‘The Mute’s Soliloquy’: Kebisuan Pramoedya Menggapai Dunia

Leila S. Chudori, Dewi Rina Cahyani
http://majalah.tempointeraktif.com/

Pramoedya menggetarkan dunia melalui kata-kata. Meski ia terkurung di sebuah pulau terpencil, dari tangannya dan dari nuraninya telah mengalir kata-kata yang memiliki kekuatan yang menukik ke dalam kalbu. Ia menulis dengan bahasa yang sederhana, tanpa pretensi, tanpa pembaruan dalam khazanah kesusatraan Indonesia, tetapi ia menggunakan riset dan data sejarah yang luar biasa mengagumkan. Kekayaannya lebih terletak pada ide dan bukan pada simbol atau imaji. Dia menjadi legenda karena produktivitasnya dan juga karena kehidupannya selama 14 tahun di Pulau Buru. Continue reading “‘The Mute’s Soliloquy’: Kebisuan Pramoedya Menggapai Dunia”

Tinggalkan Bumi Manusia

Gunawan Budi Susanto
suaramerdeka.com, 01 Mei 2006

INNA lillahi wa inna ilaihi rajiun. Pramoedya Ananta Toer tak pernah menyerah di bawah kepongahan dan kebebalan (kekuasaan) manusia. Namun kini, mau tak mau, dia harus menyerah di bawah kuasa ilahi.

Ya, Minggu (30/4) kemarin pukul 08.30, dia mengembuskan napas terakhir dalam rengkuhan keluarga tercinta. Kini Pram telah pergi, meninggalkan bumi manusia. Continue reading “Tinggalkan Bumi Manusia”

Dan Intuisi Membisikkan Peluang sang Legendaris

Selamat Jalan Pramoedya Ananta Toer…

IBM Dharma Palguna
balipost.co.id

SAYA seorang mahasiswa yang sedang nenulis sebuah skripsi untuk menamatkan kuliah di Fakultas Sastra. Pramoedya Ananta Toer adalah nama yang langsung saya pilih tanpa keraguan sedikit pun. Setelah itu barulah memilih salah satu karyanya untuk dianalisis. Pilihan jatuh pada roman Perburuan. Ketika itu tahun 1984. Continue reading “Dan Intuisi Membisikkan Peluang sang Legendaris”

Pramoedya Ananta Toer Juga Manusia

Mila Novita
sinarharapan.co.id

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Begitu Pramoedya Ananta Toer (atau akrab disapa Pram) berpesan dalam Rumah Kaca, salah satu buku dari tetralogi roman Pulau Buru yang diwariskannya untuk Indonesia.

Tulisan Pram memang membuat ia tidak hilang dari sejarah, meskipun pada 30 April tiga tahun lalu jasadnya dimakamkan di pemakaman Karet Bivak, Jakarta. Ia sastrawan terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Ia juga satu-satunya sastrawan Indonesia yang berulang kali dinominasikan sebagai peraih penghargaan Nobel, meski tidak pernah “sukses” membawa penghargaan itu pulang ke negerinya. Continue reading “Pramoedya Ananta Toer Juga Manusia”

Kritik Sosial “Mencari Jejak Gunung”

Gendhotwukir *
http://citizennews.suaramerdeka.com/

Festival Lima Gunung (FLG) VII baru saja digelar beberapa waktu lalu di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Magelang, dengan mengusung tema “Mencari Jejak Gunung”.

Festival Lima Gunung yang setiap tahunnya menghadirkan berbagai seniman dusun Kabupaten Magelang, tokoh nasional, maupun komunitas dari luar kota, merupakan ajang untuk saling bertemu, serta belajar memahami kondisi masyarakat kita yang pluralistik dalam proses budayanya yang tidak berhenti sebagai kata benda. Continue reading “Kritik Sosial “Mencari Jejak Gunung””

Bahasa ยป