Pengantar PuJa: Wanita Yang Kencing Di Semak :)

(Kumpulan Esay & Puisi H.U. Mardiluhung, terbitan PUstaka puJAngga, Cetakan ke II, 2006)
Nurel Javissyarqi *

Ketika realitas masuk dalam angan ke depan (harapan), lalu terjadilah pergumulan, lantas kabut mitos menyempurnakan gagasan awal, saat bergerak maju terlahirlah puisi. Puisi, salah satu cabang ilmu pengetahuan, sebab ia memiliki logika, meski tersendiri. Ia lebih sempurna daripada ilmu lain, lantaran di kedalamannya bersimpan logika rasa, itulah sebagian jalan terciptanya puisi, meski juga bisa berbalik arah. Continue reading “Pengantar PuJa: Wanita Yang Kencing Di Semak :)”

Seabad Bung Hatta

Sabam Siagian
http://www.balipost.co.id/

Amat mencolok pada periode kepemimpinan Habibie betapa uang menjadi instrumen politik yang aktif. Ternyata ”mumpung-isme” sebagai penyakit sosial terus menjalar ke tahap pemerintahan Abdurrahman Wahid. Mungkin caranya tidak secanggih seperti yang diterapkan pada tahap kepresidenan Habibie, tapi dalil ”memanfaatkan kesempatan” masih tetap berlaku. Skarang ini, pada tahap kepemimpinan Megawati – Hamzah Haz sulit dikatakan bahwa ”mumpungisme” menciut. Sebaliknya, tambah dekat kita ke pemilu 2004 akan tambah ganas nafsu mengumpulkan dana. Continue reading “Seabad Bung Hatta”

Komunitas Pawon Berupaya Memasyarakatkan Sastra

Rani Setianingrum

Home

Apakah yang akan terpikirkan di benak Anda jika mendengar kata pawon? Dalam bahasa Jawa, pawon memiliki arti dapur. Dan umumnya pawon dimiliki warga yang tinggal di pedesaan. Namun, kebanyakan rumah zaman sekarang jarang yang memiliki pawon karena rumah sekarang sudah ngetren bergaya minimalis.

Namun, Pawon di sini memang memiliki fungsi yang sama dengan pawon pada rumah zaman dahulu, yakni untuk mengolah ataupun menghasilkan sesuatu. ?Kami memberikan nama komunitas sastra Pawon karena memang saya melihat fungsi pawon itu sendiri,? ungkap Bandung Mawardi, salah satu pendiri Pawon kepada Joglosemar ketika ditemui TBS, Kamis (29/4). Continue reading “Komunitas Pawon Berupaya Memasyarakatkan Sastra”

Semsar Siahaan Kembali dari Pengasingan

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Suatu siang, bertahun-tahun lalu, sebuah mural karya Semsar Siahaan di tembok Teater Arena, Taman Ismail Marzuki, diruntuhkan. Lukisan dinding yang dibuat tanpa izin ini hilang bersama bangunan fisik Teater.

Semsar Siahaan adalah salah satu nama seniman yang selalu berontak atas tindakan represif penguasa di masa itu. Ia mengekspresikan sikapnya itu lewat karya-karya poster, ilustrasi, dan lukisan-lukisannya. Karya mural di tembok Teater Arena pada masa itu pun melukiskan kejengahannya pada militer yang berkuasa. Ia menggambar seorang aparat?tampak belakang?lengkap dengan sepatu lars dan seragam loreng. Continue reading “Semsar Siahaan Kembali dari Pengasingan”

Bahasa ยป