat, sesuatu yang berbeda dengan painting (lukisan). Luasnya penggunaan kata gambar yang berlaku pada kebiasaan kita dicakup oleh picture, tulis Enin. Termaktub dalam batasan picture ini, di antaranya adalah “lukisan” (painting) dan “gambar” (drawing).

Tentunya, upaya ini masih menyisakan pekerjaan: bagaimana memberi makna drawing dalam bahasa kita? Bukankah definisi picture mewadahi seraya tak membeda-bedakan kekhasan medium, alat, dan sifat suatu hasil pekerjaan? Tidakkah definisi yang terlampau luas justru mengabaikan kekhasan?

Pada pameran ini tersaji sejumlah monoprint (cetakan gambar melalui lembaran pelat), gambar dwimatra (ha-sil goresan pastel, tinta, arang, akrilik di atas kertas, dan torehan alat pada dasar cat di kanvas), dan obyek trimatra (berbahan tembaga, aluminium, resin, sampai kayu). Itulah “ragam gambar” yang ditekuni Teddy, hasil pekerjaannya sepanjang 2004?2007. Kredonya: “Lukisan adalah gambar yang disederhanakan atau dirumitkan.”

Karya di atas kertas umumnya tampak menyederhanakan anggapan kita perihal kelengkapan gambar. Teddy, misalnya, menyisihkan arsir, andalan para penggambar seperti Satyagraha, Sekar Jatiningrum, sampai kelompok Taring Padi. Arsir menghadirkan bayangan, unsur gelap-terang pada gambar, seraya memberi gagasan perihal latar dan kehadiran, dan tentunya unsur cerita.

Pameran ini menegaskan cakrawala gambar yang luas pada keyakinan Teddy. Ia menampilkan, misalnya, ragam yang kita kenal sebagai gambar sebuah model. Inilah Penyair Fahmi Fakih Menekur, Tidur # 1, dan Tidur # 2 (2006). Tiga seri gambar arang ini justru menunjukkan Teddy tak betah pada asas menggambar model. Ia selalu pergi ke plastisitas atau fragmen simbol.

Simbol adalah gagasan atau pikiran yang dinyatakan lewat sesuatu yang tak hadir pada obyeknya sendiri. Lihatlah, misalnya, seri gambarnya yang bagus, jenaka, dan kritis, Art Paper Back (akrilik dan cat minyak di kanvas, 2004). Teddy mungkin menyindir para perupa yang sibuk membolak-balik buku tebal seni rupa, tapi cuma menyimak sampulnya. Torehannya bernas, menguak lapisan cat, seakan ingin menggali “gambar” yang “tertanam” pada bidang warna (lukisan).

Sudah lama ia tergugah, bahkan terobsesi, oleh muka dan kepala orang. Citra raut muka bonyok ada pada My Grave (Labia Minora, 2006), The Soldier (after Rivera, 2006), dan In Bloom (2007). Karya-karya ini berukuran kecil, 60 x 40 cm, tapi itulah caranya menyuguhkan gambar sebagai fragmen pikiran. “Isi” atau maksud gambarnya tidak tumpah-ruah atau menyodor-nyodorkan diri kepada kita, melainkan menyeruak ke dalam pikiran.

Kesamaran simbol itu menggugah isi. Tidakkah kita tergoda untuk membayangkan sosok tambun yang kedua kakinya digantikan jemari tangan pada serangkaian obyek dan monoprint-nya (Mob, 2007) adalah Diego Rivera, simbol pekerja sosialis? Ada juga gambar St. Sebastian yang berubah menjadi sebatang pohon, rerantingnya tertancap pada sekujur tubuh, mukanya burung, seakan condong menahan hembusan badai.

Pada Sub Culture, (2006), citra kepala bulat memenuhi cecabang pohon kering. Obsesinya pada kepala muncul pada Smash your Own Head, Hair Style, Happy Victim (after Agung Kurniawan)”, semuanya 2006. Tanda kepala Teddy menggugah asosiasi pada citra homo sapiens atau keintelektualan seniman dalam memburu imaji-imaji yang cerdas. Dengan sangat plastis ia membuat seri kepala yang terpiuh, seakan pekerjaan komputer (Stretch, 6 panel, 20007). Untuk menikmati ketaksaan antara sifat gambar dan lukisan, dengan pokok dramatik yang kuat, kita harus menengok Miss you God (2007), yang menggambarkan sosok perempuan berdarah, berkaki buntung sebelah, sementara seorang bocah memeluk erat-erat potongan kaki yang lain.

Dalam pameran ini ada juga jejak drama kejiwaan Ugo Untoro. Obyek serupa kaktus jari telunjuk yang molor dan sapuan-sapuan kecil yang menyarankan gerimis adalah puisi psikedelik Ugo.

Jejak visual para penggambar kontemporer yang cerdas dari Yogya sebenarnya mengingatkan pada fragmenfragmen gambar Francesco Clemente. Pernah, buku Clemente begitu digemari di kalangan mereka. Bahkan puluhan citra diri berambut keriting Teddy dengan tatapan melankolis sering kali mengingatkan kita akan gaya Clemente.

Betapapun, manifesto gambar Teddy untuk menengahi ketegangan antara lukisan dan gambar itu otentik. Seniman muda ini memiliki modal besar untuk membuat lompatan pada karyanya setelah melahirkan kredo.

Hendro Wiyanto, pengamat seni rupa