Kritik Sosial “Mencari Jejak Gunung”

Gendhotwukir *
http://citizennews.suaramerdeka.com/

Festival Lima Gunung (FLG) VII baru saja digelar beberapa waktu lalu di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Magelang, dengan mengusung tema “Mencari Jejak Gunung”.

Festival Lima Gunung yang setiap tahunnya menghadirkan berbagai seniman dusun Kabupaten Magelang, tokoh nasional, maupun komunitas dari luar kota, merupakan ajang untuk saling bertemu, serta belajar memahami kondisi masyarakat kita yang pluralistik dalam proses budayanya yang tidak berhenti sebagai kata benda.

Berbagai karya seni tradisional, kontemporer, maupun kolaborasi karya yang dipentaskan dalam festival, antara lain Reog, Ngargotontro (Merapi), Topeng Ireng Gimbal (Tidar), Sorang, Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang UGM (Yogyakarta), Kuda Lumping dan Warok Bocah, keduanya dari Dusun Dayugo (Merbabu).

Selanjutnya Soreng, Gejayan (Merbabu), Bekso Wanoro Argo, Krandegan (Sumbing), Topeng Ireng, Borobudur (Menoreh), Grasak, Petung (Merbabu), Topeng Saujana dan Topeng Kencono Putri, Keron (Merbabu).

Selain itu, Truntung Topeng Gunung, Warangan (Merbabu), Teater Ketoprak dengan lakon “Jumenengan Hamengku Buwono I, Mantran (Andong), musik etnik “Gelung Gunung”, Petung (Merbabu), dan Wayang Orang bertajuk “Dumadining Kraton Endroprastho”, Tutup Ngisor (Merapi). Para seniman petani lima gunung juga menggelar “Kirab Lima Gunung” menyusuri jalan-jalan di kawasan Desa Tutup Ngisor tepatnya dari Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor yang dipimpin oleh Sitras Anjilin menuju Dusun Sumber dan pemutaran film “Teak Leave at The Temple”.

Spiritualitas Gunung dan Kritik Sosial

Festival Lima Gunung yang tahun ini memasuki tahun ketujuh secara terang-terangan mendasarkan gerakannya dengan telaah fenomena sosial. Dengan tema “Mencari Jejak Gunung” Komunitas Lima Gunung menawarkan berbagai kearifan dusun gunung yang bermakna untuk membangun sinergi kemanusiaan yang alamiah.

Gunung yang merupakan sumber energi abadi, senantiasa mencerminkan energi kehidupan yang ‘keras’ namun ramah pada lingkungan. Dalam spritualitas orang-orang gunung terpancar energi kreativitas yang melahirkan berbagai macam bentuk seni berkarakter entah kuat atau lemah dan standar atau unik, serta cukup menjunjung tinggi solidaritas sampai soliditas sosial.

Komunitas Lima Gunung sebagai fenomena sosial dalam koridor teori konflik yang bergerak pada ranah budaya mencoba mencermati pilar-pilar keprihatinan sosial seperti kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan dan kondisi sosial lainnya yang memprihatinkan di Indonesia dewasa ini sebagai akibat konkret rapuhya sistem politik dan kebijakan pembangunan yang terlalu berpihak kepada kesejahteraan sosial masyarakat tertentu. Dengan Festival kali ini Komunitas Lima Gunung sepertinya secara tidak langsung mau mengajak para elit politik untuk tidak memandang sebelah mata orang-orang gunung. Mereka hendak mengajak para elit politik untuk sejenak menoleh dan belajar dari spritualitas gunung tentang pentingnya energi solidaritas dan soliditas sosial yang tinggi.

Komunitas Lima Gunung juga mengecam secara halus lewat seni kebijakan yang kurang berpihak pada rakyat kecil oleh karena penyakit kronis bangsa ini yaitu karena ketegangan ideologi politik, kecurigaan antar ras, dominasi kesukuan dan hegemoni kebudayaan. Polah tingkah para pemegang kekuasaan yang tidak merakyat mengakibatkan ketidakpercayaan masyarakat pedusunan, sehingga berakibat pada gerakan pengambilan keputusan sendiri-sendiri dengan mengabaikan kebijakan perangkat dusun.

Tekanan demi tekanan dialami masyarakat pedusunan, termasuk desakan pada roda penggerak utama keberlangsungan kehidupan yaitu desakan faktor ekonomi,. Keterpojokan karena desakan ekonomi mempengaruhi dan memaksa warga dusun untuk mengambil jalan pintas, contoh konkret, sumber mata air yang semestinya dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, kemudian dikomersilkan karena kepentingan kelompok tertentu, sehingga menimbulkan pertikaian yang berkepanjangan. Masyarakat dibayangi oleh mentalitas egoistis dengan mengabaikan kepentingan bersama. Konflik kepentingan yang didasari oleh kerakusan diri menjadi pemandangan yang bukan tidak biasa lagi.

Fenomena Sosial

Sarana penguak rahasia masyarakat dewasa ini tidak hanya berkutat pada term “orde” dan peranan sosial”, tetapi juga “konflik” . Konflik menurut Lewis A. Coser adalah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan berkenaan dengan status, kuasa dan sumber-sumber kekayaan yang persediaannya tidak mencukupi, di mana pihak-pihak yang sedang berselisih tidak hanya bermaksud untuk memperoleh barang-barang yang diinginkan, melainkan juga memojokkan, merugikan, atau menghancurkan lawan mereka.

Konflik adalah unsur interaksi yang penting dan sama sekali tidak boleh dikata bahwa konflik selalu tidak baik atau memecahbelah atau merusak. Konflik justru dapat menyumbangkan banyak kepada kelestarian kelompok dan mempererat hubungan antara anggotanya.

Dalam pers release-nya Komunitas Lima Gunung mencoba menelaah fenomena sosial dewasa ini, erat berkaitan dengan fenomena maraknya pemisahan diri atau secara bersama-sama orang yang sepaham dari sebuah kelopok untuk membentuk kelompok yang baru, entah eksis atau tidak, namun hal itu merupakan cermin ketidakpuasan terhadap kebijakan yang ada dan ditambah lagi keinginan untuk dihargai di dalam sebuah kelompok. Sebenarnya ada satu pertanyaan mendasar yang tidak perlu diajukan kepada pihak di luar Komunitas Lima Gunung, tetapi kepada Komunitas Lima Gunung sendiri. Pertanyaannya adalah sejauhmana bisa dimengerti pula bahwa Komunitas Lima Gunung sebenarnya berada dan sedang terayun-ayun dalam koridor fenomena sosial ini.

Tokoh sosiologi Ralf Dahrendorf menempatkan suatu kerangka tajam yang disebut dengan teori konflik. Ia berkeyakinan bahwa tiap-tiap masyarakat di segala bidangnya mengalami proses-proses perubahan. Keyakinan ini juga didasarkan pada dalilnya yang menguak rahasia masyarakat bahwa tiap-tiap masyarakat memperlihatkan perbantahan (dissensus) dan konflik di segala bidangnya. Tidak semua sepaham dan sesuara. Tidak semua orang sama setuju. Selalu ada pihak yang pro dan yang kontra. Kekuasaan dan kepentingan menjadi pemicu untama munculnya konflik.

Uniknya dalam spriritualitas gunung ditemukan semangat terbuka terhadap perbedaan. Selain ajang belajar untuk memanajemen waktu, para pelaku Festival Lima Gunung juga belajar untuk menerima perbedaan sebagai realitas. Keberagaman realitas tidak memunculkan arogansi kelompoknya sendiri, tetapi memunculkan semangat untuk saling terbuka dan belajar dari kelebihan dan kekurangan kelompok lain.

“Kalau para seniman berkumpul dan mementaskan karya mereka, hal itu bukan karena uang, tetapi kebutuhan untuk bertemu, memanfaatkan media belajar bersama dan mengolah naluri berkesenian, ” kata Riyadi selaku ketua panitia FLG VII yang juga pimpinan komunitas seniman petani Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, di Lereng Merbabu.

*) Jurnalis dan penyair dari Komunitas Merapi. Penulis pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch-Theologische Hochschule Sankt Augustin, Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *